Senin, 21 Mei 2012

ASKEB Hipotermi



A. Konsep Dasar
Bayi hipotermi adalah bayi dengan suhu badan di bawah normal. Adapun suhu normal bayi adalah 36,5-37,5°C. Gejala awal hipotermi apabila suhu <36°C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin. Bila suhu tubuh bayi sudah teraba dingin maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang (suhu 32-36°C). Disebut hipotermi berat bila suhu <32°C, diperlukan termometer ukuran rendah (low Reading thermometer) yang dapat mengukur sampai 25°C.(Prawirohardjo,2006).
B. Etiologi
Penyebab terjadinya hipotermi ini dapat dicegah, jika seorang bidan dapat memprediksi dengan melihat berapa penyebab antara lain : Asfiksia yang hebat, resusitasi yang ekstensive, lambat sewaktu mengeringkan bayi, Distress pernapasan, hipoglikemia, sepsis, pada bayi lebih sering terjadi hipotermi daripada hipertermi.pada bayi premature atau bayi kecil yang memiliki cadangan glukosa yang sedikit (Midwifery)
Penyebab terjadinya hipotermi pada bayi yaitu: jaringan lemak subkutan tipis, perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar, cadangan glikogen dan brown fat sedikit, bayi tidak mempunyai respon shivering (menggigil) pada reaksi kedinginan, kurangnya pengetahuan tenaga kesehatan dalam pengelolaan bayi yang beresiko tinggi mengalami hipotermi.

C. Mekanisme hilang panas tubuh bayi
a) Radiasi : dari objek ke panas bayi contoh : timbangan bayi dingin tanpa alas.
b) Evaporasi : karena penguapan cairan yang melekat pada kulit bayi. Contoh : air ketuban pada tubuh bayi yang tidak dikeringkan.
c) Konduksi : panas tubuh diambil oleh suatu permukaan. Contoh : pakaian basah yang tidak cepat di ganti.
d) Konveksi : penguapan suhu tubuh ke udara contoh : angin disekitar tubuh bayi. (APN Revisi : 2008)

(salah satu penyebab terjadinya hipotermi)

D. Masalah Potensial
Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh hipotermi yaitu Hipoglikemiasidosis metabolik, karena vasokontriksi perifer dengan metabolisme anaerob, kebutuhan oksigen yang meningkat, metabolisme meningkat sehingga pertumbuhan terganggu, gangguan pembekuan sehingga mengakibatkan perdarahan pulmonal yang menyertai hipotermi berat,shock, apnea, perdarahan intraventikuler.

E. Gejala Hipotermia pada BBL
Secara umum keadaan bayi yaitu : bayi tidak mau menetek, bayi tampak lesu atau mengantuk saja, tubuh bayi teraba dingin, dalam keadaan berat denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi mengeras (sklerema).
a) Tanda hipotermia sedang (cold stress) : aktifitas berkurang, letragis, tangisan lemah, kulit berwarna tidak rata (cutis marmorata), kemampuan menghisap lemah, kaki teraba dingin.
b) Tanda hipotermia berat (Trauma Dingin) : sama dengan hipotermia sedang, bibir dan kuku sianosis, pernapasan lambat, pernapasan tidak teratur, bunyi jantung lambat, selanjutnya timbul hipoglikemia dan asidosis metabolic,
c) Tanda-tanda stadium lanjut hipotermia : muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang, bagian tubuh lainya pucat, kulit mengeras merah, dan timbul edema pada punggung, kaki dan tangan (sklerema).
Untuk bayi diatas 1 tahun dapat dideteksi secara kasat mata dan juga yang harus dideteksi dengan perabaan:
a) Yang dapat di teksi dengan kasat mata : cenderung diam saja, kulit anak terlihat belang-belang, bercak-bercak, bibir dan ujung jarinya membiru. Hanya saja kalau neonates akan lebih cepat membirunya, sementara pada bayi yg lebih besar akan lebih lama perubahnnya.
b) Yang dapat di deteksi dengan perabaan : tangan dan kakinya terasa dingin, tubuhnya lebih dingin dari suhu kita.


F. Pencegahan dan penanganan
Pemberian panas mendadak berbahaya karena dapat terjadi apnea sehingga direkomendasikan penghangatan 0,5-1°C tiap jam (pada bayi <1000 gram penghangatan maksimal 0,6°C). (Indarso,F,2001)
Untuk bayi <1000 gram, sebaiknya diletakkan dalam inkubator. Bayi-bayi tersebut akan dikeluarkan dari incubator apabila suhu tubuhnya dapat tahan tehadap suhu lingkungan 30°C.
Radiant Warner adalah alat yang digunakan untuk bayi yang belum stabil atau untuk tindakan-tindakan. Dapat menggunakan servo controle (dengan menggunakan probe untuk kulit) atau non servo controle (dengan mengatur suhu yang dibutuhkan secara manual).
G. Penatalaksanaan
Menurut Indarso,F (2001) menyatakan bahwa untuk mempertahankan suhu tubuh bayi dalam mencegah hipotermi adalah :
1) Menyiapkan tempat melahirkan yang hangat,kering, dan bersih.
2) Mengeringkan tubuh bayi yang baru lahir/air ketuban segera setelah lahir dengan handuk yang kering dan bersih.
3) Menjaga bayi hangat dengan cara mendekap bayi di dada ibu dan keduanya diselimuti ( metode kangguru)
4) Memberi ASI sedini mungkin segera setelah melahirkan agar dapat merangsang rooting reflex dan bayi dapat memperoleh kalori/panas tubuh dengan : menyusui, (pada bayi kurang bulan yang belum bisa menetek ASI diberikan dengan pipet atau sendok), Selama pemberian ASI bayi di dekap agar tetap hangat.
5) Mempertahankan suhu tubuh bayi agar tetap hangat selama dalam perjalanan pada waktu rujukan.
6) Memberikan penghangatan pda bayi baru lahir secara mandiri.
7) Melatih semua orang yang terlibat dalam persalinan.Menunda memandikan bayi samapai suhu tubuh normal untuk mecegah terjadinya serangan dingin, ibu/keluarga dan penolong persalinan harus menunda memandikan bayi.
Bayi yang mengalami hipotermi biasanya mudah sekali meninggal. Tindakan segara yang harus dilakukan adalah menghangatkan bayi di dalam incubator atau melalui penyinaran lampu. Cara lain yang sederhanan dan mudah dikerjakan setiap orang adalah metode dekap, yaitu bayi ditelungkupkan di dada ibu dan keduanya diselimuti agar tetap hangat.
Bila tubuh bayi masih dingin, gunakan selimut atau kain hangat yang disetrika terlebih dahulu yang digunakan untuk menutupi tubuh bayi dan ibu. Lakukan berulang kali sampai tubuh bayi hangat. Tidak boleh memakai buli-buli panas ,bahaya luka bakar. Dan biasanya bayi dengan hipotermi menderita hipoglikemia sehingga bayi harus diberi ASI sedikit-sedikit dan sesering mungkin. Bila bayi tidak dapat menghisap beri infuse glukosa 10% sebanyak 60-80 ml/kg per hari.
Hipotermi didefinisikan sebagai nilai suhu dibawah 36°C (Morris,1994). Ketika suhu tubuh bayi berada di dalam level ini, bayi ada dalam resiko “Cold stress”. Hal ini dapat menyebabkan koplikasi seperti peningkatan pemakaian O2, produksi asam laktat, apnea, penurunan koagulasi darah, dan yang paling sering ditemui adalah “hypoglikemia’. Pada bayi preterem, “cold stress” dapat menyebabkan penurunan pengeluaran dan sintesis surfaktan.(Midwifery).
Membiarkan bayi dalam keadaan dingin, meningkatkan kematian dan morbiditas, setelah lahir suhu tubuh bayi menurun dengan cepat. Suhu tubuh bayi yang sehat akan mencoba menyesuaikan temperatur dengan batas yang normal. (Midwifery).


Sumber : Rukiyah, Ai Yeyeh, S.SiT dan Lia Yulianti, Am.Keb, MKM. 2010.
Asuhan Neonatus, bayi dan anak Balita. Jakarta : TIM

Prawirohardjo, Prof. Dr.dr.Sarwono, 2006.
Buku Acuan Nasional : Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Jakarta : YBP-SP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar