Jumat, 16 September 2011

pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik pada anak usia toddler

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak (Lembaran Negara Tahun 1979 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3143)
Dalam perkembangan anak menuju dewasa terdapat berbagai tahapan yang harus dilalui anak. Tahapan terpenting adalah masa balita terutama masa tiga tahun pertama (usia toddler), karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan selanjutnya. Kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional, dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Disini pengetahuan keluarga sangat penting dan membantu dalam pencapaian perkembangan anaknya. Pengetahuan sendiri mempunyai arti hasil tahu yang terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2003). Sedangkan keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan ikatan perkawinan, adopsi, dan kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial setiap anggotanya (Duvall, 1977).
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan, (Soetjiningsih, 1995). Perkembangan motorik berarti perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot yang terkordinasi. Secara umum perkembangan motorik dibagi menjadi dua bagian, yaitu gerakan yang melibatkan bagian tubuh yang luas (motorik kasar) dan gerakan yang melibatkan bagian tubuh tertentu, dilakukan otot – otot kecil, diperlukan koordinasi yang cermat (motorik halus). (Hurlock, 1997)
Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan hasil interaksi antara faktor genetik – herediter – konstitusi dengan faktor lingkungan. Masa kanak – kanak merupakan saat yang ideal untuk mempelajari keterampilan motoriknya. Pertumbuhan dan perkembangan anak perlu dikaji karena banyak orang tua yang tidak mengetahui tentang pertumbuhan dan perkembangan anak yang normal, sehingga apabila terjadi keterlambatan atau penyimpangan tumbuh kembang pada anaknya dapat diatasi segera.
Menurut laporan penelitian tahun 2001 oleh Kartika, Vita, dkk tentang faktor – faktor yang mempengaruhi kemampuan motorik anak terdapat 20 anak (47 %) dari seluruh sample yang mengalami keterlambatan kemampuan motorik. Dari 20 anak tersebut sebagian besar yaitu 15 anak (65 %) berasal dari keluarga miskin dan sisanya 5 anak (35 %) dari keluarga tidak miskin. Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Krian pada periode tahun 2005, tercatat 2490 anak usia 1 – 5 tahun yang dideteksi / stimulasi tumbuh kembang, 11 % (275 anak) diantaranya mengalami penyimpangan tumbuh kembang. Dari 275 anak tersebut 152 anak (55%) mengalami gizi kurang, 67 anak (24 %) mengalami gizi buruk, dan 56 anak (21 %) dengan lingkar kepala dan lingkar lengan atas tidak normal. Pada pengamatan sesaat dengan menggunakan lembar DDST pada 10 anak usia toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo dapatkan 6 anak dengan hasil meragukan, 1 anak dengan hasil abnormal, dan 3 anak yang hasil DDSTnya normal terutama dalam hal pencapaian perkembangan motoriknya..
Pada usia toddler perkembangan termasuk fisik, kognitif, sosial, spiritual, dan emosional saling mempengaruhi satu sama lain dan semuanya tumbuh secara simultan. Sebaliknya bila terdapat kesalahan atau keterlambatan pada satu tahap akan berdampak pada tahap lainnya. Sebagai contoh anak yang malnutrisi terdapat kemunduran fisik akibatnya kemampuan belajar anak lebih rendah dari anak yang normal, anak yang mempunyai masalah belajar sering merasa kurang percaya diri. Disini peran keluarga sangat dibutuhkan dalam mendukung proses belajar anak, seperti memberi kesempatan pada anak untuk memilih apa yang akan dilakukan, bermain dengan balok, sehingga anak lebih bebas berkreativitas.
Peran keluarga dalam tumbuh kembang anak sangat penting sehingga pengetahuan keluarga terhadap perkembangan anak sangat diperlukan dan diharapkan bisa mendeteksi adanya gangguan tumbuh kembang pada anak sedini mungkin. Dengan demikian deteksi dini dan intervensi dini sangat membantu agar tumbuh kembang anak dapat seoptimal mungkin.
Dengan permasalahan diatas, maka perlu dilakukan penelitian tentang “Hubungan tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik dengan pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler (1 – 3 tahun) di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo.

B. Rumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Kurangnya pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik pada anak usia toddler dapat berdampak pada keterlambatan perkembangan motorik anak sehingga pencapaian perkembangan motorik anak tidak sesuai dengan yang diharapkan.
2. Pertanyaan Masalah
Berdasarkan uraian identifikasi masalah diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
a. Bagaimana tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik pada anak usia toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo ?
b. Bagaimana pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo ?
c. Adakah hubungan tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik dengan pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler (1 – 3 tahun) di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo ?


C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi hubungan tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik dengan pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler (1 – 3 tahun).
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik pada anak usia toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo.
b. Mengidentifikasi pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo.
c. Mengidentifikasi hubungan tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik dengan pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler (1 – 3 tahun) di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Profesi Kebidanan
Hasil penelitian ini dapat sebagai tambahan ilmu bagi profesi kebidanan untuk mengukur kemampuan tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik dengan pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler (1 – 3 tahun).

2. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi untuk peneliti sendiri dan untuk peneliti selanjutnya.
3. Bagi Keluarga
Hasil penelitian ini dapat memberi informasi atau gambaran bagi keluarga tentang perkembangan motorik anak usia toddler dan pencapaian perkembangan motorik anak usia toddler (1 – 3 tahun).
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan disajikan konsep – konsep yang mendasari penelitian yang meliputi, 1) Konsep pengetahuan, 2) Konsep keluarga, 3) Konsep tumbuh kembang, 4) Konsep perkembangan motorik, 5) Konsep DDST.

A. Konsep Pengetahuan
1. Pengertian
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh mata dan telinga.
2. Proses Adopsi Perilaku
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior). Penelitian Roger (1974) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :
a. Kesadaran (awareness), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
b. Tertarik (interest) terhadap stimulus atau objek tersebut.
c. Evaluasi (evaluation) terhadap baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.
d. Mencoba (trial), dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan stimulus, yang memberi manfaat / keuntungan pada dirinya.
e. Adopsi (adoption), dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
3. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu :
a Tahu (know)
Diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang telah dipelajari antara lain : menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya. Contoh : dapat menyebutkan maksud dari perkembangan motorik.
b. Memahami (comprehention)
Diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Misalnya, dapat menjelaskan apa saja perkembangan yang harus dicapai anak usia toddler.


c. Aplikasi (application)
Diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Seperti menggunakan alat bantu (kubus) dalam menstimulus perkembangan anak.
d. Analisis (analisys)
Merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek menjadi beberapa bagian tetapi masih menjadi satu kesatuan dan masih ada kaitannya satu sama lain. Contoh : mampu membedakan mana yang merupakan perkembangan motorik kasar dan mana yang merupakan perkembangan motorik halus.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk menyusun, merencanakan, meringkas, menyesuaikan sesuatu terhadap teori atau rumusan yang telah ada. Seperti merencanakan perkembangan apa yang harus dilampaui anak pada tahap perkembangan berikutnya dan alat – alat apa yang dapat dipilih sesuai situasi / kondisi lingkungan yang dapat mendukungnya.
f. Evaluasi (evaluation)
Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian ini berdasarkan pada suatu kriteria yang ditemukan sendiri atau menggunakan kriteria – kriteria yang telah ada. Misalnya dapat menafsirkan sebab – sebab terjadinya keterlambatan pada anak.
(Notoatmodjo, 2003)
4. Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
a. Pengalaman
Diartikan berdasarkan pikiran kritis, tetapi pengalaman belum tentu teratur dan bertujuan. (Soekanto soeryono, 2001)
Pengalaman biasanya diperoleh dari orang lain atau diri sendiri, hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang kita peroleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi. Kita dapat memperoleh pengetahuan baru dari pengalaman yang kita peroleh sehingga menambah pengetahuan kita.
b. Usia
Adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. (Hurlock, 1997)
Usia mempengaruhi pengetahuan seseorang, semakin usia bertambah seharusnya pengetahuan yang dimiliki semakin luas karena pengalaman – pengalaman yang dimiliki lebih banyak sehingga dapat mengambil keputusan yang lebih baik.
c. Gizi
Adalah suatu proses yang terjadi pada makhluk hidup untuk mengambil dan menggunakan zat yang ada dalam makanan dan minuman guna mempertahankan hidup, pertumbuhan, bereproduksi, dan untuk menghasilkan energi. (Badudu & Zain, 1996)
Seseorang yang kekurangan gizi maka orang tersebut akan mudah sakit dan perkembangan otaknya pun juga menurun / tidak berkembang. Jika perkembangan otaknya menurun maka daya pikirnya juga menurun sehingga dalam menerima pengetahuan kurang (sulit diserap) dan pengalaman yang dimilikinya berkurang.
d. Pendidikan
Adalah suatu poses belajar yang berarti, dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan kearah yang lebih dewasa, lebih baik dengan lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat. (Kuncoro ningrat, 1997)
Dimana dengan pendidikan yang dimiliki orang akan mampu memahami sesuatu dengan berpikiran secara rasional dalam mengambil tindakan, dan semakin orang tersebut berpendidikan tinggi semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki / diserap, karena orang yang berpendidikan tinggi sudah memiliki dasar pengetahuan yang cukup sehingga akan lebih mudah dalam menerima informasi.
e. Informasi
Adalah rangsangan / stimulus yang disampaikan oleh sumber kepada sasaran, karena informasi merupakan hasil penelitian dan pendapat sumber yang ingin disampaikan kepada orang lain.
Informasi merupakan persepsi atas fakta – fakta, hubungan fakta – fakta tersebut akan membentuk suatu kesimpulan sehingga akan menambah pengetahuan bagi si penerima informasi.
f. Media Massa
Adalah sarana penyebaran berita seperti surat kabar dan majalah. (Badudu & Zain, 1996)
Melalui media massa kita dapat memperoleh informasi yang ada didalamnya sehingga dengan banyak membaca berita semakin bertambah informasi yang didapatkan maka pengetahuan yang dimiliki juga bertambah.
g. Media Elektronik
Adalah sarana penyebaran berita seperti televisi, radio, dan film. (Badudu & Zain, 1996)
Media elektronik merupakan sumber pengetahuan yang utama saat ini, karena media ini lebih sering dijumpai dan dipakai langsung setiap hari.
h. Lingkungan
Lingkungan bisa membentuk manfaat yang baik dan buruk terhadap kita, pengaruh baik dan buruk lingkungan dapat memberikan pengetahuan terhadap diri kita sendiri atau orang lain, misalnya dalam lingkungan keluarga dimana dalam keluarga tersebut hidup rukun dan harmonis maka akan memberikan manfaat yang baik dalam kehidupan kelak, sebaliknya jika dalam keluarga tersebut sering terjadi pertengkaran maka bisa membentuk manfaat yang kurang baik bagi anak.

5. Cara Memperoleh Pengetahuan
a. Cara Tradisional
Cara ini dipakai untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sebelum ditemukan metode ilmiah atau penemuan secara sistemik dan logis, cara – cara ini meliputi :
1) Coba – coba salah (trial and error)
Cara ini paling tradisional, digunakan oleh manusia untuk memperoleh pengetahuan dan dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin sebelum ada peradaban.
Cara coba – coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan lain dan seterusnya sampai masalah tersebut dapat terpecahkan. Itulah sebabnya cara ini disebut metode trial (coba) dan error (gagal / salah). Jika orang telah berhasil maka ia akan mendapatkan pengetahuan baru dalam memecahkan suatu masalah.
2) Cara kekuasaan atau otoritas
Dalam kehidupan sehari- hari banyak sekali kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melalui penalaran apa yang dilakukan tersebut baik atau buruk. Kebiasaan ini biasanya diwariskan turun – temurun, kebiasaan seolah – olah diterima dari sumbernya sebagai kebenaran yang mutlak. Sumber pengetahuan tersebut berupa pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan, dan sebagainya.
Dengan kata lain pengetahuan tersebut diperoleh didasarkan otoritas atau kekuasaan, baik dari tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama, maupun ahli pengetahuan.
3) Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu. Tetapi bila gagal orang berusaha mencari jalan lain sehingga dapat berhasil memecahkan masalahnya. Gagal atau berhasil merupakan pengetahuan bagi orang yang mengalami pengalaman tersebut.
4) Melalui jalan pikiran
Sejalan dengan perkembangan kebudayaan manusia, cara berpikir manusiapun ikut berkembang. Manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuan melalui jalan pikiran induksi maupun deduksi.induksi dan deduksi pada dasarnya merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pertanyaan yang dikemukakan, kemudian dicari hubungan sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan. Kesimpulan inilah yang merupakan bibit pengetahuan yang akan terus dikembangkan sesuai kebutuhannya. Apabila kesimpulan melalui pertanyaan khusus ke umum dinamakan induksi, sedangkan deduksi adalah membuat kesimpulan dari pertanyaan – pertanyaan umum ke khusus.
b. Cara Modern
Cara modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini dapat sistematis, logis, dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih disebut metodologi penelitian. Hasil penelitian tersebut dikumpulkan dan diklasifikasi, diambil kesimpulan dan dilakukan evaluasi pada objek yang diamati. Kemudian hal tersebut dijadikan dasar pengambilan kesimpulan, selanjutnya diadakan penggabungan antara proses berpikir deduktif – induktif – verifikasi yang akhirnya lahir cara penelitian.
(Notoatmodjo, 2002)
6. Cara Mengukur Pengetahuan
a. Wawancara
Adalah suatu metode yang digunakan untuk mengumpulkan data, dimana peneliti mendapatkan keterangan / pendirian secara lisan dari seseorang sasaran penelitian atau bercakap – cakap berhadapan muka dengan orang tersebut. Sasaran penelitian ini adalah keluarga yang memiliki anak usia toddler.


Syarat wawancara antara lain :
1) Saling melihat, mendengar, dan mengerti
2) Terjadi percakapan biasa, tidak terlalu kaku (formal)
3) Mengadakan persetujuan / perencanaan pertemuan dengan tujuan tertentu
4) Menyadari adanya kepentingan yang berbeda antara pencari informasi dan pemberi informasi
b. Angket
Adalah suatu cara pengumpulan data yang menyangkut kepentingan umum (orang banyak). Angket ini dilakukan dengan mengadakan suatu daftar pertanyaan yang berupa formulir – formulir, diajukan secara tertulis kepada sejumlah objek. Oleh karena angket ini selalu berbentuk formulir – formulir yag berisikan pertanyaan (question) maka angket sering disebut kuestionaire.
Isi kuestioaire penelitian ini tentang pengertian tumbuh kembang, fungsi perkembangan motorik, dan perkembangan motorik yang harus dicapai anak usia toddler.
Beberapa persyaratan angket antara lain :
1) Relevan dengan tujuan penelitian
2) Mudah ditanyakan
3) Mudah dijawab
4) Data yang diperoleh mudah diolah (diproses)

c. Check list
Check list merupakan alat yang digunakan saat wawancara / observasi sehingga dapat disusun sesuai dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki, ada yang dievaluasi dan dapat dibedakan bermacam – macam kriteria sesuai dengan kehendak orang yang mengukur pengetahuan.

B. Konsep Keluarga
1. Pengertian
Keluarga didefinisikan dengan beberapa cara pandang. Keluarga dapat dipandang sebagai tempat pemenuhan kebutuhan biologis bagi para angggotanya. Cara pandang dari sudut psikologis, keluarga adalah tempat berinteraksi dan berkembangnya kepribadian anggota keluarga. Secara ekonomi keluarga dianggap sebagai unit yang produktif dalam menyediakan materi bagi anggotanya dan secara sosial adalah sebagai unit yang bereaksi terhadap lingkungan yang lebih luas.
Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, dan kelahiran, yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial setiap anggota. (Duvall, 1977)
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam peranannya masing – masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan. (Bailon & Maglaya, 1989)
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. (Depkes RI, 1988)
2. Ciri - Ciri Keluarga
Dari pengertian – pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa keluarga itu adalah :
a. Unit terkecil masyarakat.
b. Adanya ikatan perkawinan, pertalian darah, atau adopsi.
c. Hidup dalam satu rumah tangga.
d. Dibawah asuhan seorang kepala rumah tangga.
e. Berinteraksi satu sama lain.
f. Setiap anggota keluarga menjalankan peranannya masing – masing.
g. Menciptakan dan mempertahankan suatu kebudayaan (tradisi keluarga).
3. Bentuk Keluarga
a. Keluarga inti (nuclear family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak – anak.
b. Keluarga besar (extended family) adalah keluarga inti ditambah dengan sanak keluarga, misalnya : nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi, dan sebagainya.
c. Keluarga berantai (serial family) adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
d. Keluarga duda / janda (single family) adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
e. Keluarga berkomposisi (composite family) adalah keluarga yang kawinnya berpoligami dan hidup secara bersama.
f. Keluarga kabitas (cahabitation family) adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga.
(Nasrul effendi, 1995)
Tipe / bentuk keluarga di Indonesia umumnya menganut tipe keluarga besar (extended family), karena pada masyarakat Indonesia yang terdiri dari beberapa suku yang hidup dalam suatu komuniti dengan adat istiadat yang sangat kuat.
4. Fungsi Keluarga
Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga sebagai berikut :
a. Fungsi biologis
Tugas keluarga yang utama dalam hal ini adalah meneruskan keturunan sebagai generasi penerus, memelihara dan membesarkan anak hingga pertumbuhan yang optimal.


b. Fungsi pendidikan
Dalam hal ini tugas keluarga adalah mendidik anak sesuai tingkat – tingkat perkembangannya dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak bila kelak dewasa.
c. Fungsi sosialisasi
Tugas keluarga dalam menjalankan fungsi ini adalah bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
d. Fungsi perlindungan
Tugas keluarga dalam hal ini adalah melindungi anak dari tindakan – tindakan yang tidak baik, sehingga anggota keluarga merasa terlindungi dan merasa aman.
e. Fungsi psikologis
Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga secara intuitif, merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi sesama anggota keluarga sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
f. Fungsi religius
Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, serta menanamkan moral dan etika, sehingga keluarga akan berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya karena mengerti mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.
g. Fungsi ekonomis
Tugas keluarga dalam hal ini adalah mencari sumber – sumber kehidupan dalam memenuhi fungsi – fungsi keluarga yang lain, kepala keluarga bekerja untuk memperoleh penghasilan, mengatur penghasilan tersebut sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan – kebutuhan keluarga.
h. Fungsai rekreatif
Tugas keluarga dalam fungsi ini tidak harus pergi ke tempat rekreasi, tetapi yang penting bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga sehingga dapat mencapai keseimbangan kepribadian masing – masing keluarga. Rekreasi dapat dilakukan dirumah dengan cara menonton televisi bersama, bercerita tentang pengalaman masing – masing dan sebagainya.

C. Konsep Tumbuh Kembang
1. Pengertian
Dalam kehidupan anak ada dua proses yang berjalan secara kontinyu yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Kedua proses ini berlangsung secara interdependent / saling bergantung satu sama lain.
Pertumbuhan adalah suatu peningkatan ukuran tubuh yang dapat diukur dengan meter atau sentimeter untuk tinggi badan dan kilogram atau gram untuk berat badan, sedang perkembangan adalah suatu peningkatan keterampilan dan kapasitas anak untuk berfungsi secara bertahap dan terus menerus. (Marlow, 1988)
Pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah dan ukuran, sedangkan perkembangan menitik beratkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks melalui proses maturasi dan pembelajaran. (Whaley & Wong, 2000)
2. Teori Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak
a. Teori Psikoseksual (Freud)
Sigmund Freud menganggap penting naluri seksual dalam perkembangan kepribadian. Pada setiap tahapan, bagian – bagian tubuh dianggap sebagai sumber kepuasan psikologis yang signifikan, masing – masing tahapan dianggap membangun dan menggolongkan pencapaian tahapan sebelumnya. Kegagalan untuk mencapai suatu tahapan akan menyebabkan berbagai bentuk patologi, seperti pemuasan / kekurangan oral yang berlebihan dapat menyebabkan fiksasi libidinal yang berperan dalam sifat patologis. Sifat tersebut dapat termasuk optimisme yang berlebihan, narcisisme, pesimisme (sering terlihat pada keadaan depresif) dan sifat menuntut. Karakter oral adalah sering tergantung berlebihan pada benda untuk mempertahankan harga diri mereka. Cemburu dan iri sering berhubungan dengan sifat oral. Berikut ini dijelaskan satu persatu :
1) Fase Oral (0 – 11 bulan)
Selama masa bayi, sumber kesenangan anak terbesar berpusat pada kepuasan oral, seperti mengisap, menggigit, mengunyah, dan mengucap.
2) Fase Anal (1 – 3 tahun)
Pada fase ini kehidupan anak berpusat pada kesenangan anak, yaitu selama perkembangan otot spingter. Anak senang menahan feses, bahkan bermain – main dengan fesesnya sesuai dengan keinginannya.
3) Fase Falik (3 – 6 tahun)
Selama fase ini, genetalia menjadi area yang menarik dan area tubuh yang sensitif. Anak mulai mempelajari adanya perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki – laki dengan mengetahui adanya perbedaan alat kelamin.
4) Fase Laten (6 – 12 tahun)
Selama periode laten, anak menggunakan energi fisik dan psikologis yang merupakan media untuk mengeksplorasi pengetahuan dan pengalamannya melalui aktivitas fisik maupun sosial. Anak perempuan lebih menyukai teman yang sejenis, begitupula sebaliknya.



5) Fase Genital (12 – 18 tahun)
Tahap akhir masa perkembangan menurut Freud adalah tahap genital ketika anak mulai masuk fase pubertas, yaitu dengan proses kematangan organ reproduksi dan produksi hormon seks.
b. Teori Psikososial (Erikson)
Eric Erikson mengungkapkan bahwa anak akan menghadapi krisis yang memerlukan integrasi antara kebutuhan dan keterampilan pribadi dengan tuntutan budaya dan sosial. Tiap tahap mempunyai dua kemungkinan komponen, yang disukai dan tidak disukai. Perkembangan terjadi dalam stadium yang berurutan dan tegas batasnya, dan tiap – tiap tahap harus diselesaikan secara memuaskan guna kelanjutan perkembangan secara lancar, jika resolusi tahap tertentu tidak berhasil, semua tahap selanjutnya dapat mencerminkan kegagalan tersebut baik secara samar – samar sampai keadaan yang nyata dalam bentuk ketidakmampuan menyesuaikan diri (mal adjustment) secara fisik, kognitif, sosial, atau emosional. Berikut ini penjelasannya :
1) Percaya diri vs Tidak percaya (0 – 1 tahun)
Terbentuknya kepercayaan diperoleh dari hubungan dengan orang lain dan orang yang pertama berhubungan adalah orang tuanya. Anak akan mengembangkan rasa tidak percaya pada orang lain apabila pemenuhan kebutuhannya tidak terpenuhi.

2) Otonomi vs Rasa malu dan ragu (1 – 3 tahun)
Anak ingin melakukan hal – hal yang ingin dilakukannya sendiri dengan kemampuan yang dimiliki, seperti berjalan, berjinjit, memilih mainan yang diinginkannya. Sebaliknya, perasaan malu dan ragu akan timbul saat mereka dipaksa oleh orang dewasa untuk memilih atau berbuat sesuatu yang dikehendaki mereka.
3) Inisiatif vs Rasa bersalah (3 – 6 tahun)
Perkembangan inisiatif diperoleh dengan cara mengkaji lingkungan melalui kemampuan indranya untuk menghasilkan sesuatu sebagai prestasinya. Perasaan bersalah akan timbul bila anak tidak mampu berprestasi.
4) Industry vs Inferiority (6 – 12 tahun)
Kemampuan anak untuk berinteraksi sosial lebih luas dengan teman dilingkungannya dapat memfasilitasi perkembangan perasaan sukses (sense of industry). Perasaan tidak adekuat dan rasa inferior atau rendah diri akan berkembang apabila anak terlalu mendapat tuntutan dari lingkungannya.
5) Identitas vs Kerancuan peran (12 – 18 tahun)
Anak remaja akan berusaha menyesuaikan perannya sebagai anak yang berada pada fase transisi dari kanak – kanak menuju dewasa. Ketidakmampuan dalam mengatasi konflik akan menimbulkan kerancuan peran yang harus dijalankannya.
c. Teori Kognitif (Piaget)
Jean Piaget menyatakan ada empat tahapan perkembangan berpikir logis. Tiap tahap terjadi dan terbentuk dari tahap sebelumnya sesuai kebiasaan terdahulunya sebagai landasan tahapan perkembangan berikutnya.
1) Tahap Sensoris – Motoris (0 – 2 tahun)
Tiga tahapan penting dari tahap ini adalah perpisahan anak dengan lingkungan seperti ibunya, ada persepsi tentang konsep benda yang permanent atau konstan serta penggunaan simbol untuk mempersepsikan situasi atau benda, misalnya dengan mainan.
2) Tahap Praoperasional (2 – 7 tahun)
Anak mulai mengembangkan sebab akibat, trial and error, dan menginterprestasikan benda atau kejadian serta menyiapkan diri memasuki dunia sekolah.
3) Tahap Concrete Operational (7 – 11 tahun)
Kemampuan berpikir anak sudah rasional, imajinatif dan dapat menggali objek atau situasi lebih banyak untuk memecahkan masalah.
4) Tahap Formal Operational (11 – 15 Tahun)
Anak dapat membuat dugaan dan mengujinya dengan pemikirannya yang abstrak, teoritis, dan filosofis.


d. Teori Moral (Kohlberg)
Perkembangan moral anak yang dikemukakan Lawrence Kohlberg didasarkan pada perkembagan kognitif anak dan terdiri dari tiga tahapan utama
1) Fase Pre Conventional
Anak belajar baik dan buruk, atau benar dan salah melalui budaya sebagai dasar dalam peletakan nilai moral.
2) Fase Conventional
Anak berorientasi pada mutualitas hubungan interpersonal dengan kelompok, disini anak akan membentuk karakter dan belajar berperilaku sesuai dengan kelompoknya.
3) Fase Post Conventional
Anak usia remaja telah mampu membuat keputusan berdasar pada prinsip yang dimilliki dan diyakininya, apapun tindakan yang diyakininya dipersepsikan sebagai suatu kebaikan.
3. Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Periode pranatal dari masa konsepsi sampai kelahiran
b. Periode bayi
1) Neonatus, dari lahir sampai 28 hari
2) Infant, dari 1 bulan – 12 bulan
c. Periode kanak – kanak awal
1) Toddler, dari 1 tahun – 3 tahun
2) Preschool, dari 3 tahun – 6 tahun
d. Periode kanak – kanak pertengahan (school age), dari 6 tahun – 12 tahun
e. Periode kanak – kanak akhir (adolescene), dari 12 tahun – 19 tahun
4. Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan Perkembangan
a. Herediter
Jenis kelamin laki – laki cenderung lebih tinggi dan berat dari pada jenis kelamin perempuan. Beberapa suku bangsa menunjukkan karakteristik yang khas, misalnya suku Asmat secara turun – temurun berkulit hitam.
b. Lingkungan
1) Budaya
Budaya keluarga dan masyarakat dapat mempengaruhi dalam mempersepsikan dan memahami kesehatan serta berperilaku hidup sehat. Pola perilaku ibu hamil dipengaruhi oleh budaya yang dianutnya, misalnya adanya beberapa larangan nuntuk makanan tertentu padahal zat bergizi tersebut diperlukan pertumbuhan janin.
2) Status sosial dan ekonomi keluarga
Keluarga dengan latar belakang pendidikan rendah sering kali tidak dapat, tidak tahu, atau tidak meyakini pentingnya penggunaan fasilitas kesehatan yang dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan anaknya.


3) Nutrisi
Anak dapat mengalami hambatan pertumbuhan dan perkembangan hanya karena kurang adekuatnya asupan gizinya.
4) Iklim dan cuaca
Musim penghujan dapat menimbulkan banjir sehingga timbul berbagai penyakit menular, jika anak sakit pertumbuhan dan perkembangan akan terganggu.
5) Olahraga / latihan fisik
Olah raga akan meningkatkan aktivitas fisik dan menstimulasi perkembangan otot dan pertumbuhan sel.
6) Posisi anak dalam keluarga
Misalnya, anak pertama biasanya mendapat perhatian lebih karena belum ada saudaranya, sehingga seringkali anak tumbuh menjadi anak yang perfeksionis dan cenderung pencemas.
c. Internal
1) Kecerdasan
Anak yang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan rendah tidak akan mencapai prestasi yang cemerlang walaupun stimulus yang diberikan lingkungan demikian tinggi.
2) Hormonal
Ada tiga hormon utama yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu :
a) Hormon pertumbuhan (Growth Hormon)
Hormon yang mempengaruhi tinggi badan
b) Hormon Tiroid
Menstimulasi metabolisme tubuh
c) Hormon Gonadotropin
Menghasilkan hormon testoteron pada laki – laki dan hormon estrogen pada perempuan yang akan menstimulasi perkembangan karakteristik seks sekunder
3) Emosi
Anak belajar mengekspresikan perasaan dan emosinya dengan meniru perilaku orang tuanya, apabila orang tua sering membentak, anak akan belajar untuk berbicara kasar pada orang lain.

D. Konsep Perkembangan Motorik
1. Pengertian
Perkembangan motorik berarti perkembangan pengendalian gerakan jamaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi. Pengendalian tersebut berasal dari perkembangan dan kegiatan fetus yang ada pada waktu lahir. Secara umum perkembangan motorik bisa dibagi menjadi 2 bagian, yaitu motorik kasar dan motorik halus. (Hurlock, 1997)
2. Prinsip Perkembangan Motorik
a. Perkembangan motorik bergantung pada kematangan otot dan syaraf.
Perkembangan motorik sejalan dengan perkembangan sistem syaraf. Demikian juga, perkembangan fetus yang ada pada waktu lahir, secara perlahan berkembang menjadi kegiatan yang sederhana yang membentuk landasan bagi keterampilan. Gerakan terampil belum dapat dikuasai sebelum otot anak berkembang.
b. Belajar keterampilan motorik tidak terjadi sebelum otot dan syaraf berkembang.
Sebelum sistem syaraf dan otot berkembang dengan baik, upaya untuk mengajarkan gerakan terampil bagi anak akan sia – sia karena otot dan syaraf anak belum mampu untuk melakukan gerakan tersebut.
c. Perkembangan motorik mengikuti pola yang dapat diramalkan.
Perkembangan motorik dapat diramalkan, dibuktikan dengan usia anak ketika mulai berjalan konsisten dengan laju perkembangan keseluruhannya. Misalnya, anak yang duduknya lebih awal akan berjalan lebih awal daripada anak yang duduknya terlambat.
d. Umur dimungkinkan menentukan norma perkembangan motorik.
Kenyataan bahwa pada umur tertentu gerak reflek tertentu menurun sedangkan gerak reflek yang lain bertambah kuat dan terkoordinasi lebih baik. Norma tersebut dapat dijadikan petunjuk bagi orang tua dan orang lain untuk mengetahui apa yang dapat diharapkan dan pada umur berapa hal itu dapat diharapkan dari anak.

e. Perbedaan individu dalam laju perkembangan motorik.
Meskipun dalam aspek yang lebih luas perkembangan motorik mengikuti pola yang serupa untuk semua anak, tetapi tiap anak berbeda tergantung umur pada waktu individu tersebut mencapai tahap perkembangan tertentu.
3. Fungsi Keterampilan Motorik
Fungsi keterampilan motorik pada anak adalah :
a. Untuk mencapai kemandiriannya.
b. Anak akan menjadi lebih percaya diri.
c. Anak semakin yakin dalam mengerjakan segala sesuatu karena sadar akan kemampuan fisiknya.
d. Anak – anak yang kemampuan motoriknya baik, biasanya mempunyai keterampilan sosial yang positif.
(Hurlock, 1997)









4. Tahapan Perkembangan Motorik Anak Usia Toddler
Tabel 2.1 Tahap perkembangan motorik usia 1 – 2 tahun

No Motorik Kasar No Motorik Halus
a.
b.


c.

d.

e.
f.

g.

h. Merangkak
Berdiri dan berjalan beberapa langkah pada sekitar usia 12 bulan
Berjalan cepat pada usia sekitar 15 bulan
Cepat – cepat duduk agar tidak terjatuh
Merangkak di tangga
Berdiri dikursi tanpa berpegangan
Menarik dan mendorong benda keras seperti meja / kursi
Melempar bola a.

b.

c.

d.

e.

f.


g.
h. Mengambil benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk
Mengambil benda kecil dalam mangkok
Membuka 2 – 3 halaman buku secara bersamaan
Menyusun beberapa balok menjadi menara
Menuang cairan dari satu wadah ke wadah lain
Memakai kaos kaki, sepatu sendiri dengan hasil kurang sempurna
Memutar tombol radio / TV
Mengupas pisang dengan hasil kurang sempurna


Tabel 2.2 Tahap perkembangan motorik usia 2 – 3 tahun

No Motorik Kasar No Motorik Halus
a.
b.
c.

d.

e.

f.
g.
h.
i.

j.
Melompat ditempat
Berjalan mundur hingga 3 meter
Menendang bola dengan mengayunkan kaki
Memanjat kursi dan berdiri diatasnya
Langsung bangun tanpa berpegangan ketika berbaring
Berjalan jinjit
Berdiri sebelah kaki
Naik tangga dengan kaki
Lompat dari anak tangga terakhir
Mengayuh sepeda a.


b.

c.
d.
e.

f.

g.
h. Melakukan kegiatan dengan satu tangan seperti mencoret – coret
Menggambar garis lurus serta lingkaran tak beraturan
Menggenggam pensil
Membuka grendel pintu
Menggunting dengan hasil kurang sempurna
Mengancing baju dengan resleting
Membuka tutup toples
Membuka baju lengkap sendiri





5. Pengukuran Perkembangan Motorik
Tes yang digunakan untuk mengukur perkembangan motorik anak adalah :
a. Brazelton Newborn Behaviour Assessment Scale
Fungsi : Menaksir kondisi bayi, reflek dan interaksi
Umur : Neonatus
b. Uzgiris – Hunt Ordinal Scale
Fungsi : Menaksir stadium sensori motor menurut Piaget
Umur : 0 – 2 tahun
c. Gesell Infant Scale & Catell Infant Scale
Fungsi : Terutama menaksir perkembangan motoik pada tahun pertama dengan beberapa perkembangan sosial dan bahasa
Umur : 4 minggu - 3½ / 6 tahun
d. Bayley Infant Scale of Development
Fungsi : Menaksir perkembangan motorik dan sosial
Umur : 8 minggu - 2½ tahun
e. Denver Development Screening Test
Fungsi : Menaksir perkembangan sosial, motorik halus, bahasa, dan motorik kasar
Umur : 1 bulan – 6 tahun
Catatan : Diberikan secara individual, dengan partisipasi aktif dari orang tua dan pemeriksa
f. Yale Revised Development Test
Fungsi : Menaksir perkembangan sosial, motorik halus, adaptif, bahasa, dan motorik kasar
Umur : 4 minggu – 6 tahun
g. Diagnostik Perkembangan Fungsi Munchen Tahun Pertama
Fungsi : Menaksir perkembangan umur merangkak, duduk, berjalan, memegang, persepsi, bicara, pengertian bahasa, dan sosialisasi
Umur : 1 tahun pertama
Catatan : Diberikan secara individual, dengan partisipasi aktif dari orang tua dan pemeriksa
h. Geometric Form Test
Fungsi : Menaksir perkembangan motorik halus dan intelektual
Catatan : Tes individual
i. Bender – Gestalt Visual Motor Test
Fungsi : Menaksir anak yang dicurigai mengalami masalah dengan persepsi – motorik
Umur : 4 – 12 tahun
Catatan : Tes individual
j. Draw – A – Man Test
Fungsi : Skrining IQ yang mudah dan cepat dengan menggunakan norma Good Enough
Umur : Minimal 3 tahun 3 bulan
Catatan : Tes individual
k. Picture Vocabulary Sub Test Stanford Binot Test
Fungsi : Skrining tentang perbendaharaan kata dan kemampuan artikulasi
Umur : 3 atau 4 tahun
Catatan : Tes individual, kemampuan bahasa mempunyai korelasi yang erat dengan intelegensi
l. Ammons Quick Test (Picture – Word Test)
Fungsi : Tes untuk mengukur kemampuan bahasa non verbal dari anak supaya dapat mengetahui distosia ekspresi, dimana anak hanya bisa menunjuk benda
Catatn : Tes individu (belum distandarisasi)
(Soetjiningsih, 1995)

E. Konsep DDST ( Denver Developmental Screening Test)
1. Pengertian
DDST adalah salah satu dari metode skrining terhadap kelainan perkembangan anak. DDST memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode skrining yang baik. Tes ini mudah dan cepat (15 – 20 menit), dapat diandalkan dan mempunyai validitas yang tinggi.
Tetapi dari penelitian Borowitz (1986) menunjukkan bahwa DDST tidak dapat mengidentifikasi lebih dari setengah anak dengan kelainan bicara. Frankenburg melakukan revisi dan restandarisasi DDST dan juga tugas perkembangan pada sektor bahasa ditambah, yang kemudian hasil revisi dari DDST tersebut dinamakan Denver II.
2. Aspek Perkembangan Yang Dinilai
a. Perilaku sosial (personal social)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.
b. Gerakan motorik halus (fine motor adaptive)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati, melakukan gerakan yang melibatkan bagian – bagian tubuh tertentu dan dilakukan otot – otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat.
c. Bahasa (language)
Kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan.
d. Gerakan motorik kasar (gross motor)
Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh secara umum.
3. Alat Yang Digunakan
a. Alat peraga
1) Benang wol :
Untuk melihat motorik halus anak, dengan menggerakkan benang dalam satu busur dari satu sisi ke sisi lain diatas muka anak.
2) Manik – manik :
Untuk melihat motorik halus, anak harus dapat memegang / mengambil manik – manik dengan ibu jari dan jari – jarinya, mengeluarkan manik – manik dari botol.
3) Kubus :
Untuk melihat motorik halus, anak harus dapat memindahkan kubus, membenturkan 2 kubus, menaruh kubus diatas cangkir, membuat menara dari kubus
4) Mainan anak :
Untuk melihat perilaku sosial, anak berusaha mengambil mainannya dan mempertahankan mainannya.
5) Botol kecil :
Untuk melihat motork halus, anak harus dapat memegang botol, mengeluarkan manik – manik dari botol.
6) Bola tenis :
Untuk melihat motorik kasar dan personal sosial, anak harus dapat menendang dan melempar bola, bermain bola dengan pemeriksa.
7) Bel kecil :
Untuk melihat bahasa, anak harus bereaksi dengan bunyi bel.


8) Kertas dan pensil :
Untuk melihat motorik halus, anak harus bisa membuat lingkaran, garis sejajar, garis berpotongan, dan kotak.
b. Lembar formulir DDST
Sebagai acuan untuk melakukan skrining
c. Buku petunjuk
Sebagai referensi yang menjelaskan cara – cara melakukan tes dan cara penilaiannya.
4. Sasaran DDST
a. Secara periodik dilakukan pada semua anak yang berusia :
1) 3 – 6 bulan
2) 9 –12 bulan
3) 18 – 24 bulan
4) 3 tahun
5) 4 tahun
6) 5 tahun
b. Dilakukan pada mereka yang dicurigai adanya hambatan perkembangan kemudian dilanjutkan dengan evaluasi diagnostik yang lengkap.
5. Tatalaksana DDST
a. Menetapkan umur anak, dengan menggunakan patokan 30 hari untuk satu bulan dan 12 bulan untuk 1 tahun, bila perhitungan umur kurang dari 15 hari dibulatkan ke bawah dan sama dengan atau lebih dari 15 hari dibulatkan ke atas.
b. Tarik garis umur ke bawah pada formulir DDST sehingga memotong kotak – kotak perkembangan pada keempat sektor.
c. Tugas – tugas yang terletak disebelah kiri garis itu pada umumnya telah dapat dilampaui anak. Bila gagal mengerjakan tugas maka mengalami keterlambatan pada tugas itu.
d. Bila tugas – tugas yang gagal dikerjakan berada pada kotak yang berpotongan dengan garis umur, maka ini bukan suatu keterlambatan, begitu pula dengan kotak – kotak di sebelah kanan garis umur.
e. Pada ujung kotak sebelah kiri terdapat kode R maka tugas perkembangan cukup ditanyakan pada orang tuanya.
f. Bila pada ujung kotak terdapat kode nomor, maka tugas perkembanngan di tes sesuai petunjuk di balik formulir.
g. Setelah semua tes selesai dilakukan baru dilakukan penilaian.
6. Penilaian
Setelah tes selesai, dihitung pada masing – masing sektor, berapa yang lulus (passed = P) dan berapa yang gagal (fail = F). selanjutnya hasil tes diklasifikasi dalam :
a. Abnormal
1) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan pada 2 sektor atau lebih
2) Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan dalam 1 sektor atau lebih dan 1 keterlambatan pada sektor yang sama tersebut, tidak ada yang lulus pada tugas perkembangan yang berpotongan dengan garis umur
b. Meragukan (questionable)
1) Bila pada 1 sektor di dapatkan 2 keterlambatan atau lebih
2) Bila pada 1 sektor atau lebih didapatkan 1 keterlambatan dan pada sektor yang sama tidak ada yang lulus pada tugas perkembangan yang berpotongan dengan garis umur
c. Tidak dapat di tes (untestable)
Apabila terdapat penolakan yang menyebabkan hasil tes menjadi abnormal atau meragukan.
d. Normal
Semua yang tidak tercantum pada kriteria diatas atau semua sektor terlampaui pada garis perkembangan.
(Soetjiningsih, 1995)









BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

Pada bab ini disajikan antara lain : Kerangka konseptual dan hipotesis penelitian.
A. Kerangka Konseptual














Bagan 3.1 Kerangka konseptual hubungan tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik dengan pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler (1 – 3 tahun) di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo. (Nursalam, 2003)

Keterangan :
: Diteliti
: Tidak diteliti
Dari kerangka diatas dapat dijelaskan bahwa keluarga yang mempunyai anak usia toddler dengan pola asuhnya akan mempengaruhi pencapaian perkembangan motorik anaknya, selain itu juga dipengaruhi faktor lain seperti kedekatan orang tua dengan anaknya, pengetahuan, pengalaman, kebudayaan, usia, dan lain – lain. Disini peneliti ingin mengetahui apakah pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik anakya mempengaruhi pencapaian perkembangan motorik anaknya. Perkembangan motoriknya dapat dilihat apakah termasuk normal, meragukan, abnormal, atau tidak dapat dites.

B. Hipotesis Penelitian (H1)
Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara dari suatu penelitian. Dimana didapatkan hipotesis penelitian ini adalah :
Ada hubungan tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik dengan pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler (1 – 3 tahun)


BAB IV
METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah usaha untuk menjawab permasalahan, membuat sesuatu yang masuk akal, memahami peraturan dan memperbaiki keadaan dimasa yang akan datang, (Nursalam & Siti Pariani, 2001). Pada bagian ini akan diuraikan mengenai : 1) Desain penelitian, 2) Kerangka kerja, 3) Populasi, sampel, dan sampling, 4) Identifikasi variabel, 5) Definisi operasional, 6) Instrumen, waktu, dan tempat penelitian, 7) Pengumpulan dan analisa data, 8) Etika penelitian, 9) Keterbatasan.

A. Desain Penelitian
Pada penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross sectional, yaitu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor – faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time opproach) artinya setiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja.

B. Kerangka Kerja
Kerangka kerja merupakan pentahapan dalam suatu penelitian. Pada kerangka kerja disajikan alur penelitian terutama variabel yang akan digunakan dalam penelitian. (Nursalam, 2003)
Kerangka kerja penelitian yang penulis gunakan dalam melaksanakan penelitian ini tergambar sebagai berikut :















Bagan 4.1 Kerangka kerja hubungan tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik dengan pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler (1 – 3 tahun) di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo





C. Populasi, Sampel, dan Sampling
1. Populasi penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah setiap subjek (misal manusia ; pasien) yang memenuhi kriteria yang tekah ditetapkan. (Nursalam, 2003)
Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga yang mempunyai anak usia toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo yang berjumlah 32 keluarga.
2. Sampel penelitian
Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. (Aziz Alimul, 2003)
Sampel pada penelitian ini adalah semua keluarga yang mempunyai anak usia toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo yang memenuhi kriteria sampel.
Kriteria sampel adalah kriteria dimana subjek penelitian dapat mewakili dalam sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel. Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah :
a. Keluarga yang mempunyai anak usia toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo
b. Bersedia diteliti
c. Bisa membaca dan menulis


Dalam penentuan besar sampel, jika besar populasi < 1000 maka :

n = N = 32 = 32 = 29,63 = 30
1+N(d2) 1+32(0,052) 1,08
Keterangan :
n : Jumlah sampel
N : Populasi
d : Tingkat signifikasi (0,05)
Dalam hal ini jumlah populasi adalah 32 keluarga, maka jumlah sampel adalah 30 keluarga.
3. Sampling penelitian
Sampling adalah suatu proses dalam menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi. (Nursalam, 2003)
Teknik sampling dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi yang dikehendaki peneliti (tujuan / masalah dalam penelitian), sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya.

D. Identifikasi Variabel
Merupakan bagian penelitan dengan cara menentukan variabel – variabel yang ada dalam penelitian. Variabel sendiri adalah karakteristik yang dimiliki oleh subjek (orang, benda, situasi) yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain. (Nursalam, 2003)
1. Variabel bebas
Adalah variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel terikat, (Aziz Alimul, 2003). Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik anak usia toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo.
2. Variabel terikat
Adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas, (Aziz Alimul, 2003). Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo.

E. Definisi Operasional
Nursalam dan Siti Pariani (2001) mengatakan, bahwa variabel yang telah didefinisikan perlu diidentifikasi secara operasional, sebab setiap istilah (variabel) dapat diartikan berbeda – beda oleh orang yang berlainan.

Tabel 4.1 Definisi Operasional Hubungan Tingkat Pengetahuan Keluarga Tentang Perkembangan Motorik Dengan Pencapaian Perkembangan Motorik Anak Usia Toddler

Variabel Definisi operasional Parameter Alat ukur Skala Skor
Variabel bebas :
Tingkat pengetahan keluarga tentang perkembangan motorik anak usia toddler Apa yang diketahui keluarga tentang perkembangan kemampuan gerak pada anak usia 1 – 3 tahun Tingkat pengetahuan keluarga tentang :
1. Pengertian tumbuh kembang
2. Fungsi perkembangan motorik
3. Perkembangan motorik yang harus dicapai anak usia toddler
Kuesioner
dengan 20 pertanyaan Ordinal Jika jawaban
Benar : 5
Salah : 0
Dengan kriteria nilai :
0 : kurang jika nilai  50
1 : cukup jika nilai 51 – 69
2 : baik jika nilai 70 – 84
3 : amat baik jika 85 - 100
Variabel terikat :
Pencapaian perkembangan motorik anak usia toddler Pencapaian tumbuh kembang kemampuan gerak anak usia 1 – 3 tahun Tingkat perkembangan motorik anak usia toddler berdasarkan pada DDST
Motorik kasar :
1. Berdiri 2 detik
2. Berdiri sendiri
3. Membungkuk kemudian berdiri
4. Berjalan dengan baik
5. Berjalan mundur
6. Berlari
7. Berjalan naik tangga
8. Menendang bola ke depan
9. Melompat
10. Melempar bola tangan keatas
11. Lompat jauh
12. Berdiri 1 kaki 1 detik
13. Berdiri 1 kaki 2 detik
Motorik halus :
1. Menaruh kubus di atas cangkir
2. Mencorat – coret
3. Mengambil manik – manik ditunjukkan
4. Membuat menara dari 2 kubus
5. Membuat menara dari 4 kubus
6. Membuat menara dari 6 kubus
7. Menarik garis vertikal
8. Membuat menara dari 8 kubus
9. Menggoyangkan ibu jari Observasi
Perkembangan motorik sesuai dengan DDST Ordinal 0 : tidak dapat dites
Jika terjadi penolakan
1 : abnormal
Jika terdapat 2 / lebih keterlambatan pada kedua sektor
2 : meragukan
Jika terdapat 2 / lebih keterlambatan pada 1 sektor atau 1 keterlambatan pada masing – masing sektor
3 : normal
Semua yang tidak tercantum diatas atau semua tugas perkembangan terlampaui

F. Instrumen, Waktu dan Tempat Penelitian
1. Instrumen penelitian
Adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan lebih mudah. (Nursalam & Siti Pariani, 2001)
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang dibagikan pada responden dan observasi langsung perkembangan motorik anak sesuai dengan sektor perkembangan pada DDST II.
2. Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli - Agustus, di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo.

G. Pengumpulan dan Analisa Data
1. Pengumpulan data
Setelah proposal karya tulis ilmiah disetujui, penulis mengajukan surat pengambilan data kepada institusi Prodikep Sidoarjo untuk diserahkan ke Puskesmas Krian dan ke kantor Kelurahan Tropodo sebagai permohonan izin pengambilan data di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo.
Setelah disetujui oleh institusi terkait, Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo, penulis mulai mengadakan pendekatan kepada responden untuk mendapatkan persetujuan sebagai responden. Data didapatkan dengan cara membagikan kuesioner yang terstruktur untuk kemudian diisi oleh responden, dan mengobservasi secara langsung perkembangan anak usia toddler. Subjek penelitian ini adalah keluarga (orang tua dan anak) yang mempunyai anak usia toddler.
2. Analisa data
Kuesioner yang terkumpul diperiksa ulang untuk mengetahui kelengkapan dan ditabulasikan berdasarkan subvariabel yang diteliti, kemudian dilakukan perhitungan untuk masing – masing subvariabel. Data yang sudah dianalisa diuji dengan menggunakan statistik korelasi Chi – square dengan derajat kesalahan d ≤ 0,05 sehingga dapat mengetahui apakah ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik dengan pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo.

Keterangan :
o : Nilai frekuensi observasi
e : Nilai frekuensi harapan

H. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, setelah prosedur perizinan dilalui peneliti mengajukan kepada ketua RT 09 Desa Tropodo untuk mendapatkan dukungan. Kemudian kuesioner dibagikan ke subjek yang diteliti dengan memperhatikan beberapa masalah etik, yaitu :
1. Lembar persetujuan menjadi responden (informed concent)
Ini diberikan kepada subjek dengan tujuan agar subjek mengerti atau mengetahui maksud dan tujuan peneliti serta dampak yang diteliti selama pengumpulan data. Jika subjek bersedia diteliti, harus menandatangani lembar persetujuan, jika subjek menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya.
2. Tanpa nama (anonimity)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas subjek, maka nama subjek tidak dicantumkan pada lembar kuesioner yang telah diisi tersebut dan hanya diberi kode tertentu.
3. Kerahasiaan (confidentiality)
Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti.




I. Keterbatasan
Dalam penelitian ini masih ada kelemahan atau hambatannya yaitu :
1. Pengumpulan data dengan kuesioner, memungkinkan responden menjawab pertanyaan dengan tidak jujur atau tidak mengerti pertanyaan yang dimaksud sehingga kurang mewakili secara kualitatif.
2. Instument test dalam penelitian ini belum diketahui reliabilitasnya sehingga hasilnya kurang sempurna, artinya alat ukur ini belum bisa diandalkan dengan baik konsistennya, keakuratannya, dan ketepatannya.
3. Terbatasnya waktu yang tersedia untuk penelitian dan kemampuan peneliti untuk menjabarkan permasalahan sehingga kedalaman isi penelitian ini kurang sempurna.












BAB V
HASIL PENELITIAN

Dalam bab ini akan dibahas tentang hasil penelitian yang dilaksanakan di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo pada bulan Agustus 2006 dengan jumlah responden 30 keluarga.
Hasil penelitian ini terdiri dari gambaran umum tempat penelitian, data umum yang meliputi hubungan keluarga dengan anak, usia, pendidikan, dan pekerjaan, dan data khusus meliputi tingkat pengetahuan keluarga, pencapaian perkembangan motorik anak usia toddler, dan analisa hubungan tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik dengan pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler di Desa Tropodo RT 04 RW IV Krian Sidoarjo.

A. Gambaran Umum Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Desa Tropodo RT 09 RW IV Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo yang memiliki 60 kepala keluarga dan yang memenuhi kriteria sampel sebanyak 30 kepala keluarga.
Adapun batas wilayahnya :
Utara : Tropodo RT 10
Timur : Tropodo RT 10
Selatan : Tropodo RT 08
Barat : Tropodo RT 08

B. Data Umum
1. Karakteristik Responden Berdasarkan Hubungan Keluarga Dengan Anak

Sumber : Data primer
Gambar 5.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Hubungan Keluarga Dengan Anak Di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo Tanggal 7 – 8 Agustus 2006


Dari gambar 5.1 jumlah responden adalah 30 orang, hubungan keluarga dengan anak yang paling banyak didapatkan sebagai ibu yaitu sebanyak 17 orang (56,7 %) hal ini dikarenakan ibu adalah orang yang paling dekat dan yang mengasuh anak tersebut, sedangkan ayah 8 orang (26,7 %) karena ayah mempunyai usaha sendiri dirumah, dan sebagai kakak 5 orang (16,6 %) dikarenakan ayah dan ibunya sedang bekerja / berhalangan. Hubungan keluarga dengan anak dapat mempengaruhi pencapaian perkembangan motorik anak, disini harusnya ibu lebih mengerti perkembangan anaknya karena ibu adalah orang terdekat dengan anak karena ibulah yang mengasuh anak dari bayi sampai remaja.




2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Sumber : Data primer
Gambar 5.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo Tanggal 7 – 8 Agustus 2006


Dari gambar 5.2 jumlah responden terbanyak adalah berusia 26 – 30 tahun yaitu 12 orang (40 %), usia 20 – 25 tahun sebanyak 10 orang (33,4 %), dibawah 20 tahun sebanyak 5 orang (16,6 %), dan usia 31 – 35 tahun sebanyak 3 orang (10 %). Faktor umur mempengaruhi pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik anak karena makin tuanya seseorang makin banyak pengalaman yang dimiliki seseorang sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki orang tersebut.
3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

Sumber : Data primer
Gambar 5.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo Tanggal 7 – 8 Agustus 2006


Dari gambar 5.3 tingkat pendidikan responden terbanyak adalah SLTA sebanyak 14 orang (46,7 %), SD sebanyak 9 orang (30 %), dan yang terendah SLTP sebanyak 7 orang (23,3 %). Disini tingkat pendidikan sangat mempengaruhi pencapaian perkembangan motorik anak karena makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki orang tersebut.
4. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan

Sumber : Data primer
Gambar 5.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan Di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo Tanggal 7 – 8 Agustus 2006

Dari gambar 5.4 jenis pekerjaan responden adalah sebagian besar yaitu sebagai ibu rumah tangga sebanyak 10 orang (33,4 %), sebagai karyawan sebanyak 8 orang (26,7 %), 7 orang (23,3 %) mempunyai usaha sendiri, dan 5 orang (16,6 %) belum bekerja. Jenis pekerjaan juga dapat mempengaruhi pencapaian perkembangan motorik anak karena dari pekerjaan dapat dilihat berapa banyak waktu orang tersebut ada dirumah untuk meluangkan waktunya untuk anaknya. Pada gambar diatas dapat dilihat yang terbanyak ibu rumah tangga, harusnya perkembangan motorik anak banyak yang normal karena ibu rumah tangga memiliki waktu lebih untuk memberikan stimulasi dan perhatian pada anaknya.
C. Data Khusus
1. Tingkat Pengetahuan Keluarga Tentang Perkembangan Motorik
Gambar 5.5 Tingkat Pengetahuan Keluarga Tentang Perkembangan Motorik Desa Tropodo RT 04 RW IV Tanggal 7 – 8 Agustus 2006

Sumber : Data primer

Dari 30 responden, 15 orang (50 %) mempunyai tingkat pengetahuan yang cukup tentang perkembangan motorik anak, sisanya 12 orang (40 %) mempunyai tingkat pengetahuan yang kurang, dan hanya 3 orang (10 %) yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik tentang perkembangan motorik anak.
2. Tingkat Pencapaian Perkembangan Motorik Anak

Gambar 5.6 Pencapaian Perkembangan Motorik Anak Desa Tropodo RT 04 RW IV Tangal 7 – 8 Agustus 2006
Sumber : Data primer

Dari 30 anak yang dilakukan tes pencapaian perkembangan motorik, 19 anak (63,3 %) mengalami 2 / lebih keterlambatan pada 1 sektor (dalam kategori meragukan), 5 anak (16,6 %) mampu melakukan semua tugas perkembangan (normal), sedangkan 6 anak yang lain (20,1 %nya) 2 / lebih tugas perkembangannya pada kedua sektor tidak tercapai (abnormal).
3. Hubungan Tingkat Pengetahuan Keluarga Tentang Pencapaian Perkembangan Motorik Anak Dengan Pencapaian Perkembangan Motorik Anak

Gambar 5.7 Hubungan Tingkat Pengetahuan Keluarga Tentang Pencapaian Perkembangan Motorik Anak Dengan Pencapaian Perkembangan Motorik Anak Desa Tropodo RT 04 RW IV Tanggal 7 – 8 Agustus 2006
Sumber : Data primer

Pada penelitian ini menggunakan uji statistik korelasi Chi – square dengan derajat kesalahan d = 0,05 dengan X2 tabel  9,488.
Dalam uji korelasi Chi – square di Desa Tropodo RT 04 RW IV Krian Sidoarjo diperoleh hasil X2 = 24,2 hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik dengan pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler di Desa Tropodo RT 04 RW IV Krian Sidoarjo.
Dari hasil uji statistik Chi – square didapatkan nilai expected frequency yang < 1 sebanyak 2 dan nilai expected frequency < 5 lebih dari 20 % dari seluruh cell pada contingency table, sehingga tidak memenuhi syarat untuk dilakukan tes X2 (uji Chi – square terlampir). Maka dalam penyajian hasil pada penelitian ini, peneliti hanya mendeskripsikan hasil dari tabel distribusi hubungan tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik anak dengan pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler.
Pada keluarga dengan tingkat pengetahuan baik semuanya mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik normal sebanyak 3 orang (10 %), dan pada keluarga dengan tingkat pengetahuan baik ini tidak ada yang memiliki anak dengan tingkat pencapaian motorik meragukan ataupun abnormal.
Pada keluarga dengan tingkat pengetahuan cukup yang mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik normal hanya sebanyak 3 orang (10 %), sedangkan yang mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik meragukan sebanyak 12 orang (40 %), pada keluarga dengan tingkat pengetahuan cukup tidak ada yang memiliki anak dengan pencapaian motorik yang abnormal.
Dan pada keluarga dengan tingkat pengetahuan kurang tidak ada yang mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik normal, sebagian dari mereka mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik meragukan yaitu sebanyak 7 orang (23,4 %), sedangkan yang mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik yang abnormal sebanyak 5 orang (16,6 %).




















BAB VI
PEMBAHASAN

A. Tingkat Pengetahuan Keluarga Tentang Perkembangan Motorik Anak
Berdasarkan tabel 5.1, 15 orang responden (50 %) mempunyai tingkat pengetahuan cukup tentang perkembangan motorik anak, sisanya 12 orang (40 %) dalam kategori kurang, dan hanya 3 orang (10 %) responden dalam kategori tingkat pengetahuan baik.
Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Perkembangan motorik adalah perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi, Hurlock 1997. Dari kedua pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa pengetahuan tentang perkembangan motorik adalah hasil tahu setelah seseorang melakukan pengindraan terhadap perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah yang melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi.
Dari hasil penghitungan nilai pada kuesioner dapat disimpulkan bahwa kebanyakan tingkat pengetahuan keluarga cukup tentang perkembangan motorik anak, hal ini dapat dimungkinkan karena kuesioner belum pernah diuji cobakan atau memang karena keterbatasan pengetahuan responden tentang perkembangan motorik anak. Menurut Kuncoroningrat (1992) yang dikutip oleh Nursalam dan Pariani (2001), makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki orang tersebut.
Pengetahuan seseorang tentang perkembangan motorik anak dapat diperoleh dengan membaca buku tentang perkembangan anak, selain itu dengan memperhatikan / mengamati perkembangan motorik pada anak, dengan kata lain seseorang dapat memperoleh pengetahuan dari pengalamannya.
Dapat disimpulkan cara untuk mendapatkan dan meningkatkan pengetahuan adalah melalui pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan formal didapatkan melalui sekolah dan pendidikan non formal didapatkan melalui latihan, tukar pikiran dan pengalaman. Selain itu juga bisa diperoleh dari sumber lain seperti media massa, media elektronik, dan masyarakat sekitar.

B. Tingkat Pencapaian Perkembangan Motorik Anak
Dari tabel 5.2 menunjukkan bahwa anak yang pencapaian perkembangan motoriknya meragukan sebanyak 63,3 %, sedangkan 20,1 % anak pencapaian perkembangan motoriknya normal, dan 16,6 % anak dengan pencapaian perkembangan motorik abnormal. Ini berarti bahwa jumlah responden yang memiliki perkembangan motorik meragukan lebih banyak dibandingkan dengan responden yang memiliki perkembangan motorik yang normal maupun abnormal.
Usia 1 - 3 tahun adalah merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Pada masa ini, perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional, dan intelegensia, berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Khusus untuk perkembangan motorik, usia todler (1 - 3 tahun ) menunjukkan perkembangan yang lebih lanjut. Pada usia todler keterampilan motorik baik motorik halus maupun motorik kasarnya mulai dikembangkan. (Supartini, 2004)
Dalam pencapaian perkembangan motorik anak usia 1 – 3 tahun diperlukan adanya dorongan / stimulasi dari orang tuannya. Dengan stimulasi yang cukup diharapkan dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak khususnya perkembangan motoriknya sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Keterlambatan dalam perkembangan motorik dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan pada anak serta terganggunya kecerdasan anak. Selain itu, kesehatan anak juga berpengaruh pada pencapaian perkembangan motorik anak. Anak yang sering sakit, akan mengakibatkan anak menjadi lemah sehingga anak akan malas dalam beraktifitas yang dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangannya.
Banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Faktor – faktor itu bisa berasal dari dalam (internal) dan dari luar (external). Dari dalam bisa berupa herediter, kecerdasan, hormonal, dan emosi, sedangkan faktor dari luar adalah budaya, status sosial ekonomi keluarga, nutrisi, iklim dan cuaca, olahraga, posisi anak dalam keluarga, dan masih banyak lagi (Supartini, 2004).
Melihat teori yang mendasari diatas, harusnya keluarga dapat merangsang atau memberi dorongan untuk kemajuan perkembangan anak, karena tidak menutup kemungkinan jika hal – hal tersebut diatas tidak dipenuhi akan terjadi keterlambatan pada perkembangan anak. Pada kenyataan keluarga belum sepenuhnya memperhatikan perkembangan anak – anaknya, keluarga menganggap bahwa perkembangan anak normal jika anak sudah bisa berjalan dan berlari, padahal belum tentu keadaan itu normal sesuai dengan usianya.

C. Hubungan Tingkat Pengetahuan Keluarga Tentang Perkembangan Motorik Dengan Pencapaian Perkembangan Motorik Pada Anak Usia Toddler Di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo
Dalam analisa pengaruh pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik terhadap pencapaian perkembangan motorik anak usia 1 – 3 tahun menggunakan uji korelasi Chi – square tidak memenuhi syarat, karena nilai expected frequency yang < 1 sebanyak 2 dan nilai expected frequency < 5 lebih dari 20 % dari seluruh cell pada contingency table, sehingga peneliti hanya mendeskripsikan hasil dari penelitian.
Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah, hal ini dinyatakan oleh Roger yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) bahwa pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk perilaku dan tindakan seseorang sebelum memutuskan untuk mengambil suatu tindakan. Hal ini bisa membuktikan bahwa semakin baik pengetahuan keluarga maka semakin baik pula pencapaian perkembangan motorik anak.
Dalam penelitian ini ditemukan hasil bahwa keluarga dengan tingkat pengetahuan baik mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik normal sebanyak 10 %, dan tidak ada yang mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik meragukan maupun abnormal. Sedangkan pada keluarga dengan tingkat pengetahuan cukup mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik normal sebanyak 10 %, yang mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik meragukan sebanyak 40 %, dan tidak ada yang mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik yang abnormal. Dan pada keluarga dengan tingkat pengetahuan kurang tidak ada yang mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik normal, tetapi 23,4 % mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik meragukan, dan 16,6 % mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik abnormal.
Jika dilihat dari sisi pencapaian perkembangan motorik anak, anak dengan pencapaian perkembangan motorik normal 10 % berasal dari keluarga dengan tingkat pengetahuan baik, dan 10 % dari keluarga dengan tingkat pengetahuan cukup, tidak ada anak yang pencapaian perkembangan motoriknya normal yang berasal dari keluarga dengan tingkat pengetahuan kurang. Sedangkan pada anak dengan pencapaian perkembangan motorik meragukan, 40 % dari keluarga dengan tingkat pengetahuan cukup, 23,4 % dari keluarga dengan tingkat pengetahuan kurang, dan tidak ada yang berasal dari keluarga dengan tingkat pengetahuan baik. Dan pada anak dengan pencapaian perkembangan motorik abnormal, 16,6 % dari keluarga dengan tingkat pengetahuan kurang, tidak ada yang berasal dari keluarga dengan tingkat pengetahuan baik maupun cukup.
Dari uraian diatas jelas sekali bahwa pengetahuan memegang peranan penting dalam pencapaian perkembangan motorik anak. Rendahnya atau kurangnya pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik anak bisa menjadikan salah satu faktor penghambat pencapaian perkembangan motorik anak. Untuk itu perlu adanya peningkatan pengetahuan keluarga. Peningkatan pengetahuan bisa dilakukan dengan melihat berbagai acara tentang anak di televisi ataupun dengan membaca majalah – majalah dan buku tentang kesehatan anak.


















BAB VII
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik anak usia toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo pada umumnya cukup.
2. Tingkat pencapaian perkembangan motorik pada anak usia toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo pada umumnya meragukan.
3. Keluarga dengan tingkat pengetahuan baik semuanya mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik normal dan pada keluarga dengan tingkat pengetahuan kurang tidak ada yang mempunyai anak dengan pencapaian perkembangan motorik normal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik dapat mempengaruhi pencapaian perkembangan motorik anak usia toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo.

B. Saran
Berdasarkan hasil pembahasan serta kesimpulan diatas, maka peneliti mengajukan beberapa saran :
1. Tingkat pengetahuan keluarga tentang perkembangan motorik anak harus ditingkatkan, dengan rutin pergi ke posyandu sehiungga mendapat banyak penyuluhan tentang perkembangan motorik anak. Dengan pengetahuan yang baik pencapaian perkembangan motorik anak dapat dioptimalkan, selain itu juga dapat mendeteksi secara dini jika terjadi keterlambatan perkembangan pada anak.
2. Perhatian keluarga pada tahap – tahap perkembangan motorik anak harus ditingkatkan dengan cara memberikan stimulasi se[erti mengajak anak bermain bola / menyusun balok. Dengan demikian keluarga bisa menghindari berbagai masalah yang mungkin dialami anak.
3. Perkembangan motorik anak harus selalu dipantau, dapat dilakukan dengan cara melihat KMS. Karena keterlambatan perkembangan motorik anak akan berpengaruh terhadap perkembangan selanjutnya. Akibat terlambatnya perkembangan motorik anak akan membuat anak kurang mandiri, tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan konsep diri anak tersebut kurang baik.
4. Dengan didapatkannya data tentang pencapaian perkembangan motorik anak usai toddler di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo diharapkan agar Puskesmas dan kader kesehatan untuk lebih memperhatikan tentang pencapaian perkembangan anak dengan cara rutin diadakannya pemeriksaan melalui KMS, pemberian makanan tambahan dan penyuluhan – penyuluhan tentang kesehatan, perkembangan motorik dan perkembangan anak yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar