Jumat, 10 Mei 2013

ASKEB 1 ASUHAN KEHAMILAN KUNJUNGAN AWAL ( PENGKAJIAN FETAL)


A.    Pemantauan aktifitas / gerakan janin
Dapat secara subjektif (ditanyakan kepada ibu), atau objektif (palpasi atau dengan USG). Janin normal, tidak ada hipoksia, akan aktif bergerak. Normal gerakan janin dirasakan oleh ibu sebanyak lebih dari 10 kali per hari (pada usia di atas 32 minggu). Dalam kehidupan janin intrauterin, sebagian besar oksigen hanya dibutuhkan oleh otak dan jantung (refleks redistribusi).
Jika janin tidak bergerak, pikirkan kemungkinan diagnosis banding : “tidur”, atau hipoksia. Waktu terbaik untuk mengamati gerakan janin adalah pada malam hari saat ibu hamil berbaring santai. Atau, pagi hari ketika bangun tidur bila usia kandungannya sudah masuk trisemester ketiga.
Jika merasakan janin bergerak minimal 10 kali/jam, baik gerakan halus dan kuat, artinya bayi baik-baik saja. Namun, bila merasa bayi tidak aktif seperti biasanya, kemungkinan besar ia sedang malas bergerak, dan ibu hamil diminta harus coba bangkitkan semangat geraknya. Karena, bila janin tidak merespon rangsangan ibu, dan kondisi ini sudah berlangsung lebih dari 1 hari segera beritahu dokter, untuk memantau kondisi janin. Mari, kenali gerakan si bayi sesuai dengan usianya, supaya bisa ikut memantau perkembangannya.Minggu ke-16 sampai 20. Di minggu ke-16 Anda mulai dapat merasakan gerakan janin seperti tendangan dan tonjokan. Disebut sebagi fase quickening.
§  Minggu ke-21 sampai 24. Aktivitas bayi makin meningkat. Dia banyak menendang dan jungkir balik, karena volume air ketuban masih sering memungkinkan untuk bergerak leluasa.
§  Minggu ke-25 sampai 28. Bayi mulai cegukan. Inilah yang menyebabkan ibu hamil merasakan sensai seperti tersentak-sentak. Dia juga akan bergerak merespon suara dari luar karena pendengarannya makin baik. Kadang-kadang janin ‘kaget’ mendengar suara keras.
§  Minggu ke-29 sampai 31. Gerakan bayi makin kuat, teratur dan terkendali. Kadang ibu hamil sampai merasakan rahim kontraksi.
§  Minggu ke-32 sampai 24. inilah mas apuncak aktivitas bayi. Dalam minggu-minggu ini, ibu hamil akan merasakan peningkatan frekuensi dan tipe gerakan bayi, karena dia semakin besar dan kuat.
·         Minggu ke-36 sampai 40. ukuran bayi yang semaik besar dan keterbatasan ruang dalam rahim membuat gerakan memutar janin makin berkurang frekuensinya. Bila dia mengisap jempol dan kehilangan jempolnya, ibu hamil akan merasakan gerakan darting dan cepat. Itu tanda bayi memuatar kepalanya untuk mencari jempolnya kembali. Jika perut ibu kurus, kemungkinan besar dapat memegang kaki bayi. Gerakan utama yang ibu rasakan adalah tonkokan tangan atau tendangan kaki bayi yang mungkin menyakitkan tulang rusuk ibu hamil tersebut.
Bagi sebagian besar wanita -wannabemoms- terutama yang baru pertama kali hamil, gerakan janin adalah saat-saat yang paling dinantikan. Biasanya gerakan janin dalam rahim dapat dirasakan pada usia kehamilan 18-20 minggu (walaupun tiap individu bisa berbeda-beda).
Wanita yang sudah memiliki pengalaman hamil sebelumnya bahkan bisa merasakan gerakan janin sedini usia kehamilan 15 minggu. Sensasi pertama memang pasti membingungkan, apakah ini benar gerakan si kecil atau hanyalah aliran gas dalam perut. Kadang satu hari janin bisa beberapa kali menunjukkan aktifitasnya, tapi keesokan harinya ia seperti begitu terlelap dalam tidurnya. Pada minggu-minggu ini (sekitar minggu 18-27), wanita hamil tidak perlu kuatir akan menghitung jumlah gerakan janin.
Yang perlu mendapat perhatian adalah ketika usia kehamilan sudah memasuki trimester 3 (setelah 28 minggu), maka ibu hamil perlu belajar menghitung jumlah gerakan janin. Biasakan untuk menghitung gerakannya 2 kali dalam sehari, pada saat pagi (dimana bayi biasanya tidak terlalu aktif), dan pada saat malam (biasanya ia justru lebih aktif bergerak). Patokan yang sederhana adalah dalam 1 jam biasanya ibu hamil akan merasakan 10x gerakan janin. Jika moms-soon-to-be tidak merasakan gerakan janin setelah menunggu lebih dari 2 jam, maka ada baiknya kontak dokter untuk memastikan kehamilan baik-baik saja. Tidak selalu hal tersebut berarti ada sesuatu yang “bahaya” terjadi, tapi konfirmasi dengan dokter adalah pilihan yang bijaksana.
Seiring berjalannya waktu, dengan bertambahnya usia kehamilan, maka gerakan janin akan lebih sering dan lebih jelas terasa, bahkan kadang gerakannya dapat terlihat dari luar. 


Ketika Janin Bergerak...
a.       Akrobat” dirahim yang luas
Memasuki trimester kedua, tepatnya pada bulan keempat atau kelima, embrio mulai aktif bergerak dan menendang dinding perut Ibu dibantu oleh adanya cairan ketuban didalam rahim yang memudahkan janin mengambang kesana kemari, hanya dihubungkan dengan tali pusar ke ari-ari (uri,plasenta) yang menempel di dinding rahim Ibunya.
b.      Gerakannya mulai terasa
Seiring pertumbuhan usia kehamilan, rahim mulai sempit, gerakan janin ini akan sangat dirasakan Ibu hamil. Selain itu, karena rongga bagian atas lebih luas dibanding bagian bawahnya, janin cenderung meletakkan kakinya diatas agar lebih leluasa bergerak dan kepalanya menukik kearah rahim.
B.     Denyut jantung janin

Dengan menggunakan stetoskop monoral (stetoskop obstetric) untuk mendengar DJJ dapat terdengar pada bulan 4-5. Walaupun dengan ultrasound (doptone) sudah dapat didengar pada akhir bulan ke-3.
Frekuensinya lebih cepat dari B.J orang dewasa ialah antara 120-140/menit. Karena badan anak dalam kypose dan di depan dada terdapat lengan anak maka B.J. paling jelas terdengar di punggung anak dekat pada kepala.
Pada presentasi biasa (letak kepala) tempat ini kiri atau kanan di bawah pusat. Jika bagian-bagian anak belum dapat ditentukan, maka B.J. harus dicari pada garis tengah di atas sympisis.
Yang dapat diketahui dari bunyi jantung janin adalah :
1.      Dari adanya detak jantung janin:
·         tanda pasti kehamilan
·         anak hidup
2.      Dari tempat bunyi jantung janin terdengar:
·         presentasi anak
·         positio anak(kedudukan punggung)
·         sikap anak (habitus)
·         adanya anak kembar
Kalau bunyi  jantung terdengar kiri atau kanan di bawah pusat,maka presentasinya kepala,kalau terdengar kiri kanan setinggi atau di atas pusat,maka presentasinya bokong (letak sungsang).
Kalau bunyi jantung terdengar sebelah kiri,maka punggung sebelah kiri,kalau terdengar sebelah kanan maka punggung sebelah kanan.Kalau terdengar di pihak yang berlawanan dengan bagiab-bagian kecil,sikap anak fleksi.kalau terdengar sepihak dengan bagian-bagian kecil,sikap anak defleksi.
Pada anak kembar bunyi jantung terdengar pada 2 tempat dengan sama jelasnya dan dengan frekwensi yang berbeda(perbedaan lebih dari 10/menit).

3.      Dari sifat bunyi jantung anak:
dari sifat bunyi jantung anak kita dapat mengetahui keadaan anak.anak yang dalam keadaan sehat bunyi jantung nya teratur dan frekwensinya antara 120-140 permenit.
Kalau bunyi jantung kurang dari 120/menit atau lebih dari 160/menit atau tidak teratur, maka anak dalam keadaan asphyxia (kekurangan oksigen).
Cara menghitung DJJ adalah dengan mendengarkan 3x5 detik dikalikan dengan 4. Contohnya :
5 detik
5 detik
5 detik
Kesimpulan
11
12
11
-        4 (11 + 12 +11) = 136/menit. Teratur dan janin baik.
10
14
9
- 4 (10 + 14 + 9) = 132/m. Tak teratur  dan janin asphyxia
8
7
8
- 4 (8 + 7 + 8) = 92/m. Tak teratur dan janin asphyxia.

C.    Non stress test (NST)
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai hubungan gambaran DJJ dan aktivitas janin. Cara pemeriksaan ini dikenal juga dengan nama aktokardiografi, atau fetal activity acceleration determination (FAD; FAAD). Penilaian dilakukan terhadap frekuensi dasar DJJ, variabilitas, dan timbulnya akselerasi yang menyertai gerakan janin.
Tehnik pemeriksaan NST : 1. Pasien berbaring dalam posisi semi-Fowler, atau sedikit miring ke kiri. Hal ini berguna untuk memperbaiki sirkulasi darah ke janin dan mencegah terjadinya hipotensi. 2. Sebelum pemeriksaan dimulai, dilakukan pengukuran tensi, suhu, nadi, dan frekuensi pernafasan ibu. Kemudian selama pemeriksaan dilakukan, tensi diukur setiap 10-15 menit (hasilnya dicatat pada kertas KTG). 3. Aktivitas gerakan janin diperhatikan dengan cara: · Menanyakan kepada pasien. · Melakukan palpasi abdomen. · Melihat gerakan tajam pada rekaman tokogram (kertas KTG). 4. Bila dalam beberapa menit pemeriksaan tidak terdapat gerakan janin, dilakukan perangsangan janin, misalnya dengan menggoyang kepala atau bagian janin lainnya, atau dengan memberi rangsang vibro-akustik (dengan membunyikan bel, atau dengan menggunakan alat khusus untuk keperluan tersebut). 5. Perhatikan frekuensi dasar DJJ (normal antara 120 – 160 dpm). 6. Setiap terjadi gerakan janin diberikan tanda pada kertas KTG. Perhatikan apakah terjadi akselerasi DJJ (sediktinya 15 dpm). 7. Perhatikan variabilitas DJJ (normal antara 5 – 25 dpm). 8. Lama pemeriksaan sedikitnya 20 menit.
Interpretasi NST
1. Reaktif:
·         Terdapat gerakan janin sedikitnya 2 kali dalam 20 menit, disertai dengan akselerasi sedikitnya 15 dpm.
·         Frekuensi dasar djj di luar gerakan janin antara 120 – 160 dpm.
·         Variabilitas djj antara 5 – 25 dpm.
2. Non-reaktif:
·         Tidak terdapat gerakan janin dalam 20 menit, atau tidak terdapat akselerasi pada gerakan janin.
·         Frekuensi dasar djj abnormal (kurang dari 120 dpm, atau lebih dari 160 dpm).
·         Variabilitas djj kurang dari 2 dpm.
3. Meragukan:
·         Gerakan janin kurang dari 2 kali dalam 20 menit, atau terdapat akselerasi yang kurang dari 15 dpm.
·         Frekuensi dasar djj abnormal.
·         Variabilitas djj antara 2 – 5 dpm.
Hasil NST yang reaktif biasanya diikuti dengan keadaan janin yang baik sampai 1 minggu kemudian (spesifisitas 95% – 99%). Hasil NST yang non-reaktif disertai dengan keadaan janin yang jelek (kematian perinatal, nilai Apgar rendah, adanya deselerasi lambat intrapartum), dengan sensitivitas sebesar 20%. Hasil NST yang meragukan harus diulang dalam waktu 24 jam.
Oleh karena rendahnya nilai sensitivitas NST, maka setiap hasil NST yang non-reaktif sebaiknya dievaluasi lebih lanjut dengan contraction stress test (CST), selama tidak ada kontraindikasi.
D.    Amniosentesis
Amniosintesis adalah metode untuk mendapatkan cairan amnion dengan memasukkan trocar halu dan kanula yang steril ke dalam cavitas amnii melewati dinding abdomen dan dinding uterus. Sel-sel fetus dilepaskan kedalam amnion dan dapat dikaji untuk penentuan jenis kelamin dan kesehatan fetus. Untuk alasan yang sudah jelas, maka letak plasenta harus ditetapkan sebelum amniosentesis.
Kajian-kajian berikutnya akan dilakukan pada specimen cairan yang di aspirasi antara umur kehamilan 14 sampai 18 minggu. Hasil analisis biasanya baru diperoleh setelah paling cepat 3 minggu. Dan uji dagnostik yang lebih baru telah dirancang untuk menghindari hasil yang terlalu lama ini.



Prenatal Diagnosis
         Diagnosis kelainan janin
         Manifestasi penyakit atau cacat tubuh dapat terjadi sejak masa janin atau setelah lahir
         Kelainan genetik atau non genetik
Indikasi Diagnosis Prenatal
         Hanya dilakukan untuk penyakit yang menyebabkan sakit berat atau kecacatan (mental/ fisik) pada anak yang tidak dapat diobati secara optimal
         Kelainan yang menyebabkan sakit berat/ fatal pada ibu hamil
Prediksi Resiko Kelainan Janin
         Ibu usia lanjut
         Riwayat penyakit keturunan dalam keluarga
         Latar belakang etnik dengan frekuensi penyakit keturunan yang tinggi
         Riwayat kelainan kromosom atau cacat bawaan pada anak terdahulu
         Salah satu dari pasangan mempunyai kelainan struktur kromosom
Ibu Usia Lanjut
         Usia 35 tahun ke atas
         Peristiwa non disjunction (gagal berpisah)
         Risiko sindrom Down (trisomi 21) dan kelainan kromosom lain meningkat sesuai dengan usia ibu
Riwayat Penyakit Keturunan Dalam Keluarga
         Thallasemia
         Duchenne Muscular Dystrophy
         Cystic Fibrosis
         Spinal Muscular Atrophy
         Hemofilia
         Dll
Etnik Dan Penyakit Genetik
         Thallasemia
         Cystic fibrosis
         Sickle cell anemia
         Hemophilia
         Dll
Metode Diagnosis Prenatal
         Non-invasive dapat untuk kelainan genetik dan non-genetik:
-          USG,
-          skrining serum maternal,
-          sel fetus di darah maternal
         Invasive hanya untuk kelainan genetik:
-          Amniosintesis
-          Biopsi villi khorialis
USG
         Dapat mendeteksi cacat tubuh mayor
-          Otak
-          Tulang belakang
-          Jantung
-          Dinding perut dan usus
-          Ginjal
-          Wajah
-          Anggota gerak, dll
         Dapat digunakan mulai kehamilan trimester 1
Skrining Serum Maternal
         Beberapa marker biokimia (AFP, uE3, HCG, PAPP-A) dalam serum ibu akan berubah konsentrasinya bila janin menderita kelainan seperti sindrom Down, “Neural Tube Defect”, dan trisomi 18
         Tidak 100% akurat, hanya sebagai tes prediksi, dilanjutkan/ dikombinasikan dengan tes lain seperti USG dan analisis kromosom atau DNA
Sel Fetus Di Darah Maternal
Isu penting yang berkaitan dengan teknologi ini:
         Jenis sel fetus yang dijadikan bahan pemeriksaan
         Cara pemisahan dan seleksi sel
         Umur kehamilan
Langkah-Langkah Diagnosis Prenatal
         Identifikasi masalah risiko penyakit genetika pada janin
         Bila berasal dari etnik dengan risiko penyakit genetik tertentu lakukan deteksi carrier dengan metode yang baku digunakan
         Bila ada yang dicurigai menderita penyakit genetik dalam keluarga: pastikan diagnosis, tentukan cara penurunan, deteksi mutasi pada penderita yang ada
Langkah-Langkah Diagnosis Prenatal
         Setelah yakin jenis penyakit dan mutasinya, deteksi mutasi tersebut pada orang tua
         Lanjutkan dengan pengambilan sampel (tergantung umur kehamilan dan kemampuan dokter Obgin yang ada)
         Deteksi mutasi pada janin sesuai mutasi yang diidentifikasi pada kedua orang tuanya
         Singkirkan kemungkinan kontaminasi sel maternal.

DAFTAR PUSTAKA


Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Penerbit EGC, Jakarta.

Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.1983. Obstetri Fisiologi. Penerbit: Eleman, Bandung.

Mochtar, rustam. 2001. Sinopsis Obstetri. Penerbit : EGC, Jakarta.

Verrallas, Sylvia. 2003. Anatomi dan Fisiologi Terapan dalam Kebidanan edisi 3. Penerbit: EGC, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar