Senin, 02 Oktober 2017

Askep Anak Spina Bifida


ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN SPINA BIFIDA
A.    KONSEP DASAR MEDIS
1.      Defenisi
Spina Bifida (Sumbing Tulang Belakang) adalah suatu celah pada tulang belakang (vertebra), yang terjadi karena bagian dari satu atau beberapa vertebra gagal menutup atau gagal terbentuk secara utuh. Keadaan ini biasanya terjadi pada minggu ke empat masa embrio.
Spina bifida adalah gagal menutupnya columna vertebralis pada masa perkembangan fetus. Defek ini berhubugan dengan herniasi jaringan dan gangguan fusi tuba neural. Gangguan fusi tuba neural terjadi sekitar minggu ketiga setelah konsepsi, sedangkan penyebabnya belum diketahui dengan jelas
Beberapa hipotesis terjadinya spina bifida antara lain adalah :
1)      Terhentinya proses pembentukan tuba neural karena penyebab tertentu
2)      Adanya tekanan yang berlebih dikanalis sentralis yang baru terbentuk sehingga menyebabkan ruptur permukaan tuba neural
3)      Adanya kerusakan pada dinding tuba neural yang baru terbentuk karena suatu penyebab.
( Buku ajar Ilmu Kesehatan Anak, A.H. Markum:2002)
2.      Etiologi
Penyebab yang pasti tidak diketahui, tetapi diduga akibat :
2.1  Genetik
2.2  Kekurangan asam folat dalam masa kehamilan.
2.3  Ibu dengan epilepsi yang menderita panas tinggi dalam kehamilannya dan mengkonsumsi obat asam valproic
4.      Manifestasi Klinik
Terdapat beberapa jenis spina bifida :
4.1    Spina bifida okulta (tersembunyi) : bila kelainan hanya sedikit, hanya ditandai oleh bintik, tanda lahir merah anggur, atau ditumbuhi rambut dan bila medula spinalis dan meningens normal.
4.2    Meningokel : bila kelainan tersebut besar, meningen mungkin keluar melalui medula spinalis, membentuk kantung yang dipenuhi dengan CSF. Anak tidak mengalami paralise dan mampu untuk mengembangkan kontrol kandung kemih dan usus. Terdapat kemungkinan terjadinya infeksi bila kantung tersebut robek dan kelainan ini adalah masalah kosmetik sehingga harus dioperasi.
4.3    Mielomeningokel : jenis spina bifida yang paling berat, dimana sebagian dari medula spinalis turun ke dalam meningokel. Gejalanya berupa:
1)      Penonjolan seperti kantung di punggung tengah sampai bawah pada bayi baru lahir.
2)      Jika disinari, kantung tersebut tidak tembus cahaya.
3)      Kelumpuhan/kelemahan pada pinggul, tungkai atau kaki.
4)      Penurunan sensasi.
5)      Inkontinensia urin maupun inkontinensia tinja.
6)      Korda spinalis yang terkena rentan terhadap infeksi (meningitis)

5.      Pencegahan
5.1  Resiko terjadinya spina bifida bisa dikurangi dengan mengkonsumsi asam folat.
5.2  Kekurangan asam folat pada seorang wanita harus ditangani sebelum wanita tersebut hamil,   karena kelainan ini terjadi sangat dini.
5.3  Pada  wanita hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi asam folat sebanyak 0,4 mg/hari. Kebutuhan asam folat pada wanita hamil adalah 1 mg/hari.
6.      Pemeriksaan Diagnostik
6.1       USG
Untuk menetahui apakah ada kelainan spina bifida pada bayi yang dikandung adalah melalui pemeriksaan USG. Hal itu dapat diketahui ketika usia bayi 20 minggu.
6.2    Pemeriksaan darah pada ibu
Dengan teknik AFP : hanya membutuhkan sedikit sampel darah dari lengan ibu dan tidak beresiko terhadap janin. Bila hasil skrining positif biasanya diperlukan test lanjutan untuk memastikan adanya kelainan genetik pada janin yang lahir kelak menderita cacat.
63     Pemeriksaan air ketuban ibu.
7.      Penatalaksanaan
Tujuan dari pengobatan awal adalah : Mengurangi kerusakan saraf akibat spina bifida dan meminimalkan komplikasi (misalnya infeksi).
7.1        Pembedahan dilakukan untuk menutup lubang yang terbentuk dan untuk mengobati hidrosefalus, kelainan ginjal dan kandung kemih serta kelainan bentuk fisik yang sering menyertai spina bifida. Terapi fisik dilakukan agar pergerakan sendi tetap terjaga dan untuk memperkuat fungsi otot. Untuk mengobati atau mencegah meningitis, infeksi saluran kemih dan infeksi lainnya, diberikan antibiotik.
7.2        Terapi fisik dilakukan agar pergerakan sendi tetap terjaga dan untuk memperkuat fungsi otot.
7.3        Untuk mengobati atau mencegah meningitis, infeksi saluran kemih dan infeksi lainnya, diberikan antibiotik.
7.4        Untuk membantu memperlancar aliran air kemih bisa dilakukan penekanan lembut diatas kandung kemih.
7.5        Diet kaya serat dan program pelatihan buang air besar bisa membantu memperbaiki fungsi saluran pencernaan
7.6        Untuk mengatasi gejala muskuloskeletal (otot dan kerangka tubuh) perlu campur tangan dari ortopedi (bedah tulang) maupun terapi fisik. Kelainan saraf lainnya diobati sesuai dengan jenis dan luasnya gangguan fungsi yang terjadi.
7.7        Kadang pembedahan shunting untuk memperbaiki hidrosefalus akan menyebabkan berkurangnya mielomeningokel secara spontan
8.      Komplikasi
Terjadi pada salah satu syaraf yang terkena dengan menimbulkan suatu kerusakan pada syaraf spinal cord, dengan itu dapat menimbulkan suatu komplikasi tergantung pada syaraf yang rusak.
KONSEP KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
1.1  Pengumpulan Data
1)   Orang tua klien mengungkapkan cemas
2)   Orang tua klien meminta informasi tentang tindakan yang dilakukan
3)   Orang tua klien sering bertanya tentang penyakit anaknya
4)   Orang tua tampak gelisah
5)   Klien tidak dapat mengerakkan kakinya
6)   Tampak penonjolan seperti kantung di punggung tengah klien
7)   Orang tua klien mengeluh anaknya terus berkemih dalam jumlah besar
8)   Enuresis
9)   Diurnal
10) Nokturnal
1.2  Klasifikasi Data
Data Subyektif
Data Obyektif
· Orang tua klien mengungkapkan cemas
· Orang tua klien mengeluh anaknya terus berkemih dalam jumlah besar
· Enuresis
· Diurnal
· Nokturnal
· Orang tua klien meminta informasi tentang tindakan yang dilakukan
· Orang tua klien sering bertanya tentang penyakit anaknya
· Orang tua tampak gelisah
· Klien tidak dapat mengerakkan kakinya
· Tampak penonjolan seperti kantung di punggung tengah klien
1.3  Analisa Data
No
Symptom
Etiologi
Problem
1
DS :
· Orang tua klien mengeluh anaknya terus berkemih dalam jumlah besar
DO :
· Enuresis
· Diurnal
· Nokturnal
Penonjolan dari korda spinalis dan akar saraf
Penurunan/gangguan fungsi pada bagian tubuh yang dipersarafi
Ketidakmampuan mengontrol pola berkemih
Inkontinensia Urin
Inkontinensia Urin
2
DS :
· Klien mengungkapkan cemas
DO :
· Orang tua klien meminta informasi tentang tindakan yang dilakukan
· Orang tua klien sering bertanya tentang penyakit anaknya
· Orang tua tampak gelisah
Penurunan/gangguan fungsi pada bagian tubuh yang dipersarafi
Orangtua cemas
Kurang terpajan informasi
Kurang Pengetahuan
Kurang Pengetahuan
3
DS : -
DO : -
Penurunan/gangguan fungsi pada bagian tubuh yang dipersarafi
Kelumpuhan/kelemahan pada ekstremitas bawah
Immobilisasi
Resiko Kerusakan Integritas Kulit
Resiko Kerusakan Integritas Kulit
2.      Diagnosa Keperawatan
2.1  Inkontinensia urin berhubungan dengan ketidakmampuan mengontrol keinginan berkemih.
2.2  Kurang pengetahuan orang tua tentang proses penyakit dan penanganan penyakit anaknya berhubungan dengan kurang terpajan informasi.
2.3  Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi.
3.      Intervensi Keperawatan
3.1 Dx 1 : Inkontinensia urin berhubungan dengan ketidakmampuan mengontrol keinginan berkemih
Tujuan : Inkontinensia urin dapat berkurang/teratasi
Kriteria hasil :
1)      Enuresis, diurnal dan nokturnal berkurang/tidak ada
2)      Klien berkemih dalam jumlah dan frekuensi yang normal
Intervensi:
1)   Kaji pola berkemih dan tingkat inkontinensia klien
Rasional : Sebagai data dasar untuk intervensi selanjutnya
2)   Berikan perawatan pada kulit klien yang basah karena urin (dilap dengan air hangat kemudian dilap kering dan diberi bedak)
Rasional : Perawatan yang baik dapat mencegah iritasi pada kulit klien
3)   Anjurkan ibu klien untuk sering memeriksa popok klien, jika basah segera diganti
Rasional : Popok yang selalu basah dapat menimbulkan iritasi dan lecet pada kulit
4)   Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat (misalnya: Antikolinergik)
Rasional : Obat antikolinergik diperlukan untuk menghilangkan kontraksi kandung kemih tak terhambat
3.2 Dx 2 : Kurang pengetahuan orang tua tentang proses penyakit dan penanganan penyakit anaknya berhubungan dengan kurang terpajan informasi
Tujuan: Orang tua klien dapat memahami proses penyakit dan prosedur penanganan penyakit anaknya
Kriteria hasil :
1)      Orang tua klien tampak tenang
2)      Orang tua klien dapat menjelaskan proses penyakit dan prosedur penanganan penyakit anaknya
Intervensi:
1)   Kaji tingkat pengetahuan orang tua klien tentang proses penyakit dan penanganan penyakit anaknya
Rasional : Sebagai data dasar dalam emnentukan intervensi selanjutnya
2)   Berikan kesempatan kepada orang tua klien untuk bertanya
Rasional : Memberikan jalan untuk mengekspresikan perasaannya dan mengetahui pemahaman orang tua klien tentang penyakit anaknya
3)   Jelaskan dengan baik kepada orang tua tentang proses penyakit dan prosedur penanganannya
Rasional : Menigkatkan pemahaman orang tua klien tentang penyakitnya anaknya
4)   Berikan dukungan positif kepada orang tua klien
Rasional : Dukungan yang positif dapat memberikan semangat kepada orang tua untuk menerima penyakit anaknya dan membantu proses perawatan.
3.3 Dx 3 : Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi
Tujuan: Kerusakan integritas kulit tidak terjadi
Kriteri hasil :
1)      Kulit tampak halus dan lembut
2)      Tidak ada iritasi/lecet, dekubitus
Intervensi:
1)   Kaji tingkat keterbatasan gerak (immobilisasi) klien
Rasional : Sebagai data dasar untuk intervensi selanjutnya
2)   Rubah posisi klien setiap dua jam
Rasional : Penekanan yang lama pada salah satu bagian tubuh dapat menyebabkan terjadinya dekubitus
3)   Jaga pakaian dan linen tetap kering
Rasional : Pakaian dan linen yang basah dapat mengiritasi kulit
4)   Ajarkan pada orang tua klien untuk memassage daerah yang tertekan, gunakan lotion
Rasional : Memperlancar peredaran darah, meningkatkan relaksasi dan mencegah iritasi


DAFTAR PUSTAKA
 Markum A.H. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Jakarta : EGC, 2002.Media Aesculapius. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ke-3 Jilid 2. Jakarta: MA, 2000.Whaley’s and Wong. Pedoman Klinis
Keperawatan Pediatrik. Edisi 4.Jakarta : EGC, 2003.

Penelitian/KTI Kecerdasan Emosional


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Melalui perguruan tinggi, mahasiswa belajar berbagai macam hal.
Pendidikan di Indonesia selama ini, terlalu menekankan arti penting nilai akademik, kecerdasan otak atau IQ saja. Mulai dari tingkat sekolah dasar sampai kebangku kuliah, jarang sekali ditemukan pendidikan tentang kecerdasan emosi yang mengajarkan tentang: integritas; kejujuran; komitmen; visi; kreatifitas; ketahanan mental; kebijaksanaan; keadilan; prinsip kepercayaan; penguasaan diri atau sinergi, padahal justru inilah hal yang terpenting (Ary Ginanjar, 2001 : xli).
Proses belajar di perguruan tinggi adalah proses yang sifatnya kompleks. Banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi yang tinggi dalam belajar, seseorang harus memiliki Intelligence Quotient (IQ) yang tinggi, karena inteligensi merupakan bekal potensial yang akan memudahkan dalam belajar dan pada gilirannya akan menghasilkan prestasi belajar yang optimal.
Kenyataannya, dalam proses belajar mengajar di perguruan tinggi sering ditemukan mahasiswa yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang setara dengan kemampuan inteligensinya. Ada mahasiswa yang mempunyai kemampuan inteligensi tinggi tetapi memperoleh prestasi belajar yang relatif rendah, namun ada mahasiswa yang walaupun kemampuan inteligensinya relatif rendah, dapat meraih prestasi belajar yang relatif tinggi. Itu sebabnya taraf inteligensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang, karena ada faktor lain yang mempengaruhi.
Menurut Goleman (2002), kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan, sedangkan 80% ditentukan oleh serumpun faktor yang disebut Kecerdasn  Emosional. Dari nama tehnis itu ada yang berpendapat bahwa kalau IQ mengangkat fungsi pikiran, EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan dalam dirinya, bisa mengusahakan kebahagiaan dalam dirinya sendiri dan bisa mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang positif dan bermanfaat (Sunar, 2010 : 50).
Dalam proses belajar mahasiswa, kedua inteligensi itu sangat diperlukan. IQ tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa partisipasi penghayatan emosional terhadap mata pelajaran yang disampaikan di bangku kuliah. Namun biasanya kedua inteligensi itu saling melengkapi. Keseimbangan antara IQ dan EQ merupakan kunci keberhasilan belajar mahasiswa di sekolah. Ary Ginanjar (2001 : xlvi) menegaskan bahwa kecakapan pada hakikatnya dapat dipandang sebagai sekumpulan kebiasaan yang terkoordinasi, apa yang kita pikirkan, rasakan dan kerjakan, agar suatu tugas terlaksana. Pendapat ini sekiranya dapat menegaskan bahwa hakikat dari suatu kecakapan bukanlah hanya suatu pemahaman, tetapi merupakan metode internalisasi kebiasaan dan karakter
LeDoux mengemukakan bahwa lebih jauh lagi system emosi ternyata dapat bekerja sendiri tanpa partisifasi kognitif: perasaan memiliki kecerdasannya sendiri. Bukti ilmiah inilah yang dijadikan yang dijadikan sebagai pendukung argumentasi Goleman bahwa EQ adalah syarat utama penggunaan IQ secara efektif (Sunar, 2010 : 40)
      Memang harus diakui bahwa mereka yang memiliki IQ rendah dan mengalami keterbelakangan mental akan mengalami kesulitan, bahkan mungkin tidak mampu mengikuti pendidikan formal yang seharusnya sesuai dengan usia mereka. Namun fenomena yang ada menunjukan bahwa tidak sedikit orang dengan IQ tinggi yang berprestasi rendah, dan ada banyak orang dengan IQ sedang yang dapat mengungguli prestasi belajar orang dengan IQ tinggi. Hal ini menunjukan bahwa IQ tidak selalu dapat memperkirakan prestasi belajar seseorang.
Kemunculan istilah kecerdasan emosional dalam pendidikan, bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai jawaban atas kejanggalan tersebut. Teori Daniel Goleman memberikan definisi baru terhadap kata cerdas. Walaupun EQ merupakan hal yang relatif baru dibandingkan IQ, namun EQ tidak kalah penting dari IQ. Bila IQ kita jadikan sebagai satu-satunya kecerdasan yang membuat kita berhasil, maka hal ini adalah kesalahan terbesar dalam hidup kita. Mengutip kata Robert Stenberg seorang ahli dalam bidang successful Intelligences yang mengatakan: “Bila IQ yang berkuasa, ini karena kita membiarkannya demikian. Dan bila kita membiarkannya berkuasa, kita telah memilih penguasa yang buruk” (Ary Ginanjar, 2001 : xl)
Penomena yang peneliti temukan berdasar hasil pengamatan, terdapat sebagian mahasiswa D III keperawatan yang kurang motivasi dalam hal belajar, menunda-nunda pekerjaan, acuh dalam hal tugas kelompok, takut bertemu dengan dosen yang dianggapnya menakutkan, dan yang senang dengan ketidak hadiran dosen. Terbesit dalam benak peneliti sebuah pertanyaan, “mengapa hal itu bisa terjadi terhadap sebagian mahasiswa itu?”. Mungkinkah mereka kurang mampu menggunakan kecerdasan emosinya. Ataukah ada hal lain yang mempengaruhinya seperti itu.
Maka dalam kaitan pentingnya kecerdasan emosional pada diri mahasiswa sebagai salah satu faktor penting untuk menunjang keberhasilannya, baik itu dalam kesehariaanya yang dipenuhi rasa optimis untuk belajar, maupun dalam meraih prestasi akademik dan praktek klinik, maka dalam penyusunan KTI ini penulis tertarik untuk meneliti :”Gambaran Kecerdasan Emosional Mahasiswa D III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kota Sukabumi  ”.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian di atas peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :
Bagaimana Gambaran Kecerdasan Emosional Mahasiswa D III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kota Sukabumi 

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Kecerdasan Emosional Mahasiswa D III Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kota Sukabumi
2.    Tujuan Khusus
a.       Mengdentifikasi kemampuan mahasiswa mengenali emosi diri sendiri
b.      Mengdentifikasi kemampuan mahasiswa mengelola emosi diri sendiri
c.       Mengdentifikasi kemampuan mahasiswa motivasi diri sendiri
d.      Mengdentifikasi kemampuan mahasiswa mengenali emosi orang lain (empati)
e.       Mengdentifikasi kemampuan mahasiswa untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain

D.    Manfaat Penelitian

     Hasil penelitian ini mempunyai beberapa manfaat, antara lain ialah :
1.      Untuk instansi pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu memberikan informasi tentang pentingnya kecerdasan emosional bagi seluruh elemen terkait dalam instansi pendidikan.
2.      Responden
Diharapkan dengan adanya penelitian kecerdasan emosi ini, mahasiswa mampu menggunakan kecerdasan emosinya dengan sebaik mungkin agar didapatkan nilai akhir yang memuaskan.
3.      Untuk penelitian selanjutnya
Sebagai bahan acuan untuk peneliti selanjutnya.

 

TINJAUAN PUSTAKA

A.     Kecerdasan

1.      Pengertian Kecerdasan

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an, yang artinya :

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat, lalu berfirman, “sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar” (QS Al-Baqarah, ayat 31)”

Sebenarnya kecerdasan sudah ada sejak awal manusia diciptakan, seperti ayat di atas mengemukakan bahwasannya Allah SWT menciptakan manusia dengan segala gudang ilmu didalam dirinya. Sunar (2010 : 19) menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling cerdas, dan Tuhan, melengkapi manusia dengan komponen kecerdasan yang paling kompleks. sejumlah temuan para ahli mengarah pada fakta bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan paling unggul dan akan menjadi unggul asalkan bisa menggunakan keunggulannya. Kemampuan menggunakan keunggulan ini dikatakan oleh William W Hewitt, pengarang buku The Mind Power, sebagai faktor yang membedakan antara orang jenius dan orang yang tidak jenius di bidangnya.  
Lantas, apa sesungguhnya kecerdasan itu, sebenarnya hingga saat ini para ahli pun tampaknya masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang komfrehensif tentang kecerdasan. Dalam hal ini, C.P. Chalpin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Sementara itu, Anita E. Woolfolk (1975) mengemukakan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu: (1) kemampuan untuk belajar; (2) keseluruhan pengetahuan yang di peroleh; dan (3) kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya (Sunar, 2010 : 20).
Agus Efendi (2005 : 81) dalam bukunya Revolusi Kecerdasan Abad 21, mengemukakan bahwa menurut Howard Gardner, “Kecerdasan adalah kemampuan utnuk memecahkan atau sesuatu yang bernilai bagi budaya tertentu”. Sedangkan menurut Alfred Binet dan Theodore Simon, kecerdasan terdiri dari: (1) kemampuan mengarahkan pikiran atau tindakan, (2) kemampuan mengubah arah tindakan jika tindakan tersebut telah dilakukan, (3) kemampuan mengkritik diri sendiri
Definisi kecerdasan lain adalah definisi kecerdasan dari Piaget, menurut William H. calvin, dalam How Brain Think (bagaimana otak berfikir), Piaget mengatakan, “Intelligence is what you use when you don`t know what to do”. (Kecerdasan adalah apa yang kita gunakan pada saat kita tidak tahu apa yang harus dilakukan). (Agus Efendi, 2005 : 83)
Menurut Agus Efendi (2005 : 85) definisi kecerdasan-kecerdasan di atas hanya merupakan contoh diantara banyaknya definisi kecerdasan. Para psikolog terbukti tidak menyepakati definisi kecerdasan tersebut. Bahkan, menurut Stenberg, berbagai riset menunjukan bahwa budaya yang berbeda memiliki konsepsi tentang kecerdasan yang berbeda pula. Lebih jauh, saat menjelaskan definisi kecerdasan dari para ahli (expert definition), seperti telah dijelaskan di atas-yakni ketika pada tahun 1921, 14 psikolog terkenal diminta oleh editor the Journal of Educational Psychologi untuk memberikan pandangan mereka mengenai apa itu kecerdasan. Stenberg mengungkapkan definisi mereka bahwa kecerdasan adalah: (1) kemapuan untuk belajar dari pengalaman, (2) kemampuan untuk beradaftasi dengan lingkungan sekitar (suurounding environment). Dua jenis kemampuan ini merupakan dua tema yang penting menurutnya, kemampuan utnuk belajar dari pengalaman itu mengimplikasikan, misalnya, bahwa orang cerdas adalah mereka yang bukan saja melakukan kesalahan tapi juga mereka yang belajar dari kesalahan dan tidak melakukannya lagi. 
Kesimpulannya, bahwa kecerdasan itu merupakan suatu kemampuan untuk belajar dari keseluruhan pengetahuan dan kemampuan untuk beradaptsi dengan cepat dan efektif dengan situasi dan lingkungan yang baru
2.      Macam – Macam Kecerdasan
Menurut Agus Efendi (2005 : 5) bahwa manusia adalah makhluk yang dianugrahi potensi kecerdasan tidak terbatas, berkat otaknya yang banya seberat satu setengah kilogram, sehingga disebut the 3-pound universe, meskipun kecerdasan manusia tidak terbatas, namun banyak ahli atau penulis buku menyebut berbagai jenis kecerdasan. Inilah sederetan kecerdasan tersebut:
a.       Intelligence Quotient (Kecerdasan Intelektual)
b.      Multiple Intelligence (Kecerdasan Majemuk). Menurut Howard Gardner, kecerdasan ini mencakup,  Linguistik Intelligence (Kecerdasan Berbahasa), Logico-Mathematical Intelligence (Kecerdasan Logis-Matematis), Visual-Svatial Intelligence (Kecerdasan Visual-Spasial), Bodily-Kinesthetic Intelligence (Kecerdasan Kinestetik), Musical Intelligence (Kecerdasan Musik), Interpersonal Intelligence (Kecerdasan Antarpibadi), Intrapersonal Intelligence (Kecerdasan Intrapersonal), dan Natural Intelligence (Kecerdasan Natural)
c.       Practical Intelligence (Kecerdasan Praktis)
d.      Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosi)
e.       Entrepreneurial Intelligence (Kecerdasan Berwiraswasta)
f.       Financial Intelligence (Kecerdasan Finansial)
g.      Adversity Qoutient (Kecerdasan Adversitas)
h.      Aspiration Intelligence (Kecerdasan Aspirasi)
i.        Power Intelligence (Kecerdasan Kekuatan)
j.        Imagination Intelligence (Kecerdasan Imajinasi)
k.      Intuition Intelligence (Kecerdasan intuitif)
l.        Moral Intelligence (Kecerdasan Moral)
m.    Spiritual Intelligence (Kecerdasan Spiritual)
n.      Succesful Intelligence (Kecerdasan Kesuksesan)
o.      DLL
Manusia adalah sekaligus makhluk jasadiah dan ruhaniah. Sebagai makhluk jasadiah, manusia akan mati. Tidak demikian sebagai makhluk ruhaniah, seperti ditegaskan oleh Wan Mohd Nor Wan Daud, dalam filsafat dan praktek pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas (2003 : 94), walaupun diciptakan, ruh manusia itu tidak mati dan selalu sadar aka dirinya. Ia adalah tempat bagi segala sesuatu yang intelijibel dan dilengkapi dengan fakultas yang memiliki sebutan berlainan dalam keadaan yang berbeda, yaitu ruh (ruh), jiwa (nafs), hati (qolb), dan intelek (aql). Setiap sebutan ini memiliki 2 makna, yang satu merujuk pada aspek-aspek jasad ataupun kebinatangan yang satu lagi pada aspek keruhaian. (Agus Efendi, 2005 : 2)
Dalam pembahasan macam-macam kecerdasan ini, peneliti akan membahas 3 macam kecerdasan, yaitu: (1) Kecerdasan Intelektual “IQ”, Kecerdasan Emosional “EQ”, dan (3) Kecerdasan Spiritual “SQ”. Mengapa peneliti hanya membahas ke tiga aspek ini saja. Karena seperti yang telah dijelaskan Agus Efendi dalam (Wan Mohd Nor Wan Daud, dalam Syed M. Naquib Al-Attas (2003 : 94)), bahwa manusia teridiri dari aspek ruh, hati; dalam pembahasan ini ruh dan hati masuk kedalam kategori kecerdan spiritual, aspek jiwa; dalam pembahasan ini masuk ke dalam kategori kecerdasan emosional, dan aspek intlektual; masuk pada pembahasan kecerdasa intelektual. Ketiga aspek kecerdasan ini saling berkaitan antara kecerdasan satu dengan kecerdasan yang lainnya.
Selanjutnya peneliti akan membahas ke tiga aspek kecerdasan tersebut dan akan lebih menegaskan pada aspek kecerdasa emosional. Sebagai berikut:  
a.  IQ (Intelectual Quotient)
memasuki abad ke-20 kita mengenal sebuah istilah popular yang berkaitan dengan kecerdasan IQ (Intelligence Quotient). sekarang ini hampir sulit menemukan ada istilah lain selain IQ yang demikian sangat mempengaruhi seseorang dalam memandang diri mereka sendiri dan orang lain. Adalah psikolog kebangsaan Prancis, Alfred Binet, yang pada tahun 1905menyusun suatu test kecerdasan terstandarisasi untuk pertama kalinya.
Kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah secara logis dan akademis. Kecerdasan intelektual (IQ) bekait dengan keterampilan seseorang menghadapi persoalan teknikal dan intelektual. 
b. EQ (Emotional Quotient)
Penjelasan tentang EQ, akan dijelaskan pada bagian ketiga dari BAB ini.
c. SQ (Spiritual Quotient)
“Desakan baru yang mendunia untuk mengembangkan kekuatan kecerdasan spiritual telah datang pada waktu yang tepat karena dunia saat ini sering tidak salah jika disebut menderita sakit rohaniah.” Begitu kata Tony Buzan dalam  The Power of Spiritual Intelligence (2003: xx1). ketika menjawab pertanyaa apa sesungguhnya makana kata spirit dan spiritual. Tony Buzan menjawabnya bahwa konsep keseluruhan tentang spirit berasal dari bahasa latin spiritus, yang berarti napas. Dalam duna modern, kata itu merujuk ke energi hidup dan kesesuatu dalam diri kita yang bukan fisik, termasuk emosi dan karakter. ini juga mencakup kualitas-kualitas vital seperti energy, semangat, keberanian, dan tekad. kecerdasan spiritual tegas Buzan, terkait dengan cara menumbuhkan dan mengembangkan kualitas-kualitas tersebut. (Agus Efendi, 2005: 206)   
SQ adalah fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun yang memungkinkan otak untuk menemukan dan menggunakan makna dalam dalam memecahkan persoalan. utamanya persoalan yang menyangkut masalah eksistensial, yaitu saat seseorang pribadi terpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran dan masalah masa lalu akibat penyakit dan kesedihan (Sunar, 2010 : 249)
Agus Efendi mengutip definisi SQ menurut Zohar dan Marshall (2000: 11) “SQ adalah kecerdasan yang tidak bergantung pada budaya dan nilai; kecerdasan yang mendahului seluruh nilai spesifik dan budaya manapun; kecerdasan yang membuat agama menjadi mungkin tapi tidak bergantung pada agama; kecerdasan yang bisa menjawab pertanyaan mengenai makna.”

B.    Emosi

1.Pengertan Emosi

Dalam bukunya Revolusi Kecerdasan Abad 21, Agus Efendi (2005 : 171) Emosi adalah salah satu dari yang oleh para Psikolog disebut dengan trilogi mental yang terdiri dari kognisi, emosi dan motivasi. Akar kata emosi adalah movere , kata kerja Bahasa Latin yang berarti “menggerakan, bergerak”, ditambah awalan “e-” untuk member arti “bergerak menjauh”, ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal yang mutlak dalam emosi (1998 : 7). 
Dalam buku terkenalnya Emotional Intelligence (1998 : 441), Goleman mengatakan bahwa dalam makna yang paling harfiah, Oxford English Dictionary mendefinisikan kata emosi dengan “Setiap kegiatan atau pegolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap”
Sedangkan menurut Robert K. Cooper dan Ayman Sawaf, dalam bukunya Excutive EQ (1996 : xii-xiii). Kata emotion bisa didefinisikan dengan gerakan (movement), baik secara metaforsis maupun literal, kata emotion adalah kata yang menunjukan gerak perasaan. Dengan begitu menurut mereka, kecerdasan emosionallah yang lebih memotivasi kita untuk mencari potensi kita sendiri; untuk mencapai tujuan unik kita; yang mengaktifkan nilai-nilai dan aspirai-aspirasi kita yang paling dalam dari apa yang kita pikirkan (what whe think abaout). Menurut mereka, sudah sekian lama emosi dipandang sebagai kedalaman (depth) dan kekuatan (power). oleh karena itu pula, dalam Bahasa Latin, kedalaman dan kekuatan itu disebut dengan motus anima yang artinya “the spirit that move us”, jiwa yang menggerakan kita.
Daniel Goleman sendiri mempunyai daftar emosi yang relative lengkap, yang oleh Kartajaya dikatakan representatif. Daftar emosi tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Amarah : beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, kekerasan, kebencian patologis.
b.      Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengsihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, defresi berat.
c.       Rasa takut : cemas, takut, gugup, khawatir, waswas, perasaan takut sekali, khawatir, waspada, sedih, tidak tenang, nyeri, takut sekali, sampai dengan paling parah fobia dan panik.
d.      Kenikmatan : gembira, bahagia, ringan puas, riang, senagn, terhibur, bangga, kenikmatan indarwi, takjub, rasa terpesona, rasa puas, rasa terpenuhi, kegirangan luar biasa, senang, senang sekali, hingga yang eksterm mania.
e.       Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih.
f.       Terkejut : shok, terkesiap, takjub, terpana.
g.      Jengkel : hina, jijik, muak, benci, tidak suka, mau muntah, tidak enak perasaan.
h.      Malu : rasa salah, malu hati, kesal hati, sesal, hina, aib, hati hancur lebur, perasaan sedih atau dosa yang mendalam.                                        
Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam the Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi).
Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya
.

C.    Kecerdasan Emosional

1.       Pengertian Kecerdasan Emosional
Orang yang pertama kali menggunakan istilah kecerdasan emosional adalah  Peter Salovey dan John Mayer. Kemudian Danil Golemanlah yang mengkajinya secara mendalam dari banyak hasil riset mengenainya (Agus Efendi, 2005 : 164)
Danil Goleman, dalam karyanya Working With Emotional Intelligence (1995 : 512-514). Mendefinisikan kecerdasan emosional dengan “… Kemampuan mengenali diri kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain”.  Sedangkan Cooper dan Sawaf, dalam bukunya Excutive EQ (1977), juga mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai “Kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif mengaplikasikan kekuatan serta kecerdasan emosi sebagai sebuah sumber energi manusia, informasi, hubungan dan pengaruh” (Agus Efendi, 2005 : 171-172) 
Salovey dan Mayer (1997), dalam (Sunar, 2010 : 138) mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai “Kemampuan untuk memproses informasi emosional, lebih khusus lagi kemampuan untuk mengenali makna emosi dan hubungan mereka, serta mampu untuk alasan dan memecahkan masalah atas dasar mereka”.
Sedagkan Hein, dalam (Sunar, 2010 : 138) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai “bisa tahu bagaimana memisahkan perasaan sehat dari yang tidak sehat dan bagaimana mengubah perasaan negative menjadi positif”.        
Kecerdasan emosi merupakan kemampuan seseorang mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang difikirkan menjadi sesuatu yang menyentuh rasa. Emosi ini biasanya ada di hati. Hati adalah sumber energi, keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati itu juga sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan kerjasama, memimpin, dan melayani. Hati nurani akan menjadi pembimbing terhadap sesuatu yang harus ditempuh dan sesuatu yang diperbuat. Artinya manusia sebenarnya telah memiliki sebuah radar hati sebagai pembimbingnya (Ary Ginanjar, 2001 : xliii)
Gardner dalam bukunya yang berjudul Frame Of Mind (Goleman, 2000 : 50-53) mengatakan bahwa bukan hanya satu jenis kecerdasan yang monolitik yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan, melainkan ada spektrum kecerdasan yang lebar dengan tujuh varietas utama yaitu linguistik, matematika/logika, spasial, kinestetik, musik, interpersonal dan intrapersonal. Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner sebagai kecerdasan pribadi yang oleh Daniel Goleman disebut  sebagai kecerdasan emosional.
Menurut Gardner, kecerdasan pribadi terdiri dari :”kecerdasan antar pribadi yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif.” (Goleman, 2002 : 52).
Dalam rumusan lain, Gardner menyatakan bahwa inti kecerdasan antar pribadi itu mencakup “kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan hasrat orang lain.” Dalam kecerdasan antar pribadi yang merupakan kunci menuju pengetahuan diri, ia mencantumkan “akses menuju perasaan-perasaan diri seseorang dan kemampuan untuk membedakan perasaan-perasaan tersebut serta memanfaatkannya untuk menuntun tingkah laku”. (Goleman, 2002 : 53).
Berdasarkan kecerdasan yang dinyatakan oleh Gardner tersebut, Salovey (Goleman, 200 : 57) memilih kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal untuk dijadikan sebagai dasar untuk mengungkap kecerdasan emosional pada diri individu. Menurutnya kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.
Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan mahasiswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

2. Komponen Kecerdasan Emosional

Goleman mengutip Salovey (2002:58-59) menempatkan menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya dan memperluas kemapuan tersebut menjadi lima kemampuan utama, yaitu :
a.   Mengenali Emosi Diri
Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 64) kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi.
b.   Mengelola Emosi 
Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam  menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita (Goleman, 2002 : 77-78). Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.
c.   Memotivasi Diri Sendiri
Presatasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri (Goleman, 2002: 100)
d.   Mengenali Emosi Orang Lain
Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut Goleman (2002 :57) kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.
Rosenthal dalam penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang yang mampu membaca perasaan dan isyarat non verbal lebih mampu menyesuiakan diri secara emosional, lebih populer, lebih mudah beraul, dan lebih peka (Goleman, 2002 : 136). Nowicki, ahli psikologi menjelaskan bahwa anak-anak yang tidak mampu membaca atau mengungkapkan emosi dengan baik akan terus menerus merasa frustasi (Goleman, 2002 : 172). Seseorang yang mampu membaca emosi orang lain juga memiliki kesadaran diri yang tinggi. Semakin mampu terbuka pada emosinya sendiri, mampu mengenal dan mengakui emosinya sendiri, maka orang tersebut mempunyai kemampuan untuk membaca perasaan orang lain. 
e.   Membina Hubungan
Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi (Goleman, 2002 : 59). Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Individu sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan serta kemauan orang lain.
Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang lain. Orang-orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi teman yang menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi (Goleman, 2002 :59). Ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai orang lain dapat dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa mampu membina hubungan dengan orang lain. Sejauhmana kepribadian siswa berkembang dilihat dari banyaknya hubungan interpersonal yang dilakukannya.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis mengambil komponen-komponen utama dan prinsip-prinsip dasar dari kecerdasan emosional sebagai faktor untuk mengembangkan instrumen kecerdasan emosional
3.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosi
a.       Faktor Internal.
Faktor internal adalah apa yang ada dalam diri individu yang mempengaruhi kecerdasan emosinya. Faktor internal ini memiliki dua sumber yaitu segi jasmani dan segi psikologis. Segi jasmani adalah faktor fisik dan kesehatan individu, apabila fisik dan kesehatan seseorang dapat terganggu dapat dimungkinkan mempengaruhi proses kecerdasan emosinya. Segi psikologis mencakup didalamnya pengalaman, perasaan, kemampuan berfikir dan motivasi.
b. Faktor Eksternal.
Faktor ekstemal adalah stimulus dan lingkungan dimana kecerdasan emosi berlangsung. Faktor ekstemal meliputi: 1) Stimulus itu sendiri, kejenuhan stimulus merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam memperlakukan kecerdasan emosi tanpa distorsi dan 2) Lingkungan atau situasi khususnya yang melatarbelakangi proses kecerdasan emosi. Objek lingkungan yang melatarbelakangi merupakan kebulatan yang sangat sulit dipisahkan (Yuli`s Blog, 2009)
4.      Karakteristik Kecerdasan Emosional Tinggi dan Rendah
Steven Hein (dalam www.EQI.org, 2002) membedakan individu dengan kecerdasan emosional tinggi dan rendah. Ia juga mengkarakteristikkan orang yang memiliki Emotional Intelligence tinggi dan rendah atas cirri yang khas, yaitu :
a.    Ciri-ciri individu dengan tingkat Emotional Intelligence yang tinggi :
1)   Mampu untuk melabelkan perasaannya daripada melabelkan perasaan orang lain ataupun situasi.
2)   Mampu membedakan mana yang pikiran dan mana yang merupakan rasa.
3)   Bertanggung jawab terhadap rasa.
4)   Menggunakan rasa mereka untuk membantu dalam membuat suatu keputusan.
5)   Respek terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain.
6)   Bersemangat dan tidak mudah marah.
7)   Mengakui rasa orang lain.
8)   Berupaya untuk memperoleh nilai-nilai positif dari emosi yang negative.
9)    Tidak bertindak otoriter, menggurui ataupun memerintah
b.    Ciri-ciri individu dengan tingkat Emotional Intelligence yang rendah :
1)        Tidak berani bertanggung jawab terhadap rasa yang dimiliki, tetapi lebih menyalahkan orang lain terhadap hal yang terjadi pada dirinya.
2)        Berlebihan ataupun menekan rasa yang dimilikinya.
3)        Cenderung menyerang, menyalahkan, menilai orang lain.
4)        Merasa tidak nyaman apabila berada disekitar orang lain.
5)         Kurang memiliki rasa empati.
6)        Cenderung kaku, kurang fleksibel, cenderung membutuhkan suatu aturan yang sistematis agar merasa nyaman.
7)        Menghindari tanggung jawabnya dengan menyatakan tidak ada pilihan lain.
8)        Pesimistis dan cenderung menganggap dirinya ini adil.
9)        Sering merasa kurang dihargai, kecewa, hambar atau merasa jadi korban.

5.      Hubungan Otak Emosional dengan Prestasi
Menurut Agus Efendi (2005: 183), kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang sangat diperlukan untuk berprestasi. Meskipun, seperti dikatakan Goleman, kita tidak boleh melupakan peran motivasi positif dalam mencapai prestasi. Motivasi positif itu berupa kumpulan perasaan antusiasme, gairah dan keyakinan diri. Kesimpulan in ditunjukan oleh hasil berbagai studi terhadap para atlet Olimpiade, musikus kelas dunia, dan para grand master catur yang menunjukan adanya cirri yang serupa pada mereka. Cirri serupa itu berupa kemampuan memotivasi diri untuk tak henti-hentinya berlatih secara rutin.
Keuntungan tambahan atas sukses dalam kehidupan yang didorong oleh motivasi, selain karena kemampuan bawaan lainnya, dapat dilihat pada unjuk kerja yang menakjubkan oleh mahasiswa-mahasiswa Asia yang belajar disekolah-sekolah Amerika serta diberbagai bidang pekerjaan. “… kita termotivasi oleh perasaan antusiasme dan kepuasan pada apa yang kita kerjakan. Atau, bahkan kadar optimal kecemasan emosi-emosi itulah yang mendorong kita untuk berprestasi. Dalam arti inilah kecerdasa emosional merupakan kecakapan utama, kemampuan yang secara mendalam mempengaruhi semua kemampuan lainnya, baik memperlancar maupun menghambat kemampuan-kemampuan itu,” tulis Goleman (1998: 112).

D.    Pengertian Mahasiswa

Menurut Susantoro (Rahmawati, 2006) mahasiswa merupakan kalangan muda yang berumur antara 19 sampai 28 tahun yang memang dalam usia tersebut mengalami suatu peralihan dari tahap remaja ke tahap dewasa. Sosok mahasiswa juga kental dengan nuansa kedinamisan dan sikap kenyataan objektif, sistematik dan rasional. Kenniston (Rahmawati, 2006) mengatakan bahwa mahasiswa (youth) adalah suatu periode yang disebut dengan “studenthood” yang terjadi hanya pada individu yang memasuki post secondary education dan sebelum masuk ke dalam dunia kerja yang menetap. Berbeda dengan pendapat yang telah dikemukakan oleh dua ahli tersebut di atas, Visi Pelayanan Mahasiswa menyebutkan bahwa mahasiswa adalah seseorang yang sedang mempersiapkan diri dalam keahlian tertentu dalam tingkat pendidikan tinggi.
Mahasiswa mempunyai peran penting sebagai agen perubahan (agent of change) bagi tatanan kehidupan yang secara realistis dan logis diterima oleh masyarakat (Chaerul, 2002). Sejalan dengan pendapat Chaerul, Kartono (Rahmawati, 2006) menyebutkan bahwa mahasiswa merupakan anggota masyarakat yang mempunyai ciri-ciri tertentu antara lain:
1)   Mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi sehingga dapat digolongkan sebagai kaum intelegensia.
2)   Mahasiswa diharapkan nantinya dapat bertindak sebagai pemimpin masyarakat ataupun dalam dunia kerja.
3)   Mahasiswa diharapkan dapat menjadi daya penggerak yang dinamis bagi proses modernisasi.
4)    Mahasiswa diharapkan dapat memasuki dunia kerja sebagai tenaga yang berkualitas dan profesional.
Ditinjau dari kepribadian individu mahasiswa merupakan suatu kelompok individu yang mengalami proses menjadi orang dewasa yang dipersiapkan atau mempersiapkan diri dalam sebuah perguruan tinggi dengan keahlian tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Agustian, Ary Ginanjar. 2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Jakarta: Penerbit Arga
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Dhafir, M.Pd, H. Drs. Syarqawi. 2007. Pedoman Penulisan Paper Niha`ie. Sumenep, Madura: Al-Amien Printing            
Efendi, Agus. 2005. Revolusi Kecerdasan Abad 21. Bandung: Alfabeta (Anggota IKAPI)
Goleman, D. 2002. Emotional Intelligence. Jakarta: Gramedia
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika
Kecerdasan Emosional. http://nadhirin.blogspot.com. Diakses Tanggal 30 Juni 2009
Kecerdasan Emosi Menurut Daniel Goleman. Yuli`s Blog.com. Diakses tanggal 19 Oktober 2009
Notoatmodjo, Soekidjo, Prof. Dr. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Pengertian Mahasiswa. Sutisna.Com.htm. Diakses Tanggal 09 November 2010
Psikologi Malang. http://psychologyclub.web.id. Diakses Tanggal 05 Desember 2009
Sunar P, Dwi. 2010. Edisi Lengkap Tes IQ, EQ dan SQ. Jogjakarta: FlashBooks