Rabu, 02 Maret 2011

ASUHAN KEBIDANAN IBU BERSALIN DENGAN LETAK SUNGSANG

ASUHAN KEBIDANAN IBU BERSALIN DENGAN LETAK SUNGSANG
PADA Ny.W DI RUANG MATAHARI
RSUD HIKARI JAYA
Oleh : Niken Jayanthi, S.Kep

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kejadian letak sungsang berkisar antara 2% samapi 3 % bervariasi di berbagai tempat. Sekalipun kejadiannya kecil tetapi mempunyai penyulit yang sangat besar dengan angka kematian bayi sekitar 20% sampai 30% (Manuaba, 1998).
Pada letak kepala, kepala yang merupakan bagian terbesar lahir terlebih dahulu, sedangkan persalinan letak sungsang justru kepala yang merupakan bagian terbesar bayi akan lahir terakhir. Letak sungsang dapat mempengaruhi terhadap terjadinya KPD (Ketuban Pecah Dini) (Manuaba, 1998).
Asuhan kebidanan patologi pada ibu bersalin dengan letak sungsang meliputi data subyektif dan data obyektif. Data subyektif berisi identitas, alasan datang, riwayat perkawinan, riwayat kesehatan, riwayat obstetri, riwayat KB, pola kehidupan sehari-hari, data pengetahuan ibu. Sedangkan data obyektif berisi vital sign, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan obstetri.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Diharapkan penulis mampu menerapkan asuhan kebidanan dengan manajemen varney pada ibu bersalin dengan letak sungsang
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian data
b. Mampu menginterpretasikan data tentang ibu bersalin dengan letak sungsang
c. Mampu menentukan diagnosa potensial tentang ibu bersalin dengan letak sungsang
d. Mampu menentukan antisipasi untuk masalah letak sungsang
e. Mampu membuat perencanaan asuhan untuk ibu bersalin dengan letak sungsang
f. Mampu melaksanakan perencanaan asuhan yang telah dibuat
g. Mampu melakukan evaluasi

C. MANFAAT
1. Bagi penulis
Penulis dapat menerapkan teori yang diperoleh dari pendidikan dilahan praktek secara nyata dalam hal pelaksanaan asuhan kebidanan ibu bersalin dengan letak sungsang
2. Bagi instansi
Sebagai metode untuk mengevaluasi seberapa jauh mahasiswa menerapkan teori tang diperoleh dibangku kuliah dan mempraktekkannya dilahan

BAB II
TINJAUAN TEORI

I. PERSALINAN SUNGSANG
A. DEFINISI
• Letak Sungsang adalah letak memanjang dengan bokong sebagai bagian yang terendah (presentasi bokong) (FK UNPAD, 2004).
• Persalinan sungsang adalah persalinan pada bayi dengan presentasi bokong/sungsang dimana bayi letaknya sesuai dengan sumbu badan ibu, kepala berada pada fundus uteri sedangkan bokong merupakan bagian terendah (didaerah PAP/sympisis) (Prawirohardjo, 2002).

B. PENYEBAB LETAK SUNGSANG
Penyebab letak sungsang dapat berasal dari :
1. Sudut ibu
a. Keadaan rahim yang abnormal
b. Keadaan plasenta
- Plasenta letak rendah
- Plasenta previa
c. Keadaan jalan lahir
- Kesempitan panggul
- Terdapat tumor yang menghalangi jalan lahir dan perputaran ke posisi kepala
2. Sudut janin
Pada janin terdapat berbagai keadaan yang menyebabkan letak sungsang:
- Tali pusat pendek atau lilitan tali pusat
- Hidrosefalus atau anensefalus
- Gemeli
- Hidramnion
- Prematuritas
(Manuaba, 1998)

C. DIAGNOSIS
1. Pergerakan janin teraba oleh ibu di bagian perut bawah (bawah pusat)
2. Ibu sering merasakan benda keras (kepala) mendesak tulang iga
3. Pada palpasi akan teraba bagian keras, bundar dan melenting pada fundus uteri. Punggung janin dapat diraba pada salah satu sisi perut dan bagian–bagian kecil janin pada sisi yang berlawanan. Diatas sympisis, teraba bagian yang kurang bundar dan lunak.
4. Denyut jantung janin berada setinggi pusat ibu
5. Pada saat dilakukan pemeriksaan dalam teraba os. Ischii dan ujung os. Sacrum
(Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, 2003)

D. BENTUK-BENTUK LETAK SUNGSANG
Berdasarkan komposisi dari bokong dan kaki dapat ditentukan beberapa bentuk letak sungsang, sebagai berikut :
1. Letak bokong murni
2. Letak bokong kaki sempurna
3. Letak bokong tak sempurna
4. Letak kaki
(Manuaba, 1998)

E. PENGARUH TERHADAP JANIN
1. Perdarahan intra cranial
2. Kerusakan pada medulla spinalis
3. Kerusakan pada tulang/jaringan
4. Fraktur klafikula

F. PENATALAKSANAAN
1. Pertolongan persalinan pervaginam
a. Pertolongan fisiologis secara brach
Tehnik melakukan persalinan brach :
- Saat bokong tampak disuntikan oksitosin 5 unit
- Segera setelah bokong lahir, bokong dicengkram secara brach (kedua ibu jari penolong sejajar dengan panjang paha, jari-jari yang lain memegang daerah panggul).
- Lakukan hiperlordosis dengan melengkungkan bokong kearah ibu sehingga lahir berturut-turut bokong, pusat, bahu, dagu, mulut, hidung dan kepala bayi.
- Bayi diletakkan diperut ibu untuk pemotongan tali pusat dan selanjutnya dirawat sebagaimana mestinya.
b. Ekstraksi partial
 Secara klasik
Pengeluaran bahu dan tangan secara klasik dilakukan dengan cara brach, bahu dan tangan tidak bisa lahir. Tehnik persalinan dengan cara klasik adalah sebagai berikut :
- Tangan memegang bokong dengan telunjuk pada spina ishiadica anterior superior.
- Tarik curam kebawah sampai ujung scapula tampak.
- Badan anak dipegang sehingga perut anak di dekatkan ke perut ibu, dengan demikian kedudukan bahu belakang menjadi lebih rendah.
- Tangan lainnya menelusuri bahu belakang sampai mencapai persendian siku.
- Tangan belakang dilahirkan, dengan mendorong persendian siku menelusuri badan bayi.
- Tangan lainnya menelusuri bahu depan menuju persendian siku, selanjutnya lengan atas dilahirkan dengan dorongan pada persendian siku.
- Persalinan kepala dilakukan secara mouriceu.
 Secara muller
Tehnik persalinan cara muller adalah sebagai berikut :
- Melahirkan bahu depan terlebih dahulu dengan menarik kedua kaki dengan cara yang sama seperti klasik.
- Punggung bayi di dekatkan ke punggung ibu sehingga scapula tampak.
- Tangan lainnya menelusuri bahu depan menuju lengan atas, sampai persendian siku untuk melahirkan lengan atas.
- Perut bayi di dekatkan keperut ibu, tangan lain menelusuri bahu belakang, sampai persendian siku dan selanjutnya lengan belakang dilahirkan.
- Kepala dilahirkan dengan tehnik mouriceu.
 Secara loevset
Konsep tehnik loevset dilakukan bila ada lengan bayi yang terjungkit dibelakang kepala. Tehnik cara loevset adalah sebagai berikut :
- Setelah bokong lahir dan kaki bayi lahir memegang bayi dengan kedua tangan.
- Memutar bayi 180 derajat dengan lengan bayi yang menjungkit kearah penunjuk jari tangan menjungkit tersebut.
- Memutar kembali 180 derajat ke arah yang berlawanan. Beberapa kali hingga kedua bahu dan lengan dilahirkan secara klasik atau muller.
- Persalinan kepala dilakukan dengan cara mouriceu.
c. Persalinan kepala
Tehnik persalinan kepala secara mouriceu adalah sebagai berikut :
- Letakan badan bayi di atas tangan kiri sehingga badan bayi seolah-olah menunggang kuda
- Satu jari dimasukan ke mulut dan dua jari di maksila tangan kanan memegang/mencekam bahu tengkuk bayi
- Minta seorang asisten menekan fundus uteri sehingga lahir dagu, mulut, hidung dan kepala secara berturut-turut.
2. Pertolongan persalinan dengan secsio Caesar
(Manuaba, 1998)

II. ASUHAN KEBIDANAN MENURUT VARNEY
A. Pengertian Asuhan Kebidanan
Asuhan Kebidanan adalah penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi tanggungjawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai kebütuhan masalah dalam bidang kesehatan ibu hamil, masa persalinan, masa nifas, bayi setelah lahir serta keluarga berencana (Depkes RI, 1999).

B. Pengertian manajemen kebidanan.
Manajemen kebidanan adalah pendekataan yang dilakukan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dan pengkajiañ, interpretasi data, diagnosa potensial, diagnosa masalah, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Depkes RI, 1999).

C. Konsep Kebidanan Menurut Varney
Proses manajemen yang memperkenalkan sebuah metode dengan mengorganisasikan pemikaran dan tindakan yang harus mengikuti urutan logis dan menbersihkan penelitian yang menyatukan pengetahuan, hasil temuan, dan pnelitian yang terpisah-pisah berfokus pada klien (Varney, 1997).
Proses manajemen terdiri dan 7 Iangkah yang berurutan dimana setiap langkah disempurnakan secara peiodik. Proses dimulai dengan mengumpulkan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersehut membentuk suatu kerangka lengkap yang dapat diaplikasikan dalam situasi apapun. Akan tetapi setiap Iangkah dapat diuraikan lagi menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan itu bisa berubah sesuai dengan kebutuhan klien.
1. Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap, yaitu:
a) Riwayat Kesehatan.
b) Pemeriksaan Fisik sesuai dengan kebutuhannya.
c) Meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya.
d) Meninjau data laboratorium dan membandingkannya dengan hasil studi.
Pada langkah pertama ini dikumpulkan sernua informasi yang akurat dan semua sumber ang berkaitán dengan kondisi klien.
2. Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik.
a. Masalah
Masalah akan timbul jika akseptor menyatakan secara lisan mengenai keluhannya.
b. Kebutuhan
Kebutuhan dapat timbul setelah dalam pengkajian ditemukan hal-hal yang mernbutuhkan informasi dan arahan dan tenaga kësehatan.
3. Mengidentifikasi sehingga ditemukan masalah atau diagnosa yang spesifik.
Pada langkah ketiga ini kita mengidentifikasi atau diganosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila rnemungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa atau masalah potensial ini benar-benar terjadi.
4. Identifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
Meñgidentiñkasi perlunya tindakan segera oieh bidan atau dokter dan atau untuk dikosultasikan atau ditangani bersama dengan anggota team kesehatan lain sesuai dengan kondisi klien.
Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dan proses manajemen kebidanan. Data baru mungkin saja perlu dikumpulkan dan dievaluasi dan data yang dikumpulkan dapat rnenunjukkan satu situasi yang memerlukan tindakan segera, sementara yang lain, harus menunggu, intrpretasi dokter.
5. Rencana Manajemen
Masing-masing jenis rencana manajemen disesuaikan dengan interpretasi data yang berhubungan dengan interpretasi data dasar dan memasukkannya ke dalam antisipasi masalah atau merupakan kegiatan rutin manajernen wanita dalam antenatal visip.
6. Pelaksanaan
Pe1aksanan disesuaikan dengan rencana manajemen yang telah dibuat, demi kelancaran dalam penatalaksanaan harus berpedoman pada intervensi.
7. Evaluasi
Pada langkah terakhir mi dilakukan evaluasi keaktifan asuhan yang sudah diberikan meluputi teratasi masalah apakah sudah sesuai dengan diagnosanya. Dalam evaluasi akan ditemukan perkembangan kesehatan klien, apakah membaik, memburuk atau tidak ada perubahan setelah dilakukan asuhan teori kebidanan (Vamey, 1997).

BAB III
TINJAUAN KASUS

Tanggal : 18 Januari 2009
Tempat : Ruang Matahari
Jam : 14.00 WIB
RSUD Hikari

I. PENGKAJIAN
A. Data Subyektif
1. Identitas / biodata
Nama ibu : Ny “ W “
Umur : 20 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Suku : Jawa
Agama : Islam
Nama suami : Tn “ K “
Umur : 25 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Buruh
Suku : Jawa
lamat : Sidalang 01/I Tersono – Batang

2. Alasan datang dan keluhan utama
Ibu datang rujukan bidan R dengan letak sungsang
3. Tanda – tanda persalinan
a. Kontraksi : sedang
b. Frekuensi : 3x dalam 10 menit, selama 35 detik
c. Kekuatan : sedang
d. Lokasi ketidaknyamanan : perut menjalar kepinggang
4. Pengeluaran pervaginam
a. Darah : – volume : -
b. Air ketuban : -volume : -
c. Lendir darah : -
5. Riwayat menstruasi
a. Menarche : 12 tahun warna : merah
b. Siklus : 30 hari jumlah : 2-3x ganti pembalut/hari
c. Lama : 7 hari keluhan : tidak ada
6. Riwayat perkawinan
a. Umur waktu nikah : 19 tahun
b. Lama : 1 tahun
c. Perkawinan ke : 1
d. Jumlah anak : -
7. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
 Ibu tidak menderita penyakit menular seperti TBC, hepatitis, PMS
 Ibu tidak menderita penyakit menurun seperti DM, asma
 Ibu tidak menderita penyakit menahun seperti jantung
b. Riwayat kesehatan dahulu
 Ibu tidak pernah menderita penyakit menular seperti TBC, hepatitis, PMS
 Ibu tidak pernah menderita penyakit menurun seperti DM, asma
 Ibu tidak pernah menderita penyakit menahun seperti jantung
c. Riwayat kesehatan keluarga
 Keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular seperti TBC< hepatitis, PMS
 Keluarga tidak ada yang menderita penyakit menurun seperti DM, asma
 Keluarga tidak ada yang menderita penyakit menahun seperti jantung
8. Riwayat kehamilan sekarang G1P0A0
a. HPHT : 23 April 2008, HPL : 30 Januari 2009
b. Umur kehamilan : 9 bulan
c. ANC : teratur, frekuensi 7x dibidan
d. Imunisasi TT : 2x dibidan UK : 16 minggu dan 20 minggu
e. Keluhan selama hamil :
TM I TM II TM III
Mual – muntah- Pusing, pegel – pegel
f. Pergerakan janin dalam waktu 24 jam terakhir : gerakan janin aktif
9. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu : G1P0A0
10. Riwayat KB : -
11. Pola pemenuhan kebutuhan sehari – hari :
a. Nutrisi
 Selama hamil : makan 3x / hari, porsi sedang terdiri dari nasi, lauk, sayur. Minum ± 8 gelas / hari
 Terakhir : makan 1 piring terdiri dari nasi, lauk, sayur. Minum teh manis
b. Eliminasi
 Selama hamil : BAB 1x / hari, BAK ± 5x / hari
 Terakhir : BAB 3 jam yang lalu, BAK 3 jam yang lalu
c. Aktifitas
 Selama hamil : ibu bekerja sebagai IRT
 Terakhir : belum beraktifitas
d. Istirahat
 Selama hamil : tidur siang 2 jam, tidur malam 7 jam
 Terakhir : tidur 2 jam
e. Personal hygiene
 Selama hamil : mandi 2x / hari, gosgi 3x / hari, keramas 3x / minggu
 Terakhir : mandi dan gosgi 5 jam yang lalu
f. Rekreasi
 Selama hamil : 1x / bulan
 Terakhir : -
g. Seksual
 Selama hamil : 2x / minggu tanpa keluhan
 Terakhir : -
12. Data psikologis : ibu mengharapkan kehamilannya, suami dan keluarga senang
13. Data sosial budaya :
a. Hewan peliharaan : tidak punya
b. Lingkungan : baik
c. Hub. Dengan suami / keluarga : baik
d. Adat istiadat : tidak ada dat istiadat yang menentang seperti pantangan makanan
14. Data spiritual : ibu rajin mengerjakan shalat 5x / hari
15. Pengetahuan ibu
a. Ibu sudah mengetahui tentang persiapan persalinan dari bidan
b. Ibu sudah mengetahui tentang perawatan payudara dari bidan
16. Penanggung jawab : suami dan keluarga
B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum : baik
b. Kesadaran : composmetis
c. Status emosional : baik
d. TTV :
 TD : 110 / 70 mmHg BB sebelum hamil : 46 kg
 Nadi : 80 x / menit BB sekarang : 55 kg
 RR : 24 x / menit TB : 157 cm
 Suhu : 36,5 °C Lila : 24 cm
e. Status present
 Kepala
Rambut : hitam, lurus, bersih, tidak ada ketombe
Muka : tidak udem
Mata : conjungtiva tidak pucat, sclera tidak ikterik
Hidung : bersih, tidak ada polip, tidak ada secret
Telinga : bersih, tidak ada serumen
Mulut : tidak stomatitis, bibir tidak pecah – pecah, gigi tidak caries
 Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis
 Dada : simetris
 Mammae : membesar, putting menonjol, areola menghitam
 Perut : tidak ada luka bekas sc, tidak strie
 Genetalia : bersih, tidak udem, tidak ada pembengkakan kelenjar bartholyn
 Ekstermitas
 Atas : aktif, normal, tidak cacat, tidak udem, tidak varises
 Bawah : aktif, normal, tidak cacat, tidak udem, tidak varises
 Reflek patella : +
2. Pemeriksaan obstetri
a. Inspeksi
 Wajah / muka : tidak ada cloasma gravidarum
 Mammae: membesar, putting menonjol, areola menghitam, colostrums keluar sedikit
 Abdomen : tidak strie, membesar kearah vertical
 Genetalia : flour albous ( – ), PPV (-)
b. Palpasi, panjang uterus 31 cm, TBJ ( 31 – 11 ) x 155 = 3100 gram
 Leopold I : TFU 3 jari dibawah PX, teraba bulat, keras ada lentingan yaitu kepala
 Leopod II : bagian kanan perut ibu teraba tahanan memanjang yaitu punggung, dan bagian kiri perut ibu teraba bagian kecil – kecil janin yaitu ekstremitas
 Leopold III : bagian bawah perut ibu teraba bulat, lunak ada lekukan yaitu bokong
 Leopold IV : -
c. Auskultasi
DJJ : frekuensi 140 x / menit
Irama teratur
Kontraksi 3 x dalam 10 menit, selama 35 detik
3. Pengukuran panggul luar
a. Distansia spinarum : tidak dilakukan
b. Distansia cristarum : tidak dilakukan
c. Conjugata eksterna : tidak dilakukan
d. Distansia tuberum : tidak dilakukan
e. Lingkar panggul : tidak dilakukan
4. Periksa dalam
a. Genetalia eksterna : bersih, lender (-)
b. Kondisi vagina : tidak ada luka parut, tidak ada penyakit kelamin
c. PPV : -
d. Effecement : 50 %
e. Dilatasi : 5 cm
f. KK : +
g. Bagian menumbung : tidak ada
h. Penurunan kepala : 4/5 bagian
i. POD : sacrum
j. Molase : tidak ada

II. INTERPRETASI DATA DASAR
A. Diagnosa nomenklatur
Ny “ W “ umur 20 tahun, G1P0A0, hamil 38 minggu 4 hari, janin tunggal hidup intra uteri, presbo , puka, inpartu kala I fase aktif dengan letak sungsang
Dasar :
DS :
 Ibu menyatakan umur 20 tahun
 Ibu menyatakan ini kehamilan pertama dan belum pernah abortus
 HPHT 23 april 2008
DO :
 Tensi : 110 / 70 mmHg BB sebelum hamil : 48 kg
 Nadi : 84 x / menit BB sekarang : 57 kg
 RR : 24 x / menit TB : 160 cm
 Suhu : 36,5 °C Lila : 24 cm
 DJJ 140 x / menit
 L I : TFU 3 jari dibawah PX teraba kepala
 L II : puka
 L III : bagian bawah teraba bokong
 L IV : tidak ada
 VT : PPV (-), konsistensi serviks lunak, ø 5 cm, effecement 50 %, KK (+), tidak ada bagian menumbung, POD teraba sacrum,.
B. Masalah
Ibu merasa cemas dan khawatir dengan kehamilannya
C. Kebutuhan
Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan dan menganjurkan ibu untuk tenang

III. IDENTIFIKASI MASALAH / DIAGNOSA POTENSIAL
After coming head

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA
Kolaborasi dengan dr.SPoG advis drip oksitosin ½ ampul dan pasien miring kiri

V. PERENCANAAN
1. Beritahu hasil pemriksaan pada ibu dan keluarga
2. Kolaborasi dengan Dokter SPOG
3. Siapkan mental ibu dan keluarga dalam menghadapi persalinan
4. Anjurkan ibu untuk BAK dan BAB
5. Siapkan partus set dan jahit serta perlengkpan lain
6. Siapkan oksitosin
7. Siapkan pakaian bayi dan pakaian ganti untuk ibu
8. Anjurkan ibu untuk makan dan minum untuk menmbah tenaga
9. Lakukan pengawasan 10

VI. IMPLEMENASI
1. Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu yaitu ibu dan bayi dalam keadaan sehat yaitu TD 110/70 mmHg, nadi 84x/menit, RR 23x/menit, suhu 36 C, DJJ 140x/menit sehingga ibu menjadi lebih tenang. Tetapi ibu belum memasuki masa persalinan karena pembukaan masih 5 cm dan posisi bayi dalam keadaan sungsang.
2. Melakukan kolaborasi dengan Dokter SPOG advis :
- Pasang infus RL
- Drip oksitosin ½ ampul
- Anjurkan ibu untuk miring kiri
3. Menyiapkan mental ibu dan keluarga dalam menghadapi persalinan dan mengajarkan pada ibu cara bernafas dari hidung dan mengeluarkannya per lahan dari mulut untuk mengurangi rasa nyeri.
4. Menganjurkan ibu untuk BAK dan BAB untuk mengosongkan VU
5. Menyiapkan partus set dan bak steril
- 2 buah klem
- 1 gunting tali pusat
- 1 jepitan / pengikat tali pusat
- 1 buah ½ kocheer
- Sarung tangan steril
- Gunting episiotomy
- Jahit set
6. Menyiapkan oksitosin 10 IU dalam spuit 3 cc
7. Menyiapkan pakaian bayi dan pakaian ganti untuk ibu
8. Menganjurkan ibu untuk makan dan minum untuk menambah tenaga pada saat meneran.
9. Melakukan pengawasan 10 pada ibu dengan hasil
- KU : baik
- Kesadaran : composmentis
- TD : 110/70 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
- RR : 24 x/menit
- Suhu : 36,5 C
- Kontraksi : 4x dalam 10 menit selama 45 detik
- DJJ : 146 x/menit
- Bundle Ring : tidak ada
- Tanda Kala II : pembukaan 10 cm (lengkap)

VII. EVALUASI
1. Pasien sudah mengerti tentang keadaannya dan akan bersabar sampai waktu persalinan tiba.
2. Advis dokter telah dilakukan yaitu :
- Infus RL telah terpasang
- Drip oksotosin telah diberikan untuk merangsang his
- Ibu sudah miring kiri agar tidak sesak dalam bernapas
3. Ibu sudah mencoba bernafas panjang dan rasa nyeri relatif berkurang
4. Ibu sudah BAK untuk mengosongkan VU
5. Alat-alat sudah lengkap, demikian juga perlengkapan yang lain sepertiair klorin 0,5%
6. Oksitosin sudah tersedia 10 IU dalam spuit 3 cc.
7. Pakaian bayi sudah tersedia, serta pakaian ibu juga sudah tersedia
8. Ibu mau untuk makan atau minum dan sudah melakukannya untuk menambah tenaga ketika akan meneran.
9. Pengawasan sudah dilakukan hasilnya baik, yaitu :
- KU : baik
- Kesadaran : composmentis
- TD : 110/70 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
- RR : 24 x/menit
- Suhu : 36,5 C
- Kontraksi : 5x dalam 10 menit selama 45 detik
- DJJ : 146 x/menit
- Bundle Ring : tidak ada
- Tanda Kala II : pembukaan 10 cm (lengkap)

PENGKAJIAN II

Pukul : 17.30 WIB
I. DS : - Ibu menyatakan kenceng-kenceng dan ibu ingin meneran
DO : - TD : 110/80 mmHg
- N : 80 x/mnt
- RR : 24 x/mnt
- S : 36,5 oC
- HIS : 5x dalam 10 menit, lamanya 50 detik
- DJJ : 140 x/mnt
- VT : 10 cm
- KK : pecah
- Effeciement : 100%
- Terdapat tanda-tanda gejala kala II:
o tekanan pada anus
o perineum menonjol
o vulva membuka
- Palpasi :
o Leopad I : TFU 3 jari di bawah px, teraba bulat, keras ada lentingan yaitu kepala.
o Leopad II :
Bagian kiri : teraba bagian kecil janin  ekstremitas
Bagian kanan : teraba memanjang, ada tahanan  punggung
o Leopad III : teraba bulat, lunak ada lekukan  bokong
o Leopad IV : tidak ada

II. INTERPRETASI DATA
A. Diagnoas Nomenklatur
Ny “ W “ umur 20 tahun, G1P0A0, hamil 38 minggu 4 hari, janin tunggal hidup intra uteri, presbo , puka, inpartu kala II
DS : - Usia ibu 20 tahun
- Ibu menyatakan hamil pertama, belum pernah melahirkan, dan belum pernah abortus.
- HPHT : 23 April 2008
DO : - TD : 110/80 mmHg
- N : 80 x/mnt
- RR : 24 x/mnt
- S : 36,5 oC
- HIS : 5x dalam 10 menit, lamanya 50 detik
- VT : 10 cm
- KK : pecah
- Efficeiment : 100%
• Leopad I : TFU 3 jari di bawah px, teraba teraba bulat, keras ada lentingan yaitu kepala.
• Leopad II :
Bagian kiri : teraba bagian kecil janin  ekstremitas
Bagian kanan : teraba memanjang, ada tahanan  punggung
• Leopad III : teraba bulat, ada lekukan  bokong
• Leopad IV : tidak ada
B. Masalah

C. Kebutuhan

III. DIAGNOSA POTENSIAL

IV. KEBUTUHAN AKAN TINDAKAN SEGERA

V. PERENCANAAN
1. Beritahu ibu tentang kondisinya saat ini.
2. Atur posisi ibu dan pastikan ibu merasa nyaman
3. Pimpin ibu untuk meneran saat ada his dan minta ibu untuk beristirahat dengan bernafas panjang.
4. Tolong ibu untuk melahirkan janin.
5. Tangani BBL.

VI. IMPLEMENASI
1. Memberitahukan ibu bahwa sekarang pembukaan sudah lengkap dan kondisi janin baik.
2. Mengatur posisi ibu dengan posisi litotomi dan pastikan ibu merasa nyaman.
3. Memimpin ibu untuk meneran saat ada his dan meminta ibu untuk bernafas panjang saat tidak ada his.
4. Menolong ibu untuk melahirkan janin
- Melepas perhiasan dan mencuci tangan
- Memasang handuk di perut ibu
- Membuka partus set dan memakai sarung tangan
- Saat bokong tampak lakukan episiotomi
- Segera stelah bokong lahir, bokong dicengkram secara brach (kedua ibu jari penolong sejajar dengan panjang paha, jari-jari yang lain memegang daerah panggul).
- Lakukan hiperlordosis dengan melengkungkan bokong kearah ibu sehingga lahir berturut-turut bokong, pusat, bahu, dagu, mulut, hidung dan kepala bayi.
- Bayi diletakan diperut ibu untuk pemotongan tali pusat dan selanjutnya dirawat sebagaimana mestinya.
5. Menangani BBL
- Menilai bayi dengan cepat lalu meletakkan bayi diatas perut ibu dengan posisi kepala lebih rendah dari badan.
- Klem tali pusat / jepit dengan jepitan tali pusat kira-kira 2-3 cm dari pangkal. Urut darahpada talipsuat ke arah ibu dan pasang kelm II 1-2 cm dari klem I.
- Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari gunting, memberikan betadin pada tali pusat yang akan dipotong kemudian potong tali pusat antara 2 klem.
- Rawat tali pusat dengan kassa bersih dan kering.
- Mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain bersih dan kering.
- Memberikan bayi pada ibu.

VII. EVALUASI
1. Ibu sudah tahu tentang keadaannya dan janinnya sehat sehingga ibu menjadi tenang.
2. Posisi ibu sudah diatur dengan posisi litotomi dan ibu merasa nyaman dengan posisinya.
3. Ibu bersedia untuk meneran sat ada his dan beristirahat saat tidak ada his dengan bernafas panjang.
4. Janin sudah lahir tanggal 18 Januari 2009 pukul 17.45 WIB.
Janin kelamin perempuan BB : 2800 gram, PB : 49 cm, apgar score 8-9-9
5. Bayi sudah dinilai yaitu dengan apgar score. Hasil apgar score 8-9-9
Handuk sudah diganti dengan handuk yang bersih dan kering dan sudah diberikan kepada ibu.

PENGKAJIAN III

Pukul : 17.45 WIB
I. DS : - Ibu merasa mules-mules, ibu merasa senang dengan kelahiran bayinya.
- Bayi lahir jam 17.45 WIB. Janin kelamin perempuan, BB : 2800 gram, PB : 49 cm.
- apgar score : 8 – 9 – 9
DO : - Placenta belum lahir
- TFU setinggi pusat
- PPV : ± 100 cc

II. INTERPRETASI DATA
A. Diagnoas Nomenklatur
Ny. W umur 20 tahun P1 A0 inpartu kala III.
Dasar :
DS : - ibu menyatakan umur 20 tahun
- Ibu menyatakan melahirkan 1 kali dan belum pernah abortus
- Ibu merasa mules, ibu merasa senang dengan kelahiran bayinya
- Bayi lahir jam 17.45 WIB. Janin kelamin perempuan, BB : 2800 gram, PB : 49 cm.
DO : - Placenta belum lahir
- TFU setinggi pusat

B. Masalah

C. Kebutuhan

III. DIAGNOSA POTENSIAL

IV. ANTISIPASI

V. PERENCANAAN
1. Memastikan bahwa janin ibu kandung tunggal.
2. Beritahu ibu bahwa akan disuntik.
3. Lakukan manajemen aktif kala III dengan peregangan tali pusat terkendali
4. Ajarkan massage fundus uteri pada ibu.
5. Observasi perdarahan dan robekan jalan lahir.
6. Rawat tali pusat pada BBL.

VI. IMPLEMENASI
1. Memastikan bahwa janin yang ibu kandung tunggal dengan melakukan palpasi pada perut ibu.
2. Memberitahukan pada ibu bahwa akan disuntik oksitosin 10 IU pada 1/3 bagian atas paha luar.
3. Melakukan manajemen aktif kala III
- Menyuntikkan oksitosin pada daerah yang telah didesinfeksi secara im.
- Memindahkan klem pada tali pusat ± 5-10 cm dari vulva.
- Saat uterus berkontraksi, tangan kanan memegang tali pusat sementara tangan kiri menekan daerah fundus ke arah doiso cranial.
- Saat plasenta terlepas, menarik tali pusat ke arah bawah kemudian atas mengikuti kurve jalanlahir sambil meneruskan tekanan berlawanan arah pada uterus. Memindahkan klem ± 5-10 cm dari vulva karena tali pusat bertambah panjang.
- Saat placenta kelihatan 2/2 bagian dari vulva, memegang dengan 2 tangan dengan hati-hati memutar sarah jarum jam hingga selaput ketuban tersebut lepas.
- Melakukan massage uterus segera setelah placenta dan selaput ketuban lahir meletakkan telapak tangan di fundus dan melakukan massage dengan gerakan melingkar hingga uterus berkontraksi (keras).
- Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel pada ibu maupun janin dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa ketuban lengkap dan utuh. Meletakkan plasenta pada tempatnya.
4. Mengajarkan massage fundus uteri pada ibu dengan menggunakan sisi palmar atau telapak tangan ibu untuk mengurangi rasa nyeri dan mencegah terjadinya perdarahan.
5. Mengobservasi perdarahan dan robekan jalan lahir.
6. Merawat tali pusat BBL
- Mencelupkan kedua tangan yang memakai serung tangan ke dalam larutan klorin 0,5% membilas dengan air DTT dan mengeringkannya dengan kain bersih dan kering.s
- Mengambil jepitan tali pusat dan menjepit tali pusat sekitar 1 cm dari pusat
- Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya.
- Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI.

VII. EVALUASI
1. Hasil palpasi fundus uteri yang dilakukan adalah janin yang ibu kandung tunggal.
2. Ibu sudah disuntik oksitosin 10 IV
3. Penatalaksanaan menajemen aktif kala III sudah dilakukan, hasilnya :
- Plasenta sudah lahir jam 17.55 WIB.
- Diameter : 13 cm, tebal 1,5 cm.
- Insersi tali pusat di tengah ± 50 cm.
- Kotiledon lengkap
4. Ibu sudah bisa melakukan massage fundus uteri sendiri untuk mengurangi rasa nyeri dan mencegah perdarahan.
5. Perdarahan ± 150 cc dan ada robekan.
6. Tali pusat sudah dibungkus dengan kassa bersih dan kering untuk mencegah terjadinya infeksi.
PENGKAJIAN IV

Pukul : 18.10 WIB
I. DS : - Ibu menyatakan umur 20 tahun, hamil 1x, melahirkan 1x dan belum pernah abortus.
- Plasenta lahir jam 18.10 WIB
- dimater 13 cm
- tebal 1,5 cm
- kontraksi : keras
- lochea : rubra ± 150 cc
DO : - KU : baik
- T : 120/80 mmHg
- N : 84 x/mnt
- RR : 24 x/mnt
- S : 36 oC
- TFU : 2 jari di bawah pusat

II. INTERPRETASI DATA
A. Diagnoas Nomenklatur
Ny. W P1 A0 inpartur kala IV.
Dasar :
DS : - Ibu menyatakan umur 20 tahun, hamil 1x, melahirkan 1x dan belum pernah abortus.
- Plasenta lahir jam 18.10 WIB
- dimater 13 cm
- tebal 1,5 cm
- kontraksi : keras
- lochea : rubra ± 150 cc
DO : - KU : baik
- T : 120/80 mmHg
- N : 84 x/mnt
- RR : 24 x/mnt
- S : 36 oC
- TFU : 2 jari di bawah pusat

III. DIAGNOSA POTENSIAL

IV. IDENTIFIKASI TINDAKAN SEGERA

V. PERENCANAAN
1. Observasi keadaan ibu
2. Observaso konsentrasi dan TFU
3. Dikontaminasikan alat atau tempat
4. Cuci tangan
5. Suntikan VIT K (0,05 ml) dan memberikan salep mata pada bayi
6. Isi partograf
7. Berikan kapsul vit A pada ibu

VI. IMPLEMENTASI
1. Mengobservasi keadaa ibu yaitu tensi, nadi, RR, suhu dan perdarahan tiap 15 menit pada jam 1 dan 30 menit pada jam II post partum
2. Mengobservasi konstruksi uterus dan TFU ibu
3. Mendekomentasikan alat dan tmp dengan larutan klorin
4. Mencuci tangan hingga bersih
5. Menyuntikan VIT K (0,05 ml) dan memberikan salep mata pada bayi
6. Mengisi partograf
7. Memberikan kapsul vit A pada ibu

VII. EVALUASI
1. Kondisi ibu baik, yaitu :
Jam ke Waktu Tekanan darah Nadi Suhu Tinggi fundus uteri Konstraksi uterus Kandung kemih perdarahan
1 18.10 120/80 84 36 2 jari bwh pusat Keras Kosong -
18.25 120/80 84 36 2 jari bwh pusat Keras Kosong -
18.40 120/70 82 36 2 jari bwh pusat Keras Kosong -
18.55 120/70 82 36 2 jari bwh pusat Keras Kosong -
2 19.25 120/70 80 36 2 jari bwh pusat Keras Kosong -
19.55 120/70 80 36 2 jari bwh pusat Keras Kosong -

2. Kontaksi uterus keras dan TFU 2 jari di bawah pusat
3. Lat dan tempat sudah didekotaminasikan dengan larutan klorin 0,5% sehingga alat dan tempat menjadi bersih
4. Tangan sudah dicuci dengan sabun sampai bersih
5. Bayi sudah disuntik VIT K (0,05 ml) dan sudah diberikan salep mata
6. Partograf sudah diisi sesuai data
7. Ibu sudah meminum 1 kapsul vit A

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada Bab IV ini akan dibahas kesenjangan antara teori dan praktek yaitu :
1. Pengkajian
Pada langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan pengumpulan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap yaitu:
a. riwayat kesehatan
b. pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan
c. meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya.
d. Meninjau data laboratorium dan membandingkannya dengan hasil studi (Simatupang 2006: 10).
Dalam prakteknya pengakajian sudah dilakukan sesuai dengan teori yang meliputi identitas ibu (ibu bernama Ny. W umur 20 tahun), riwayat obstetri (ibu tidak pernah menderita penyakit yang berhubungan dengan alat reproduksi), riwayat KB (ibu sebelumnya belum pernah menggunakan alat kontrasepsi), Vital Sign (ibu dalam kondisi baik, tensi 110/80 mmhg, suhu 36,5 C, nadi 80x/menit, RR 24x/menit, pemeriksaan obstetri LI teraba kepala, LII kanan teraba punggung dan kiri teraba ekstrimitas, LIII teraba bokong, LIV divergen, DJJ 140x/menit, VT pembukaan 5 cm, PPV (-). Sehingga dalam melakukan pengkajian sudah dilakukan sesuai dengan teori yang ada.

2. Interpretasi Data
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data – data yang telah dikumpulkan data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosis yang spesifik (Simatupang 2006:1)

Dilahan praktek Interpretasi data sudah dilakukan sesuai dengan teori :
a. Diagnosa nomenklatur yang ditegakkan dalam masalah ini adalah Ny. Ny “ W “ umur 20 tahun, G1P0A0, hamil 38 minggu 4 hari, janin tunggal hidup intra uteri, presbo , puka, inpartu kala I fase aktif
Dasar :
DS :
 Ibu menyatakan umur 20 tahun
 Ibu menyatakan ini kehamilan pertama dan belum pernah abortus
 HPHT 23 april 2009
DO :
 Tensi : 110 / 70 mmHg BB sebelum hamil : 48 kg
 Nadi : 84 x / menit BB sekarang : 57 kg
 RR : 24 x / menit TB: 157 cm
 Suhu : 36,5 °C Lila: 24 cm
 DJJ 140 x / menit
 L I : TFU 3 jari dibawah PX
 L II : puka
 L III : bagian bawah teraba kepala
 L IV : tidak ada
 VT : PPV (-), konsistensi serviks lunak, ø 5 cm, effecement 50 %, KK (+), tidak ada bagian menumbung, POD teraba sacrum.
b. Masalah
Ibu menyatakan merasa cemas dengan kehamilannya
c. Kebutuhan
Informasi tentang keadaan kehamilan ibu

3. Diagnosa Potensial
Menurut teori pada langkah ini kita mengidentifikasi atau diganosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila rnemungkinkan dilakukan pencagahan.
pada kasus Ny. W diagnosa potensial adalah after coming head karena TBJ 3100 gram.

4. Antisipasi Penanganan Segera
Menurut teori kebutuhan tindakan segera mencerminkan kesinambungan dalam manajemen kebidanan. Data baru mungkin saja perlu dikumpulkan dan dievaluasi dan data yang dikumpulkan dapat rnenunjukkan satu situasi yang memerlukan tindakan segera.
Pada kasus Ny. W kebutuhan akan tindakan segera yaitu Konsul dengan dokter SPOG advis infuse RL 20 tetes/menit, Drip oksitosin ½ ampul, ibu miring kiri.

5. Intervensi
Menurut teori jenis rencana manajemen disesuaikan dengan interpretasi data yang berhubungan dengan interpretasi data dasar yang sudah ada.
Pada kasus ini perencanaan sudah dibuat sesuai dengan teori dan interpretasi data yang ada. Intervensi yang dilakukan pada Ny W banyak sekali yaitu : dari pemeriksaan awal sampai 60 langkah APN serta dilakukan pengawasan selama 2 jam pasca persalinan. Dari pengamatan penulis intervensi yang dibuat sesuai dengan teori yang ada.
Sehingga dalam kasus ini tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dengan praktek.

6. Implementasi
Pelaksanaan perencanaan sedapat mungkin sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat yaitu : melakukan kolaborasi dengan dokter atau tenaga kesehatan lain dan melakukan asuhan mandiri.
Pelaksanaan perencanaan yang dilakukan pada Ny W sesuai dengan diagnosa yang dilakukan 60 langkah asuhan persalinan normal serta dilakukan pengawasan selama 2 jam postpartum. Pada pelaksanaan perencanaan penulis tidak menemukan adanya kesenjangan antara teori dan praktek.

7. Evaluasi
Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasikan dalam masalah dan diagnosa (Simatupang 2006 :13).
Dari asuhan yang telah dilakukan pada Ny W, ibu sudah bersalin, bayinya laki-laki. Kesehatan ibu sudah agak pulih, tekanan darah ibu pun sudah kembali normal, sehingga dapat dikatakan bahwa asuhan yang dilakukan sudah sesuai teori.

BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pada penyusunan laporan panjang ini yang berjudul “ASUHAN KEBIDANAN IBU BERSALIN PADA NY.N DENGAN LETAK SUNGSANG yang dilakukan di RSUD Batang, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pengkajian yang dilakukan pada Ny.W dari data subyektif didapatkan hasil bahwa ibu Vital Sign (ibu dalam kondisi baik, tensi 110/80 mmhg, suhu 36,5 C, nadi 84x/menit, RR 24x/menit, pemeriksaan obstetri LI teraba kepala, LII kanan teraba punggung dan kiri teraba ekstrimitas, LIII teraba bokong, LIV divergen, DJJ 140x/menit, VT pembukaan 5 cm, PPV air ketuban).
2. Interpretasi data sudah dilakukan dan diproleh diagnosa nomenklatur Ny. Ny “ W “ umur 20 tahun, G1P0A0, hamil 38 minggu 4 hari, janin tunggal hidup intra uteri, presbo , puka, inpartu kala I fase aktif, Masalah ibu menyatakan merasa cemas dengan kehamilannya, Kebutuhan Informasi tentang keadaan kehamilan ibu
3. Diagnosa potensial pada Ny. W adalah after coming head karena ketuban TBJ 3100 gram.
4. Kebutuhan akan tindakan segera yaitu dengan konsul dokter SPOG dan diperoleh advis infuse RL 20 tetes/menit, Drip oksitosin ½ ampul, ibu miring kiri
5. Perencanaan untuk ibu bersalin dengan letak sungsang sudah dilakukan sesuai dengan teori
6. Pelaksanaan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan letak sungsang sudah dilakukan sesuai dengan perencanaan.
7. Evaluasi sudah dilakukan sesuai dengan pelaksanaan.

B. SARAN
Diharapkan tenaga kesehatan mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya pada ibu bersalin dengan letak sungsang dengan lebih komprehensif.

DAFTAR PUSTAKA

Mochtar, Rustam, Lutan Delfi. 1998. Sinopsis Obstetri Edisi 2 : Jakarta : EGC.
Prawirohardjo Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Edisi 3 : Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar