Selasa, 14 Mei 2013

Proposal KTI saya


PERBEDAAN DERAJAT RUPTUR PERINEUM PADA
 IBU BERSALIN NORMAL ANTARA POSISI SETENGAH DUDUK DENGAN POSISI LITOTOMI
DI BPS SONIAH DESA RENGGING
KECAMATAN PECANGAAN
 KABUPATEN JEPARA
PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan Sebagai Syarat Menyelesaikan  KTI
Diploma III Kebidanan Akademi Kebidanan Islam
Al-Hikmah Jepara
Disusun oleh :
Zayyinatul Afidah
NIM. 090588
 

AKADEMI KEBIDANAN ISLAM AL - HIKMAH
JEPARA
2012
 LEMBAR PERSETUJUAN
Diterima dan disetujui untuk diajukan dan dipertahankan di depan Tim Penguji dalam Ujian Proposal Karya Tulis Ilmiah Progam Pendidikan Diploma III Kebidanan Islam Alhikmah Jepara, pada:
Hari                             :
Tanggal                       :
Pembimbing I
Devi Rosita, S.SiT
NIDN 0625088701
Pembimbing II
Asmawahyunita, S.Kep
NIDN : 0623038301
LEMBAR PENGESAHAN
Diterima dan disahkan oleh Tim Penguji Ujian Proposal Karya Tulis Ilmiah Progam Pendidikan Diploma Kebidanan Islam Alhikmah Jepara pada :
Hari       :
Penguji I
Devi Rosita, S.SiT
NIDN 0625088701
Penguji  II
Asmawahyunita, S.Kep
NIDN : 0623038301
Tanggal :        
Mengetahui,
Direktur
AKADEMI KEBIDANAN ISLAM AL HIKMAH JEPARA
Ita Rahmawati, S.SiT, M.Kes
NIDN 0610058501
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Perbedaan Derajat Ruptur Perineum pada Ibu Bersalin Normal antara Posisi Setengah duduk dengan Posisi Litotomi di Bps Soniah Desa Rengging Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara” dengan lancar.
Proposal Karya Tulis Ilmiah ini disusun sebagai syarat menyelesaikan Karya tulis ilmiah pendidikan Diploma III Kebidanan di Akademi Kebidanan Islam Al-Hikmah Jepara.
Dalam penyusunan Proposal  Karya Tulis Ilmiah ini, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Proposal Karya Tulis Ilmiah ini. Adapun rasa terima kasih penulis ucapkan kepada :
1.    Ita Rahmawati, S.SiT, M.Kes selaku Direktur AKBID Islam Al-Hikmah Jepara
2.     Devi Rosita, S.SiT, Selaku pembimbing pertama yang telah memberikan saran, masukan, kritik demi kesempurnaan Proposal  karya tulis ilmiah ini.
3.     Asmawahyunita, S.Kep, selaku pembimbing kedua yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan dan penyelesaian Proposal karya tulis ilmiah ini.
4.     Yang saya cintai dan sayangi segenap keluarga yang telah memberikan semangat dan dorongan untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah ini
5.     Kepada semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah membantu dan memberikan dukungan serta motivasi demi terselesainya Proposal karya tulis ilmiah ini.
      Penulis menyadari bahwa Proposal karya tulis ilmiah ini masih sangat jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan penulisan Proposal karya tulis ilmiah ini.
      Semoga Proposal karya tulis ilmiah ini dapat bermanfat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya.
Jepara,    Maret    2012
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul.......................................................................................................... i
Lembar Persetujuan  ............................................................................................... ii
Lembar Pengesahan............................................................................................... iii
Kata  Pengantar...................................................................................................... iv
Daftar  Isi                                                                                                                  vi
Daftar Tabel               ………………………………………………………………………..     viii
Daftar Gambar ……………………………………………………………………..      ix
BAB I     Pendahuluan
A.    Latar Belakang..................................................................................... 1
B.    Perumusan  Masalah .......................................................................... 5
C.   Tujuan Penelitian ..................................................................................
D.   Manfaat Penelitian ................................................................................
E.    Keaslian Penelitian.................................................................................
BAB II    Tinjauan Pustaka
A.    Tinjauan Teori........................................................................................
1.    Konsep dasar teori Persalinan ........................................................
2.    Konsep dasar Posisi Persalinan.......................................................
3.    Konsep dasar Laserasi Perineum .........................................
B.    Perbedaan Derajat Ruptur Perineum pada Ibu Bersalin normal antara posisi litotomi dengan posisi setengah duduk.
                                                                                                                          
C.   Kerangka Teori......................................................................................
BAB III   Metode Penelitian
A.    Kerangka Konsep Penelitian ................................................................
B.    Variabel Penelitian ................................................................................
C.   Definisi Operasional...............................................................................
D.   Hipotesis ...................................................................................... .........
E.    Ruang Lingkup Penelitian .....................................................................
F.    Rancangan Penelitian..................................................................
1.    Jenis / Desain Penelitian ……………………………………..
2.    Populasi, Sampel dan Teknik Sampling …………………….
3.    Teknik Pengumpulan Data …………………………………..
4.    Instrumen Penelitian ………………………………………….
5.    Pengolahan dan Analisa Data ……………………………....
6.    Etika Penelitian ……………………………………………….
BAB IV  Hasil Penelitian dan Bahasan
A.     Gambaran Umum Lokasi Penelitian ..........................................          
B.     Hasil Penelitian ........................................................................... .........
C.     Pembahasan .............................................................................. .........
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Data Study Pendahuluan………………………………….
Tabel 1.2 Keaslian Penelitian………………………………………….
Tabel 3.1 Definisi Operasional…………………………………………
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Posisi Jongkok  ……………………………………………………..
Gambar 2.2. Posisi Berdiri ………………………………………………………..
Gambar 2.3. Posisi Setengah Duduk ……………………………………………
Gambar 2.4. Posisi Lateral ……………………………………………………….
Gambar 2. 5. Posisi Litotomi …………………………………………………….
Gambar 2.6. Klasifikasi Derajat Ruptur Perineum ……………………………
Gambar 2.7. Kerangka Teori ……………………………………………………
Gambar 3.1. Kerangka Konsep ………………………………………………….
BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
        Angka kematian dan kesakitan ibu masih merupakan masalah besar. Angka kematian ibu (AKI) 450 per  100.000 kelahiran hidup. (Wijono W, 2005). Berdasarkan SDKI survey terakhir tahun 2007 AKI Indonesia sebesar 228 per 100.000 Kelahiran hidup. Salah satu upaya Depkes dalam mempercepat penurunan AKI adalah mendekatkan pelayanan kebidanan kepada setiap ibu yang membutuhkan, seperti penyedian pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang berkualitas . (APN 2008).
       Angka kematian ibu provinsi jawa tengah untuk tahun 2009 berdasarkan laporan dari kabupaten atau kota sebesar 117,02 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut telah memenuhi target dalam indikator sehat 2010 sebesar 150 per 100.000 dan mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan AKI pada tahun 2008 sebesar 114,42 per 100.000 kelahiran hidup.
       Angka kematian ibu di kabupaten jepara tidak dihitung karena factor perbandingannya adalah 100.000 jumlah kelahiran hidup, sedangkan di kabupaten jepara jumlah kelahiran hidup kurang dari 100.000 kelahiran hidup. Sehingga data yang tersaji tahun 2010 adalah jumlah kematian ibu sebesar 23 jiwa per 21.131 kelahiran hidup.
       Perdarahan postpartum menjadi penyebab utama 40% kematian ibu di Indonesia. Penyebab perdarahan utama adalah atonia uteri sedangkan rupture perineum merupakan penyebab kedua yang hampir  terjadi pada setiap persalinan pervaginam. (Surjaningrat, 2006 dan sumarah, 2009)
       Ruptur  Perineum merupakan robekan yang terjadi sewaktu persalinan dan disebabkan oleh beberapa  faktor  antara lain posisi persalinan, cara meneran, pimpinan persalinan, berat badan bayi baru lahir dan keadaan perineum. (Enggar, 2010)
       Selama ini banyak ibu hamil yang beranggapan posisi melahirkan hanya berbaring (litotomi) dan setengah duduk. Menurut teori, posisi litotomi bisa menambah kemungkinan derajat laserasi perineum dibandingkan posisi setengah duduk. kenyataan dilapangan sering kali dokter atau tenaga kesehatan lebih sering memposisikan ibu bersalin dengan posisi berbaring (Litotomi). (Pusdiknakes, 2003)
       Menurut data di RS DR Wahidin Sudirohusodo Makassar selama tahun 2003 adalah 128 orang mengalami rupture perineum ini diakibatkan bidan-bidan di Indonesia sangat minim pengetahuan tentang pemberian asuhan kebidanan pada ibu bersalin, data ini didukung juga ditemukan data dari depkes RI yang mengatakan bahwa sebanyak 250 bidan PNS yang di data beberapa kota di pulau jawa tidak mengetahui dengan benar cara memberikan asuhan kebidanan yang benar dan tepat bagi ibu bersalin yang berkaitan dengan posisi persalinan. (Siswono, 2010).
       Persalinan dan kelahiran merupakan suatu peristiwa yang normal, tanpa disadari mau tidak mau harus berlangsung. Untuk membantu ibu agar tetap tenang dan rileks sedapat mungkin bidan tidak boleh memaksakan pemilihan posisi yang diinginkan oleh ibu dalam persalinannya. Sebaliknya, peranan bidan adalah untuk mendukung ibu dalam pemilihan posisi apapun yang dipilihnya, menyarankan alternative- alternative hanya apabila tindakan ibu tidak efektif atau membahayakan bagi dirinya sendiri atau bagi bayinya.
   (Sumarah, 2008).
       Penelitian terbaru telah menunjukkan bahwa membiarkan ibu mengambil posisi yang diinginkannya selama meneran dan saat melahirkan akan memberi banyak manfaat, termasuk sedikit rasa sakit dan ketidaknyamanan, lama kala dua yang lebih pendek, laserasi perineum yang lebih sedikit. Secara tradisional di Indonesia, wanita sering melahirkan dalam posisi setengah duduk atau jongkok. Posisi setengah duduk atau jongkok telah banyak dibuktikan bermanfaat untuk meneran dan melahirkan. Telah ada bukti- bukti dengan sinar- X bahwa dalam posisi setengah duduk atau jongkok akan menghasilkan pertambahan pelvic outlet sebesar 28% dibanding dalam posisi litotomi. Posisi setengah duduk akan memberikan ruang yang maksimum bagi jaringan perineum untuk meregang dan mencegah laserasi. 
       Hasil Penelitian Ari Kusmijiyanti (2009), didapatkan bahwa rupture perineum pada ibu bersalin dengan posisi tegak lateral sebagian besar berada pada derajat 2( 58,4%) dan derajat 3 (4,8%) demikian juga pada ibu bersalin dengan posisi melahirkan terlentang atau litotomi hampir setengahnya berada pada derajat 2 (38,1%) dan pada derajat 3. Hal ini menunjukkan secara umum perbedaan posisi melahirkan tidak memberikan konstribusi terhadap kejadian rupture perineum.
       Menurut de Jong et al menyatakan bahwa ibu yang memilih posisi setengah duduk selama persalinan mengalami nyeri, trauma perineal, dan episiotomi yang secara signifikan jauh lebih sedikit (Myles, 2009). Sebaliknya, posisi terlentang atau Litotomi bisa mengakibatkan kontraksi yang akan terasa sakit oleh ibu, yang akan menyebabkan waktu persalinan yang lebih panjang serta laserasi perineum yang lebih parah. (PUSDIKNAKES, 2003)
       Berdasarkan study pendahuluan tigs bidan praktek swasta berbeda tentang “Perbedaan derajat ruptur perineum pada ibu bersalin normal antara posisi setengah duduk dengan posisi litotomi” yang dilakukan pada tanggal 13 – 16 maret didapatkan data sebagai berikut.
Tabel  1.1  data study pendahuluan di 3 Bidan Desa
No
Lokasi
Jumlah
Partus
Derajat Rupture
Januari
Februari
Jan
Feb
I
II
III
IV
I
II
III
IV
1.
BPS S
38
29
11
7
-
-
8
4
-
-
2.
BPS H
35
22
13
8
-
-
8
3
-
-
3.
BPS M
21
8
7
5
-
-
3
2
-
-
      
       Tabel diatas menerangkan tentang jumlah persalinan dan derajat rupture perineum di tiga bidan praktek swasta yang berbeda. Sedangkan dari hasil wawancara tentang posisi meneran pada 3 bidan tersebut, didapatkan hasil 2 bidan (Bidan S dan bidan N )yang mengatakan posisi meneran yang digunakan adalah posisi litotomi dan setengah duduk dengan perbandingannya 1 : 3 sesuai anjuran bidan dan 1 bidan (Bidan S) mengatakan posisi meneran yang digunakan adalah posisi litotomi dan miring kiri sesuai dengan kemampuan meneran ibu bersalin. Hal ini  menunjukkan bahwa posisi yang sering digunakan adalah posisi litotomi (100%) dan setengah duduk (66,7%). kenyataan dilapangan sering kali dokter atau tenaga kesehatan lebih sering memposisikan ibu bersalin dengan posisi berbaring (Litotomi). Menurut teori, posisi litotomi bisa menambah kemungkinan derajat laserasi perineum dibandingkan posisi setengah duduk. (PUSDIKNAKES 2003)
       Dari data di atas menjadi dasar ketertarikan peneliti untuk melakukan penelitian tentang “Perbedaan Derajat Ruptur perineum  pada ibu bersalin normal antara posisi setengah duduk dengan posisi Litotomi di BPS Soniah Desa Rengging Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara”.
B.  Perumusan Masalah
       Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dirumuskan masalah  ”Adakah Perbedaan derajat ruptur perineum pada ibu bersalin normal antara posisi setengah duduk dengan posisi litotomi di BPS Soniah Desa Rengging Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara?”
C.   Tujuan Penelitian
1.Tujuan Umum
Untuk mengetahui Perbedaan derajat ruptur perineum pada ibu bersalin normal antara posisi setengah duduk dengan posisi litotomi di BPS Soniah Desa Rengging Kecamatan Pecangaan Kabupaten  Jepara.
2.  Tujuan Khusus
a.   Untuk mengidentifikasi derajat ruptur perineum pada ibu bersalin normal dengan posisi berbaring (Litotomi)
b.   Untuk mengidentifikasi derajat ruptur perineum pada ibu bersalin normal dengan posisi setengah duduk
c.    Untuk menganalisa Perbedaan derajat ruptur perineum pada ibu bersalin normal antara posisi berbaring (litotomi) dengan posisi setengah duduk
D.   Manfaat Penelitian
1.Bagi Peneliti
Untuk menerapkan asuhan kebidanan (Askeb) II Persalinan, Metodologi, serta mengaplikasikannya dalam bentuk penelitian. Agar dapat menerapkan asuhan persalinan dalam masyarakat.
2.    Bagi Instansi Terkait
Sebagai bahan informasi bagi pemerintah daerah setempat dalam melaksanakan kebijakan tentang posisi persalinan.
3.         Bagi Masyarakat
Memberikan informasi tentang posisi yang menguntungkan dalam persalinan.
E.  Keaslian Peneliti
     Tabel 1.2 Keaslian Penelitian
No
Judul dan Peneliti
Tujuan
Metode
Hasil
1.
Perbedaan pengaruh posisi persalinan terhadap Ruptur Perineum pada Ibu bersalin primigravida kala II di Puskesmas Bolo Kec.Bolo Kab. Bima Nusa Tenggara Barat
Ulfa Sofiyati (2009).
Untuk mengetahui
Pengaruh posisi persalinan terhadap kejadian ruptur perineum. 
Analitik Komparatif
Adanya perbedaan dan pengaruh posisi persalinan terhadap ruptur perineum pada ibu bersalin primigravida.
2.
Pengaruh Posisi Ibu dalam Persalinan terhadap trauma perineum di Rumah Bersalin Wilayah Kota Malang.
Ari Kusmiwiyati (2009)
Untuk Mengetahui Pengaruh posisi ibu dalam persalinan terhadap trauma perineum.
Analitik Obserasional
Tidak ada pengaruh posisi persalinan terhadap ruptur perineum pada ibu bersalin
N No
Judul dan Penelitian
Tujuan
Metode
Hasil
3.
Hubungan berat badan lahir dengan derajat rupture perineum pada
Persalinan normal di rsia
Kumala siwi pecangaan
Jepara
Wiwit Khilmiah (2010).
Untuk mengetahui hubungan berat badan lahir dengan derajat rupture perineum pada
Persalinan normal
Studi Analitik Obserasional
ada hubungan secara bermakna antara berat badan lahir dengan derajat ruptur perineum pada persalinan normal.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   Tinjauan Teori
1.  Konsep Dasar Teori persalinan
a.    Definisi Persalinan
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. (Wiknjosastro, 2006).
b. Macam-macam persalinan menurut Prawirohardjo (2006) di antaranya:
1)  Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37 sampai 42 minggu), dengan presentasi belakang kepala dan tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin.
2)  Persalinan spontan adalah persalinan yang berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir.
3)  Persalinan buatan adalah persalinan yang dibantu dengan tenaga dari luar misalnya ekstraksi dengan forceps atau dilakukan dengan operasi section caesarea.
c. Faktor penting yang berperan pada persalinan adalah :
1)     Kekuatan yang ada pada ibu
2)     Keadaan jalan lahir
3)     Keadaan janin
4)     Psikis ibu
5)     Penolong persalinan (Sumarah, 2008).
  1. Mekanisme Persalinan
1)    Penurunan terjadi selama persalinan oleh karena daya dorong dari kontraksi dan posisi, serta peneranan (selama kala dua) oleh ibu
2)     Fiksasi (engagement) ialah tahap  penurunan pada waktu diameter biparietal dari kepala janin telah masuk panggul ibu.
3)    Fleksi adalah sangat penting bagi penurunan selama kala dua. Melalui fleksi ini,  diameter  terkecil dari kepala janin dapat masuk kedalam panggul dan terus menuju dasar panggul. Pada saat kepala berada  dasar panggul tahanannya akan meningkat sehingga terjadi fleksi yang bertambah besar  yang  sangat diperlukan supaya diameter terkecil dapat terus turun.
4)    Rotasi Interna dari kepala akan membuat diameter anteroposterior (yang lebih panjang) dari kepala menyesuaikan diri dengan diameter anteroposterior dari panggul ibu.
            Kepala akan berputar dari arah diameter kanan miring kearah  diameter AP dari panggul. Tetapi bahu tetap miring ke kiri . Dan dengan demikian, hubungan normal antara poros panjang kepala janin dengan poros panjang dari bahu akan berubah dan leher akan berputar 45 derajat. Hubungan antara kepala dan panggul ini akan terus berlangsung selama kepala janin masih berada di dalam panggul.
            Pada umumnya, rotasi penuh dari kepala ini akan terjadi ketika kepala telah mencapai dasar panggul atau segera setelah itu. Perputaran kepala interna dini kadang- kadang bias terjadi pada wanita multipara atau wanita lainnya yang mempunyai kontraksi uterus yang efisien.
5.  Lahirnya kepala dengan cara ekstensi (untuk posisi – posisi occiput anterior) terjadi oleh karena gaya tahanan dari dasar panggul dimana gaya tersebut membentuk lengkungan Carus, yang mengarahkan kepala ke atas menuju ke lobang  vulva. Bagian leher belakang di bawah occiputnya akan bergeser di bawah symphysis pubis dan bekerja sebagai titik poros. Uterus yang berkontraksi kemudian memberikan tekanan tambahan atas kepala yang menyebabkannya ekstensi kepala lebih lanjut saat lubang  vulva – vaginal membuka lebar.
6.  Resusitasi adalah perputaran kepala sejauh 45 derajat baik ke arah kiri atau kearah kanan, bergantung pada arah dimana ia mengikuti perputaran menuju posisi occiput anterior.
7. Rotasi eksternal terjadi sacara bersamaan dengan perputaran intern dari bahu. Pada saat kepala janin mencapai dasar panggul, bahu akan mengalami perputaran dalam arah yang sama dengan kepala janin agar terletak di dalam diameter yang besar dari rongga panggul (AP). Bahu anterior akan terlihat pada lubang vulva – vaginal, dimana ia akan bergeser di bawah symphysis pubis.
8. Bahu posterior kemudian akan meregangkan perineum dan kemudian dilahirkan dengan cara fleksi lateral. Setelah bahub dilahirkan, sisa tubuh akan segera lahir mengikuti lengkung carus (kura jalan lahir)
(PUSDIKNAKES, 2003)
2.  Konsep Dasar Teori Posisi persalinan.
Persalinan dan kelahiran merupakan suatu peristiwa yang normal, tanpa disadari dan mau tidak mau harus berlangsung. Untuk membantu ibu agar tetap tenang dan rileks sedapat mungkin bidan tidak boleh memaksakan pemilihan posisi yang diinginkan oleh ibu dalam persalinannya. Sebaliknya peranan bidan adalah untuk mendukung ibu dalam pemilihan posisi apapun yang dipilihnya, menyarankan alternatif-alternatif hanya apabila tindakan ibu tidak efektif  atau membahayakan dirinya sendiri atau bagi bayinya. Bila ada anggota keluarga yang hadir untuk melayani sebagai pendukung ibu, maka bidan bisa menawarkan dukungan pada orang yang mendukung ibu tersebut.
Pada penatalaksanaan fisiologis kala dua, ibu memegang  kendali dan mengatur saat meneran. Penolong persalinan hanya memberikan bimbingan tentang cara meneran yang efektif. Sebagian besar daya dorong untuk melahirkan bayi oleh kontraksi uterus. Meneran hanya menambah daya kontraksi untuk mengeluarkan bayi. Ibu dapat memilih posisi meneran yang nyaman yang dapat mempersingkat kala II. (PUSDIKNAKES, 2003).
a.    Manfaat Memilih Posisi Meneran yang Efektif yaitu
1)  Sedikit rasa sakit dan ketidaknyamanan
2)  Lama kala II yang lebih pendek
3)  Laserasi Perineum yang lebih sedikit
4)  Lebih membantu dan nilai APGAR yang Lebih baik.
(PUSDIKNAKES, 2003)
b.    Macam – Macam Posisi Persalinan
1)    Posisi Litotomi : Berbaring terlentang atau miring sedikit, kadang- kadang dengan kaki disanggah.
a)    Keuntungan  : Tidak ada Keuntungan, Selain tidak akan mengganggu pemasangan kateter, infus, kateter epidural atau monitor internal janin
b)    Kerugian  :
(1)  Lithotomy posisi lebih menyakitkan daripada posisi lainnya,
(2)  Akses mudah ke perineum. (bidan sering melihat ini sebagai keuntungan, tapi jika Anda ingin menghindari tindakan episiotomy atau bahkan menghindari kejadian robekan perineum, maka hindari posisi ini)
(3)  Meningkatkan tekanan pada perineum yang dapat meningkatkan robekan dan derajat episiotomi, terutama jika dibandingkan dengan posisi jongkok / setengah duduk.
(4)   Mengejan dalam posisi lithotomy meningkatkan peluang Anda untuk dilakukan episiotomy.
2)    Posisi merangkak :
a)  Keuntungan :
(1)  Membantu meringankan rasa sakit
(2)  Lebih sedikit resiko robekan perineum
(3)  Posisi ini sangat bagus untuk bayi besar
(4)  Dapat membantu jika terjadi prolaps tali pusat untuk
      mencegah tali pusat semakin menumbung
b)    Kerugian : Ibu merasa cepat lelah dengan posisi seperti ini karena mengalami kesulitan dalam mengejan.
3)    Berjongkok
a)  Keuntungan :
(1) Berjongkok membuka panggul hingga 30% dibandingkan   dengan posisi berbaring
(2) Posisi Jongkok dapat meluruskan 'jalan lahir karena membantu tulang panggul untuk sejajar dengan jalan lahir,ini menyulitkan bagian terendah janin untuk turun ke jalan lahir.
(3) Jongkok dapat menurunkan tingkat episiotomy
b)  Kerugian : Posisi ini Mungkin melelahkan, itulah sebabnya mengapa itu umumnya merupakan ide yang baik untuk menerapkannya hanya pada saat kala II atau saat mengejan saja.
4)    Posisi berbaring miring ke kiri :
a)      Keuntungan : Peredaran darah balik ibu mengalir lancar. Pengiriman oksigen dalam darah ibu ke janin melalui plasenta tidak terganggu. Karena tidak terlalu menekan, proses pembukaan berlangsung perlahan-lahan sehingga persalinan relatif lebih nyaman serta membantu mencegah terjadinya laserasi.
b)      Kerugian: Posisi ini membuat dokter atau bidan sedikit kesulitan membantu proses persalinan. Kepala bayi lebih sulit dipegang atau diarahkan. Bila harus melakukan episiotomi pun posisinya lebih sulit.
5)    Posisi duduk/ setengah duduk:
a)      Keuntungan :
(1)  Memanfaatkan gaya gravitasi untuk membantu turunnya   bayi
                        (2) Memberi  kesempatan  bagi ibu untuk memberi    kesempatan bagi ibu untuk istirahat diantara kontraksi.
                        (3) Memilih posisi setengah duduk selama persalinan mengalami nyeri, trauma perineal, dan episiotomi yang secara signifikan jauh lebih sedikit
b)    Kerugian:
(1)   Membatasi pergerakan wanita
 (2) Pembukaan panggul sempit dan tekanan di tailbone    (tulang ekor) banyak.
 
Gambar 2.1 Posisi Jongkok                             Gambar 2.2 Posisi Berdiri
                       Sumber : APN, 2008                                              Sumber : APN, 2008
 
Gambar 2.3  setengah duduk                        Gambar 2.4  Posisi Lateral  
                 
Gambar 2.5  Posisi Litotomi
                               Sumber : APN, 2008
3.  Konsep Dasar Teori Laserasi Perineum
a.    Pengertian Perineum
Perineum adalah bagian permukaan pintu bawah panggul, yang terletak antara vulva dan anus. Panjangnya rata-rata 4 cm.
 (Wiknjosastro, 2006).
b.    Klasifikasi ruptur perineum :
1)    Ruptur Perineum Spontan
      Ruptur perineum spontan adalah perlukaan jalan lahir atau robekan perineum secara tidak sengaja karena sebab – sebab tertentu. Luka ini terjadi pada saat persalinan dan tidak teratur.
2)  Ruptur Perineum yang disengaja (Episiotomi)
Merupakan luka perineum yang terjadi karena dilakukan pengguntingan atau perobekan pada perineum. Episiotomi adalah torehan yang dibuat pada perineum untuk memperlebar jalan lahir.
(Husodo, 2006 ).
c.  Faktor - faktor yang mempengaruhi risiko terjadinya ruptur perineum  spontan, yaitu :
1.) Perineum
2.) Pimpinan persalinan
3.) Cara meneran
4.) Berat badan bayi baru lahir
5.) Posisi Persalinan
   (Waspodo, 2008).
Gambar 2.6   Klasifikasi Derajat Ruptur Perineum
      
Derajat I
Derajat II
Derajat III
Derajat IV
a)    Mukosa vagina
b)    Komisura posterior
c)    Kulit perineum
a)    Mukosa vagina
b)    Komisura posterior
c)    Kulit perineum
d)    Otot perineum
a)    Mukosa vagina
b)    Komisura posterior
c)    Kulit perineum
d)    Otot perineum
e)    Otot sfingter ani
a)    Mukosa vagina
b)    Komisura posterior
c)    Kulit perineum
d)    Otot perineum
e)    Otot sfingter ani
f)     Dinding depan rectum
 (APN, 2008)
     
B.  Perbedaan Derajat Ruptur Perineum pada Ibu bersalin antara posisi litotomi dengan posisi setengah duduk
      Tenaga kesehatan atau bidan hendaknya membiarkan ibu bersalin dan melahirkan dalam posisi yang dipilihnya dan bukan posisi terlentang atau litotomi (Sujiyatini,2010).
      ketika seorang ibu bersalin dalam posisi tidur terlentang saat melahirkan, sakrum dan koksigis dikompresi terhadap permukaan yang keras yaitu tempat tidur, sehingga lebih sulit bagi sendinya untuk lebih fleksibel dan untuk kepala janin turun ke jalan lahir. Bahkan, ketika seorang ibu bersalin berada dalam posisi tegak selama proses persalinan maka, ukuran jalan lahir dapat ditingkatkan sampai 30%. Ini bisa berarti kemungkinan adanya gawat janin akan semakin kecil.
      Rekomendasi ini didukung oleh penelitian yang dikumpulkan oleh Cochrane Collaboration, tinjauan sistemik artikel penelitian database global. Profesor Justus Hofmeyr, ahli kandungan Afrika Selatan, melakukan review dari Cochrane Collaboration pada 'Posisi ibu saat melahirkan "dan menemukan bahwa posisi tegak lebih nyaman untuk ibu, mempersingkat waktu lahir, lebih baik untuk bayi dan tidak membahayakan (yessi, 2011)
      Menurut de Jong et al (1997) menyatakan bahwa ibu yang memilih posisi setengah duduk selama persalinan mengalami nyeri, trauma perineal, dan episiotomi yang secara signifikan jauh lebih sedikit (Myles, 2009). Sebaliknya, posisi terlentang atau Litotomi bisa mengakibatkan kontraksi yang akan terasa sakit oleh ibu, yang akan menyebabkan waktu persalinan yang lebih panjang serta laserasi perineum yang lebih parah. (PUSDIKNAKES, 2003)
      Hasil Penelitian Ari Kusmijiyanti (2009), didapatkan bahwa rupture perineum pada ibu bersalin dengan posisi tegak lateral sebagian besar berada pada derajat 2( 58,4%) dan derajat 3 (4,8%) demikian juga pada ibu bersalin dengan posisi melahirkan terlentang atau litotomi hampir setengahnya berada pada derajat 2 (38,1%) dan derajat 3. Hal ini menunjukkan secara umum perbedaan posisi melahirkan tidak memberikan konstribusi terhadap kejadian rupture perineum.
D. Kerangka Teori








Faktor yang
mempengaruhi   ruptur perineum :
1.    Keadaan perineum
2.    Pimpinan persalinan
3.    Cara meneran
4.    Berat badan bayi baru lahir
5.    Posisi persalinan


Posisi Persalinan
1. Duduk/ Setengah       duduk
2. Jongkok/ berdiri
3. Merangkak
4. Berbaring miring       ke   kiri
5. Berbaring/       Litotomi




Posisi Persalinan yang menguntungkan:
  1. Duduk/ Setengah duduk
  2. Jongkok/ berdiri
  3. Merangkak
  4. Berbaring miring ke Kiri.
Posisi Persalianan yang tidak dianjurkan:
       1. Posisi Litotomi
Posisi
  1.  
  2. kiri
  3. Berbaring/ Litotomi

 

                                   






 

Gambar 2.7  Kerangka Teori Perbedaan Derajat Ruptur Perineum Pada Ibu Bersalin Normal antara posisi setengah duduk dengan posisi litotomi
Sumber: Modifikasi Myles ( 2009), APN (2008), Waspodo (2008)
BAB III
METODE PENELITIAN
A.     Kerangka Konsep Penelitian
Text Box: Posisi Ibu bersalin:
  - Posisi Litotomi
      - Posisi Setengah duduk







Ruptur Perineum


 

Variabel Independen                                     Variabel Dependen
Gambar 3.1  Kerangka Konsep Perbedaan Derajat Ruptur Perineum pada ibu bersalin antara posisi litotomi dengan posisi setengah duduk.
B.     Variabel Penelitian
           Variabel Penelitian adalah kondisi-kondisi atau serentaristik yang oleh peneliti dimanipulasikan, dikontrol atau diobservasi dalam suatu penelitian. (Narbuko dan Achmadi, 2002).
Dalam Penelitian ini ada dua Variabel yaitu:
1.    Variabel  Independen yang sering disebut sebagai  variabel  bebas kondisi atau karakteristik-karakteristik yang oleh peneliti dimanipulasi dalam rangka untuk menerangkan hubungan-hubungannya dengan fenomena yang diobservasi (Narbuko dan Achmadi, 2002).
Variabel Independen dalam penelitian ini adalah Posisi Persalinan.
       2. Variabel Dependen yang sering disebut variable terikat yaitu yaitu    kondisi atau karakteristik yang berubah atau muncul ketika penelitian mengintroduksi, mengubah atau mengganti variabel bebas. (Narbuko dan Achmadi, 2002)
     Dalam penelitian ini variable dependen yaitu Ruptur Perineum.
C. Definisi Operasional
Tabel. 3.1.  Definisi Operasional
No
Variabel
Deinisi
Operasional
Parameter dan katagori
Alat Ukur
Skala Pengu-kuran
1.
Derajat Ruptur Perineum
Perlukaan jalan lahir atau robekan perineum secara tidak  sengaja maupun sengaja (Episiotomi) untuk memperlan-car jalan lahir (Husodo, 2006) Perineum terletak antara vulva dan anus.
Panjangnya rata-rata 4cm.
(Wiknjosastro, 2006 ).
1.    Parameter
Derajat Laserasi (Derajat I, II, III & IV)
2.    Kategori
a)  Derajat I: Mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum
b)  Derajat II: derajat I + otot perineum
c)  Derajat III: derajat II+ otot Spincter ani
d)  Derajat IV: derajat III + dinding depan rectum.
Lembar Obser- vasi
Ordinal
2.
Posisi Persalinan
Merupakan factor penting saat seorang wanita berada dalam persalinan dan merupakan salah satu dasar yang memengaruhi keutuhan perineum (Rohani dan Reni, 2011)
1. Parameter
Posisi Litotomi dan Posisi setengah duduk
2.Kategori
a)    Posisi Litotomi adalah posisi berbaring terlentang dengan mengang
kat kedua kaki dan menarik-nya keatas bagian perut, tungkai bawah memben-tuk sudut 900 terhadap paha
b)    Posisi Setengah duduk adalah dimana bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau kepala dinaikkan  (30- 450)
(Musrifatul, 2009)
Lembar Obser
vasi
Nominal
D. Hipotesis
Hipotesis didalam suatu penelitian berarti jawaban sementara, patokan duga, atau dalil sementara, yang kebenaran akan di buktikan dalam penelitian tersebut, (Notoatmojo, 2010)
             Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ho : Tidak ada Perbedaan derajat ruptur  perineum pada ibu bersalin normal antara posisi litotomi dengan posisi setengah duduk
Ha : Ada perbedaan derajat ruptur  perineum pada ibu bersalin normal antara posisi litotomi dengan posisi setengah duduk.
E. Ruang Lingkup Penelitian
1.  Ruang Lingkup Lokasi
Penelitian ini dilakukan di BPS Soniah Desa Rengging Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara.
2.  Ruang Lingkup Waktu
Penelitian ini dilakukan pada Bulan april 2012.
F.    Rancangan Penelitian
  1.  Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian analitik komparatif yaitu survey atau penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi. Kemudian melakukan analisis dinamika korelasi antara fenomena, baik antara faktor risiko dengan faktor efek, antar faktor risiko, maupun antar faktor efek (Notoatmodjo, 2005; h. 145).
            Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pendekatan Cross Sectional. Pendekatan Cross Sectional ialah  suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor- faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat.
  1. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling
a. Populasi
        Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah Ibu bersalin normal kala II     di BPS Soniah Desa Rengging Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara.  yang bersalin pada Bulan april 2012.
b. Sampel
Sampel penelitian ini adalah bagian dari penelitian atau sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi dan dianggap mewakili keseluruhan populasi. (Sugiyono, 2007).
        Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu multigravida yang bersalin di BPS Soniah Desa Rengging Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara.  pada bulan april 2012 dengan perbandingan 1 : 1 yaitu 15 : 15 dengan kriteria inklusi dan ekslusi
1)    Kriteria Inklusi:
a)    Perineum tidak kaku
b)    Ibu Multigravida dengan persalinan normal / spontan
c)    Umur Ibu antara 20 – 35 tahun
d)    Ibu dengan posisi litotomi dan setengah duduk
e)    Yang bersedia menjadi responden
2)  Kriteria Ekslusi:
a)    Cara  mengejan yang salah.
b)    Primigravida
c)    Yang tidak bersedia menjadi responden
c.    Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. (Sugiyono, 2006).
3.    Teknik Pengumpulan data
a.  Data Primer
Data Primer adalah data yang mana dikumpulkan sendiri oleh peneliti dari yang sebelumnya tidak ada, dan tujuannya disesuaikan dengan keperluan peneliti (Alimul, 2010). Data primer dalam penelitian ini adalah data tentang derajat ruptur perineum dan posisi persalinan yang diperoleh melalui lembar observasi.
b.  Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain dan data suda hada. (Alimul, 2010). Data sekunder dalam penelitian ini adalah Perkiraan jumlah Persalinan selama bulan April yang diperoleh melalui data bidan.
4.    Instrumen Penelitian
                   Instrumen penelitian adalah alat yang akan digunakan untuk pengumpulan  data. (Notoatmodjo, 2010). Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah Lembar Observasi yang diperoleh dari pengamatan peneliti pada saat penelitian.
5.    Pengolahan dan Analisa Data
a.    Pengolahan Data
1)    Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau  setelah data terkumpul.
2)    Koding
Koding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila pengolahan dan analisis data menggunakan computer. Biasanya dalam pemberian kode dibuat juga daftar kode dan artinya dalam satu buku (cede book) untuk memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel. Pada penelitian ini variabel yang dilakukan koding adalah
a)    variabel Dependen yaitu :
(1)      Litotomi kode 1
(2)       Setengah duduk Kode 2
b)    variabel Dependen yaitu :
(1)     Derajat I diberi kode 1
(2)      Derajat II Diberi kode  2
(3)      Derajat III diberi kode 3
(4)      Derajat IV diberi kode 4
3)    Entry data
            Data entry adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan ke dalam master tabel atau database computer, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana atau dengan membuat tabel kontigensi (Alimul, 2010)
4)    Tabulating
Tabulating adalah pekerjaan membuat Tabel. Jawaban-jawaban yang telah diberi kode kemudian dimasukkan ke dalam Tabel. Langkah terakhir dari penelitian ini adalah melakukan analisis data. Selanjutnya data dimasukkan ke computer dan dianalisis secara statistik. (Setiawan dan Saryono, 2010).
b.    Analisa Data
1)  Analisa Univariat
            Pada analisa univariat data yang diperoleh dari hasil pengumpulan dapat disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, ukuran tendensi sentral atau grafik.(Saryono, 2009). Pada penelitian ini analisa univariat meliputi Derajat rupture perineum dan Posisi persalinan.
Untuk menghitung presentase dari frekuensi digunakan rumus sebagai berikut : F =          x          X 100%
                  N
Keterangan           :  F       : Presentase
 x      : Frekuensi
 n      : Jumlah subjek
100   : Bilangan tetap
2)  Analisa Bivariat
Analisis bivariat merupakan analisis untuk mengetahui interaksi dua variabel, baik berupa komparatif, asosiatif maupun korelatif (Saryono, 2009). Analisis bivariat ini digunakan untuk mengetahui perbedaan antara variabel independen dengan variabel dependen dengan uji Chi- squere 2 x K menggunakan SPSS 17 for Windows.
Untuk mencari nilai Chi Kuadrat hitung dengan rumus:
X2 =  ∑ (f0 ˗fe)2
        fe
Keterangan :
X  =  Chi Kuadrat
f0   =  Frekuensi yang diobservasi
fe   =    Frekuensi yang diharapkan
6.    Etika Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mendapat rekomendasi dari Diploma III Kebidanan Islam Al-Hikmah Jepara. Setelah disetujui oleh pembimbing 1 dan pembimbing 2 selaku pembimbing penelitian kemudian penelitian akan dilakukan dengan memperhatikan masalah etika antara lain sebagai berikut :
a.    Inform Consent
Lembar persetujuan merupakan bukti bahwa peneliti diijinkan untuk melakukan penelitian di tempat yang telah ditentukan.
b.    Anonimity (tanpa nama)
Anonimity yaitu tidak mencantumkan nama. Untuk menjaga kerahasiaan maka peneliti tidak akan mencantumkan nama pasien pada lembar pengumjpulan data (observasi), cukup dengan memberi kode dengan angka (Saryono, 2010)
c.    Confidentiality (kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.(Alimul, 2007).
  1. Jadwal Penelitian
Terlampir
LEMBAR OBSERVASI POSISI MENERAN DAN DERAJAT RUPTUR PERINEUM PADA RESPONDEN IBU BERSALIN di BPS SONIAH DESA RENGGING PECANGAAN JEPARA
A.   Derajat Ruptur pada ibu bersalin normal dengan posisi Litotomi
No
TanggaL persalinan
Responden
Derajat Ruptur perineum
         Mengetahui,
                                          (                                 )
LEMBAR OBSERVASI POSISI MENERAN DAN DERAJAT RUPTUR PERINEUM PADA RESPONDEN IBU BERSALIN di BPS SONIAH DESA RENGGING PECANGAAN JEPARA
B.         Derajat Ruptur pada ibu bersalin normal dengan posisi Litotomi
No
TanggaL persalinan
Responden
Derajat Ruptur perineum
                                                                                                            Mengetahui,
                                                                                                (                                 )
DAFTAR PUSTAKA
Enggar P, Y. Hubungan berat badan lahir dengan kejadian ruptur perineum pada persalinan normal di RB Harapan Bunda di Surakarta. Surakarta : Jurnal kesehatan. 2010.
Hidayat Aziz A. Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisa Data. Jakarta:     Salemba Medika; 2010
Notoatmodjo, S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT. Rineka Cipta; 2010
Pusdiknakes, WHO. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan Fisiologis Bagi Dosen Diploma III Kebidanan. Jakarta : JHPIEGO; 2003
Saifudin A.B,. Buku Panduan Praktis Pelayanan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo; 2002
Saifudin A.B. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta :Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2008
Sugiyono. Statistika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta; 2007
Sumarah, dkk. Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin) Yogyakarta : Fitramaya; 2008
Siswono, Ruptur Perineum. Dikutip dari http://www.scribd.com/doc/35338955/Preskas-Ruptur-Perineum
                      di akses pada Tanggal 4 maret 2012
Uliyah, Musrifatul, Keterampilan Dasar Praktek Klinik untuk kebidanan Jakarta: Salemba Medika; 2008
Varney, H. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Volume 2. Jakarta : EGC.
Waspodo A.R, dan Danuatmaja, B. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta : EGC; 2008.
Wiknjosastro H., 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Prawirohardjo.
Aprilia Yessi .Posisi Melahirkan. Dikutip dari
di akses pada tanggal 4 maret 2012
INFORM CONSENT
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama               :
Umur                :
Alamat              :
Menyatakan bersedia dengan sukarela menjadi responden pada penelitian yang dilakukan oleh:
Nama                  : Zayyinatul Afidah
Nim                     : 090588
Pekerjaan           : Mahasiswa
Alamat                : Campurejo, Panceng Gresik, Jawa Timur
Judul Penelitian : PERBEDAAN DERAJAT RUPTUR PERINEUM PADA IBU BERSALIN NORMAL ANTARA POSISI SETENGAH DUDUK DENGAN POSISI LITOTOMI DI BPS SONIAH DESA RENGGING KEC. PECANGAAN KAB. JEPARA
Demikian Surat Pernyataan ini saya buat dengan sejujur- jujurnya tanpa adanya paksaan dari pihak siapapun.
                                                                                           Jepara, 31 Maret 2012
    Responden
                                                                                       (Tanpa Nama)                                                        
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Kepada
Yth. Calon Responden
Di Tempat
Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama           : Zayyinatul Afidah
Nim              : 090588
Pembimbing :  1. Devi Rosita, S,S.iT
 2. Asmawahyunita. S.Kep
Bermaksud melakukan penelitian dengan judul “PERBEDAAN DERAJAT RUPTUR PERINEUM PADA IBU BERSALIN NORMAL ANTARA POSISI SETENGAH DUDUK DENGAN POSISI LITOTOMI DI BPS SONIAH DESA RENGGING KEC. PECANGAAN KAB. JEPARA”
Penelitian ini tidak menimbulkan akibat yang merugikan pada anda sebagai responden, serta tidak ada unsur paksaan. Kerahasiaan semua informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian saja.
Bilamana anda tidak bersedia menjadi responden dalam penelitian ini, maka tidak akan ada paksaan maupun ancaman kepada anda. Namun apabila anda bersedia menjadi responden, maka saya mohon anda berkenan untuk menandatangani lembar persetujuan yang telah tersedia.
Demikian Surat Permohonan ini saya buat, atas perhatian dan kerjasamanya di ucapkan terima kasih.
 
Jepara,  Maret 2012
Peneliti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar