Minggu, 09 Juni 2013

Askep Kanker Prostat



A.    Konsep Dasar Medik.
1.      Definisi
Kanker Prostat adalah pertumbuhan tumor ganas dari jaringan parenchym kelenjar prostat. (M.Thompson & Mc Farland, Manual of Clinical Nursing 1989 , 1464)
2.      Anatomi  Fisiologi
Prostat adalah suatu organ tubuh yang bergantung  kepada pengaruh endokrin dan dapat dianggap imbangan( counterpart ) dari payudara pada wanita. Prostat dipengaruhi juga oleh hormon androgen dan estrogen. Bagian tengah, peka terhadap pengaruh estrogen dan bagian tepi peka terhadap hormon androgen.  Karena itu pada orang tua bagian tengahlah yang mengalami hiperplasia, yaitu sekresi androgen berkurang sehingga estrogen bertambah sebagian atau absolut. Sel-sel epitel  kelenjar prostat dapat membentuk enzim fosfatase asam yang paling aktif bekerja pada Ph 5. Pada keadaan normal enzym ini kecil sekali sehingga sulit diukur, tetapi pada kanker prostat pembentukan enzym ini sangat banyak sehingga dapat diukur dalam darah.
3.      Etiologi
Seperti tumor ganas lain, maka etiologi kanker prostat belum diketahui dengan tepat.  Ada yang menghubungkan dengan radang atau hormon.  Hampir 75 % kanker prostat ditemukan pada bagian posterior dari pada lobus medius, dan hampir seluruhnya mulai dari bagian yang dekat dengan simpai. Ada pendapat tercatat bahwa terdapat 3 kali lebih besar kasusnya karena ada riwayat ayah atau kakek menderita kanker prostat. Karsinoma prostat ini merupakan tumor ganas yang sering ditemukan pada pria dewasa ( 50% dari seluruh tumor ganas pria ) usia diatas 50 tahun dan akan meningkat tajam pada usia di atas 80 tahun.
4.      Patofisiologi
Pertumbuhan sel yang abnormal ( adenokarsinoma ) yang berdeferensiasi  di sel parenchym kelenjar prostat secara infiltrat dibagian kapsul / pembungkusnya. Yang sering terserang adalah di bagian lobus posterior dan membentuk massa sehingga prostat membesar seperti hyperplasia kemudian dapat  terjadi penekanan di semi vesika urinaria atau penyempitan urethra.
Anak sebar menyebar ke lateral yaitu menuju otot anus / rectum melalui hematogen dan kelenjar lymphe sehingga dapat metastasi ke paru - paru, otak, tulang dan organ-organ lain.
5.      Tanda dan Gejala
      Timbulnya tanda dan gejala biasanya setelah stadium lanjut yaitu adanya pembesaran prostat, karena pada permulaan sulit diraba dalam pemeriksaan rektal touche.
a.       Gangguan saluran kencing :
1)      Retensi urine
2)      Nokturia
3)      Hematuri
4)      Disuria
5)      Kencing menetes
b.      Gangguan sistem lain :
1)      Nyeri di daerah rektum ( metastasi ke rektum / perineum )
2)      Sesak nafas / nafasnya terengah-engah
3)      Anaemia
4)      Berat badan turun
6.      Test diagnostik
a.       Biopsi dengan jarum lewat perineal atau Transrektal
b.      Biopsi dengan membuka jaringan kulit.
c.       Cystoscopy
d.      Pelvic CT Scan
e.       Transrectal Ultrasonografi
f.       Laboratorium :
1)      Alkali Phospatase
2)      PAP ( Prostatic Acid Phosphatase )
3)      Serum TAP ( Total Acid Phosphatase )
4)      Hb, leukosit, trombosit    
7.  Therapi
      a. Operasi :
1)      Prostatektomi radikal melalui perineal, retropubic dan transpubic
2)      Orchiectomy
     b. Obat-obatan :
Estrogen, Kortikosteroid , Kemoterapi.
8.       Komplikasi
a.       Metastase ke paru - paru, otak, dan tulang
b.      Hydronephrosis.
B. Konsep Dasar Keperawatan
Pengkajian
1.      Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan.
·         Faktor penyebab timbulnya  kanker prostat
·         Pemeliharaan kesehatan, pengobatan dan perawatan di rumah
2.      Pola nutrisi dan metabolik
·         Kebiasaan makanan yang dikonsumsi
·         Nafsu makan menurun , mual , muntah
·         Berat badan menurun
·         Konjuctiva pucat / anemi
·         Laboratorium  HB < 10 mg %         
Lekosit : Ada kenaikan jika terdapat infeksi sistem perkemihan
Ureum : > 30 – 40 mg %
Creatinin : > normal
Alkhali pospatase : > normal
Albumin : < normal
Globulin : < normal  
3.      Pola eliminasi .
·         Urine menetes tak dapat memancar, tidak dapat mengosongkan    kandung kemih sampai habis 
·         Nokturia
·         Dysuria
·         Urine campur darah
·         Peristaltik usus < 6 kali / menit
·         Kandung kemih  penuh dan keras
·         Rectal touche teraba benjolan dan keras  
·         Warna urine kuning tua, coklat sampai ada darah, ada  kuman bakteri  berjumlah sedikit
4.      Pola aktifitas dan latihan.
·         Riwayat pekerjaan
·         Mengeluh lemas, cepat lelah, tidak bergairah dalam melaksanakan                                                  aktifitas atau hobi.
·         Peningkatan tekanan darah
·         Tungkai udema  
5.       Pola tidur dan istirahat .
·         Gangguan tidur karena nyeri di daerah peritoneal
·         Kandung kemih penuh sering  bak dimalam hari, yang tidak terlampiaskan
·         Nyeri di daerah punggung
6.      Pola persepsi kognitif dan sensorik
a.       Pengetahuan klien tentang penyakitnya
b.      Usaha untuk mengatasi rasa nyeri
7.       Pola persepsi dan konsep diri
Mengeluh ada rasa tak berdaya, putus asa, depresi, menarik diri.
8.      Pola peran dan hubungan dengan sesama                                                   
·         Mengeluh tidak adekuatnya suport sistem
9.      Pola reproduksi dan seksual
·         Mengeluh menurunnya kemampuan berejakulasi, takut mengganggu    pasangannya dengan  urine yang menetes.
·         Adanya pembesaran prostat
10.  Pola  mekanisme koping dan toleransi
·         Mengeluh putus asa
·         Marah,  menarik diri, denial
11.  Pola sistem nilai atau kepercayaan
·         Sakit kanker adalah kutukan
Diagnose Keperawatan
1.      Cemas berhubungan dengan ketidaktahuan tentang diagnose dan tindakan pemeriksaan   dan prognosanya. 
2.      Perubahan pola eliminasi ( bak ): retensi urine berhubungan dengan obstruksi saluran  kencing urethra,  tonus kandung kemih menurun
3.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan meningkatnya metabolisme ( proliferasi sel-sel kanker ), intake kurang adekuat .
4.      Perubahan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan infiltrasi tumor ke organ tulang  dan rektum / perineal.
5.      Aktifitas Intoleran dan gangguan mobilisasi berhubungan dengan hipoksia jaringan, malnutrisi, dan kelelahan dan kompresi susunan saraf karena proses metastase.
6.      Defisit perawatan diri berhubungan dengan intoleransi beraktivitas.
7.      Gangguan seksual berhubungan dengan efek samping pengobatan :  kemotherapi, terapi  radiasi, operasi, nyeri .
Perencanaan 
a.       Cemas berhubungan dengan ketidaktauan tentang diagnose dan tindakan pemeriksaan  dan prognosanya.
        Hasil Yang diharapkan :
        Stress berkurang dan perbaikan koping yang ditandai dengan :
-          Penampilan rilaks.
-          Status kecemasan menurun sampai hilang.
-          Mendemonstrasikan kemampuan pengetahuan tentang
-          penyakitnya jika diberi pertanyaan.
-          Bergabung dalam komunikasi terbuka dengan pasien lain.
              Rencana tindakan :
1)      Mengkaji riwayat kesehatannya untuk tindakan selanjutnya yang meliputi:
-          Perhatian pasien
-          Tingkat pengetahuan pasien terhadap penyakitnya
-          Pengalaman sakit kankernya dimasa lalu
-          Pengetahuannya tentang diagnose kanker dan prognosisnya
-          Suport system yang ada dan metode koping yang digunakan
2)      Menyampaikan pendidikan kesehatan tentang diagnosis dan rencana panatalaksanaan medisnya terdiri dari :
-          Jelaskan secara sederhana apa pemeriksaan diagnostik yang kemungkinan akan dilakukan : misal berapa lama, apa persiapannya pengalaman apa yang anda kuasai.
-          Review rencana pengobatan dan beri kesempatan kepada  untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan.
3)      Kaji reaksi secara psikologi tentang diagnose  dan bagaimana koping yang digunakan untuk mengatasi stress.
b.      b. Perubahan pola eliminasi ( bak ): retensi urine berhubungan dengan obstruksi       saluran kencing urethra,   tonus kandung kemih menurun
    Hasil yang diharapkan :
    Pola eliminasi ( bak ) kembali normal ditandai dengan :
-          Interval bak normal
-          Dalam catatan tidak ada perabaan kandung kemih yang penuh setelah bak.
-          intake dan output seimbang
-          Tidak ada catatan tentang keluhan urine  menetes, kandung kemih penuh.
    Rencana tindakan :
1.      Kaji pola eliminasi ( bak ).
2.      Kaji tanda dan gejala retensi urine : jumlah .warna, palpasi kandung kemih terdapat retensi urine/tidak, ada keluhan urine sering dan sedikit-sedikit.
3.      Lakukan katerisasi untuk mengukur retensi urine yang ada (urine  residu)
4.      Tentukan ukuran/cara untuk mengatasi retensi a.l :
5.      Dorong pasien untuk mengatur posisi yang tepat waktu mengeluarkan urine.
-          Ajarkan menggunakan valsava manuver (mengejan)
-          Berikan obat  jenis cholienergik.
-          Monitor efek-efek  obat.
6.      Konsultasikan pada dokter tentang penggunaan kateter secara menetap atau tidak menetap
7.      Monitor fungsi kateter dan kepatenan serta kesterilannya.
c.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan meningkatnya metabolisme (akibat proliferasi sel-sel kanker), intake kurang adekuat
Hasil yang diharapkan :
Menjaga kebutuhan nutrisi secara optimal yang ditandai dengan
-  Ada respon positif terhadap makanan favorit.
-    Kebersihan mulut  terkontrol
-  Adanya kenaikan berat badan setelah keinginan / nafsu makan meningkat.
   Rencana tindakan :
1)      Kaji jumlah makanan yang dimakan.
2)      Mengukur berat badan pasien secara rutine : misal 1 mg sekali.
3)      Dengarkan keluhan pasien mengapa pasien tidak dapat makan lebih.
4)      Modifikasi makanan dengan menu favorit pasiennya.
5)      Kenali obat-obat atau faktor-faktor yang menyebabkan nafsu makan turun, mual, dan muntah.
6)      Jelaskan pada pasien bahwa akan mengalami perubahan rasa .
7)      Gunakan cara untuk mengontrol mual dan muntah dengan cara :
-          Berikan obat antemetik sesaui jadwal pemberian
-          Lakukan oral higiene sesudah episode muntah.
-          Lakukan periode istirahat dalam memberikan makan.
8)      Berikan porsi kecil dan sering dengan lingkungan yang menyenangkan dan nyaman.
d.      Perubahan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan infiltrasi tumor ke organ tulang dan rektum/perineal ( penyakitnya ) dan pengobatan modaliti ( utama )
Hasil yang diharapkan :
Nyeri hilang yang ditandai dengan : Dalam catatan tidak ada  keluhan nyeri.
Rencana Tindakan :
1)      Nilai nyeri pasien dengan skala nyeri , berupa intensitasnya, lokasinya.
2)      Kurangi gerak jika nyeri  hebat.
3)      Cegah pasien dari barang-barang yang akan mencederai misal kasur yang keras,
4)      Berikan analgesik atau jenis opioda secara rutine sesuai jadwal.
5)      Ajarkan teori destruksi nyeri, misal : musik, tarik nafasdalam, menggosok – gosok dengan lembut daerah nyeri.
e.       Aktifitas Intoleran dan gangguan mobilisasi berhubungan dengan hipoksia jaringan, malnutrisi dan kelelahan dan kompresi susunan saraf karena proses metastase.
    Hasil yang diharapkan :
   Mobilisasi fisik membaik ditandai dengan: Pasien mencoba untuk malakukan    aktifitas pasif dan secara bertahap melakukan aktifitas aktif.
Rencana tindakan :
1)      Kaji yang menyebabkan keterbatasan gerak misal : rasa nyeri.
2)      Berikan obat analgetik                                
3)      Dorong pasien menggunakan alat bantu : walker, cane.
4)      Bantu dengan gerakan pasif dengan latihan ROM
5)      Beri pujian kepada pasien atas usahanya.
6)      Kaji status nutrisi.
f.                f. Gangguan seksual berhubungan dengan efek samping pengobatan :   kemotherapi,
g.               terapi   radiasi, operasi, nyeri .
    Hasil yang diharapkan :
    Dapat memodifikasi fungsi seksualnya dengan rileks dan gembira yang ditandai dengan pasien mau mendiskusikan alternatif pendekatan yang tepat untuk mengekspresikan seksualnya .
    Rencana tindakan:
1)      Kaji dari riwayat perawatan atau pengobatan yang mengakibatkan gangguan fungsi seksual.
2)      Informasikan pada pasien efek dari terapi, operasi prostat, radiasi, hormonal dan terapi lain yang mempengaruhi peran seksual.
3)      Ikutsertakan pasangan atau orang-orang terdekatnya dalam pengetahuannya menggunakan metode hubungan intim sehingga terjalin saling trust.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.
Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya
Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar