Senin, 13 Februari 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TRAUMA KEPALA


Dosen: Sugeng Jitowijono,S.Kep.Ns








Disusun Oleh
Nama :
Nim : 04.08.1945
Kelas : B / KP VI



PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
STIKES SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA
2010



KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmatNya penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Asuhan Keperawtan Pada Pasien Trauma Kepala” tepat pada waktunya.
Dengan selesainya makalah ini disusun, penulis ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada yang terhormat :
1. Ibu / Bapak Pembimbing selaku dosen mata kuliah KMB II
2. Semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Walaupun makalah ini telah selesai, namun karena keterbatasan kemampuan dan literature yang penulis miliki, sehingga makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga besar harapan penulis untuk menerima saran dan kritik yang bersifat konstruktif.
Akhirnya penulis ucapkan selamat membaca semoga makalah ini ada manfaatnya bagi pembaca pada umumnya dan penulis khusunya, terima kasih.



Yogyakarta,26 Maret 2011



Penulis











BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Indonesia, sebagai Negara berkembang ikut merasakan kemajuan teknologi, diantaranya bidang transportasi. Dengan majunya transportasi, mobilitas penduduk pun ikut meningkat. Namun akibat kemajuan ini, juga dapat berdampak negatif yaitu semakin tingginya aneka kecelakaan yang menyebabkan timbulnya trauma kepala.
Akibat trauma kepala bagi pasien dan keluarga sangat mempengaruhi perubahan fisik maupun psikologis. Untuk itu perlu penanganan yang serius dalam memberikan Asuhan Keperawatan. Peran perawat memegang peranan penting terutama dalam pencegahan komplikasi.
Dalam memberikan pelayanan-pelayanan, keperawatan sebagai sub sistem pelayanan kesehatan bekerja sama dengan pelayanan medis yaitu dokter. Dan untuk mencapai tujuan bersama yaitu untuk memenuhi kebutuhan pasien, perlu adanya peran kolaborasi antara perawat dan dokter. Perawat dalam bekerja sama engan dokter mempunyai peran dependen, independen, dan interdependen, serta kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya (analisis, gizi, dan lain-lain).

B.Rumusan masalah
Ø Apakah pengertian dari Trauma Kepala ?
Ø Bagaimanakah patofisiologi dari Trauma Kepala tersebut?
Ø Diagnosa keperawatan apa sajakah yang muncul dari masalah Trauma kepala tersebut?
Ø Bagaimanakah intervensi dari diagnosa-diagnosa yang muncul tersebut?
Ø Bagaimanakah implementasi dan evaluasi dr diagnose keperawatan tersebut?







BAB II
PEMBAHASAN

A. Dasar Teori
1. Pengertian
Tengkorak sebagai pelindung jaringan otak mempunyai daya elastisitas untuk mengatasi trauma bila dipukul atau terbentur benda tumpul. Namun pada tempat benturan, beberapa mili detik akan terjadi depresi maksimal diikuri asilasi. Trauma pada kepala dapat menyebabkan fraktur pada tengkorak dan trauma jaringan, edema otak, perdarahan, disusun derajat yang bervariasi, tergantung pada luas daerah trauma.

2. Patofisiologi
Otak dapat ebrfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan di dalam sel-sel sara hamper seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan baker metabolisme otak, tidak boleh kurang dari 20 mg % karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bla kadar glukosa plasma turun sampai 70% akan terjadi gejala pemenuhan disfungsi selebral.
Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolic anaerob, yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusia berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini menyebabkan timbulnya metabolic asidosis.
Dlam keadaan normal aliran darah selebral (CBF) adalah 50-60 ml / menit / 100 gr jaringan otak, yang merupakan 15% dari curah jantung (CD).

- Faktor Kardiovaskuler
Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung mencakup aktivitas antipikal minkardial, perubahan tekanan vaskuler dan edema paru.
- Faktor Respiratori
Adanya edema paru pada trauma kepala dan vasokontriksi paru menyebabkan hiperpnoc dan bronkokonstriksi.
- Faktor Gastrointestinal
Trauma kepala juga mempengaruhi system Gastrointestinal. Setelah trauma kepala terdapat respon tubuh dengan rangsangan aktivitas hipotalamus dan stimulus vagal.
- Faktor Psikologis
Selain dampak masalah yang mempengaruhi fisik pasien, trauma kepala pada pasien adalah suatu pengalaman yang menakutkan. Gejala sisa yang timbul pasca trauma akan mempengaruhi pasien.

B. TINJAUAN KASUS
  1. ANALISA DATA
NO
DATA SUBYEKTIF
DATA OBYEKTIF
KESIMPULAN
1


2.




3.
Pasien mengatakan asupan haluaran tidak seimbang
Pasien mengatakan ada
Pus pada daerah kulit yang rusak


Pasien mengatakan tidak dapat istirahat denagn tenang
Turgor kulit pasien tidak baik

Luka pasien terdapat tanda infeksi seperti rubor,dolor, kalor, tumor dan fumgsio lesia
Pasien tidak tenang dan gelisah
Kekurangan volume cairan dan elektrolit
Potensial terjadinya infeksi.


Gangguan rasa nyaman













1. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sehubungan dengan penurunan produksi anti diuretic hormone (ADH) akibat terfiksasinya hipotalamus.
2. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan masuknya kuman melalui jaringan atau kontinuitas yang rusak
3. Gangguan rasa myaman berhubungan dengan kerusakan jaringan otak dan perdarahan otak

  1. INTERVENSI
RENCANA KEPERAWATAN
PADA PASIEN TRAUMA KEPALA
Tanggal
Diagosa Keprerawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
TT
25-03-2011
Pk 12.00































25-03-2011
Pk 12.00


































25-03-2011Pk 12.00

- Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan produksi anti diuretic hormone (ADH) akibat terfiksasinya hipotalamus






















- Potensi terjadinya infeksi sehubungan dengan masuknya kuman melalui jaringan atau kontinuitas yang rusak





























- Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan kerusakan jaringan otak an pendarahan otak
- Setelah dilakukan askip selama 2x24 jam diharapkan cairan elektrolit tubuh seimbang dan kriteria hasil
- Asupan-haluaran seimbang yaitu asupan cairan selama 24 jam 1-2 liter dan haluaran urin 1-2 cc/ kg BB/jam
- Turgor kulit bik
- Nilai elektrolit tubuh normal


















- Setelah dilakukan askep selama 2x24 jam diharapkan tidak terjadi infeksi baru dengan kriteria hasil:
- Tidak terdapatnya tanda infeksi seperti rubor, dolor, kalor, tumor dan fungsioksa
- Tidak ada pus pada daerah kulit yang rusak























- Setelah diberi askep selama 2x24 jam diharapkan kebutuhan rasa nyaman terpenuhi dengan kriteria hasil:
- Pasien tenang, tidak gelisah,
- Nyeri kepala pusing dan vertigo hilang
- Pasien dapt istirahat dengan tenang
- berikan cairan setiap hari tidak boleh lebih dari 2000 cc



- pasang dower klateter dan mopnitornya warna urin, bau urin dan aliran urin







- Kolaborasi dengan tim analisis untuk pemeriksaan kadar elektrolit tubuh






- Kakukan cuci tangan dan sesudah melakukan tindakan perawatan secara aseptic dan antiseptic
- kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat antibiotic






- Kolaborasi dengan tim analisis untuk pemeriksaan kadar lekosit, liquor dari hidung, telinga dan urin serta kultur resistensi








- Ajarkan teknih relaksasi sepertio latihan nafas dalam dan relaksasi otot
















- Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat analetik

- Berguna untuk menghindari peningkatan cairan diruang ekstra seluler yang dapat menambah edema otak
- Dapat membantu kelancaran pengeluaran urin sehingga tidak terjadi urin statis. Monitor kualitass dan kuantitas urin untuk mencegah komplikasi
- Pada trauma kepala dengan pemakaianmonitol dan obat-obatan diuretic dapat mengalami ketidak seimbangan elektrolit hiponatremia

- Untuk mencegah infeksi nasokomial






- Antibiotic berguna untuk membunuh bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh sehingga infeksi dapat dicegah
- Kadar leukosit darah dan urin adalah indikator dalam menentukan infeksi. Liquar dari mulut dan hidung diperiksa untuk menentukan asal cairan dan kultur resistensi untuk menentukan jenis kuman dan terapi yang akan digunakan
- Latihan nafas dalam relaksasi otot dapat mengurangi ketegangan saraf sehingga pasien merasa lebih rileks dan dapat mengurangi rasa nyeri kepala, pusing dan latihan vertigo latihan nafas dalam dapat membantu pemasukan oksigen lebih banyak, terutama untuk oksigenasi otak
- Obat analgetik untuk meningkatkan ambang rasa nyeri, pusing yang dapat mengurangi rasa nyeri




C.PELAKSANAAN / IMPLEMENTASI

TINDAKAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN TRAUMA KEPALA
Tanggal
No. DX.
Tindakan
Respon
TT
25-03-2011
Pk. 13.00

Pk 13.30



Pk 14.15


26-03-2011
Pk 08.00



Pk 09.00




27-03-2011






Pk 09.30




Pk 11.00
DX I


DX II



DX III



DX I



DX II




DX I






DX II




DX II
- Memberikan cairan setiap hati tidak boleh lebih dari 2.000 cc

- Melakukan pencucian tangn dan sesudah melakukan tindakan perawatan secara aseptic dan antiseptic
- Mengajrkan latihan teknik relaksasi sseperti latihan nafas dalam dan relaksasi otot

- Memasang dower kateter dan monitor warna urin, bau urin dan aliran urin.

- Mnegkolaborasikan dengan tim medis dalam pemberian obat antibiotic


- Mengkolaborasikan daerah tim analis untuk melakukan pemeriksaan kadar elektrolit tubuh



- Mengkolaborasikan dengantim analis untuk pemeriksaan kadar leukosit, liquar dari hidung, telinga dan urin serta kultur resistensi
- Mengkolaborasikan dengan tim medis dalam pemberian obat analgetik.
- Pasien mengatakan asupan haluaran tidak seimbang
- Pasien mengatkan adany PUS pad daerah kulit yang rusak
- Pasien mengatakan tidak dapat istirahat dengan tenang

- Pasien mengatakan turgor kulit baik dan nilai elektrolit normal.
- Pasien mengatakan terdapatnya tanda infeksi seperti rubor, dolor, kalor, tumor dan Fungsinlesa.
- Pasien mengatakan asupan haluaran seimbang yaitu asupan cairan 24 jam1-2 liter dan haluaran urin 1-2 cc/ KG BB/ jam
- Pasien mengatakan PUS pada daerah kulit yang rusak tidak ada.

- Pasie mengatakan dapat istirahat dengan tenang, tidak gelisah, nyeri kepala, pusing dan vertigo hilang.




D.EVALUASI

CATATAN PERKEMBANGAN PADA

PASIEN TRAUMA KEPALA
TANGGAL
DX Keperawatan
Evaluasi
27-03-2011











27-03-2011










27-03-2011
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan produksi anti diuretic









Potensial terjadinya infeksi berhubungan denganmasuknya kuman melalui jaringan atau kontinuitas yang rusak







Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan kerusakan jaringan otak dan perdarahan otak
S : pasien mengatakan asupan haluaran seimbang yaitu asupan cairan selam 24 jam 1-2 liter dan haluaran urin 1-2 cc/KG BB/jam


O : Turgor kulit pasien baik
A : masalah Teratasi
P : -

S : Pasien mengatakan tidak ada PUS pada daerah kulit yang rusak


O : Tidak terdapatnya tanda infeksi seperti rubor, dolor, kalor, tumor dan fungisiolesa
A : masalah teratasi
P : -
S : pasien mengatakan dapat istirahat dengan tenang
O : pasien tenang dan tidak gelisah
A : masalah teratasi
P : -


BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Tengkorak sebagai pelindung jaringan otak mempunyai daya elastisistas untuk membatasi trauma kepala bila terbentur benda tumpul
2. Pada pasien Ni Wayan Nastri setelah dilakukan tindakan kepreawatan selam 2x24 jam pasien mengatakan tidak trauma kepala lagi, semua masalah pasien dapat teratasi

DAFTAR PUSTKA


1. Pahrid Tuti SKP, 1994, Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan gangguan Sistem Pernafasan, Jakarta, Kedokteran EGC.
2. Carpenito Lynda Juall RN. MSn. CRNP, 1999, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Ed. 8, Jakarta, EGC.
3. Bandini, Nancy Swift, Manula Of Neurologikal Nursing, Littlc Brown and Company, Boston,1983.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar