Kamis, 16 Juni 2011

Askep Solusio Plasenta

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat.

Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.

Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.

Gejala dan tanda solusio plasenta sangat beragam, sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian terjadi gawat janin, perdrhan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi uterus yang menetap. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi.

Solusio plasenta merupakan penyakit kehamilan yang relatif umum dan dapat secara serius membahayakan keadaan ibu. Seorang ibu yang pernah mengalami solusio plasenta, mempunyai resiko yang lebih tinggi mengalami kekambuhan pada kehamilan berikutnya. Solusio plasenta juga cenderung menjadikan morbiditas dan bahkan mortabilitas pada janin dan bayi baru lahir.

1.2 Batasan Masalah

Makalah yang kami buat ini dibatasi pada hal-hal yang mngenai solusio plasenta. Tentang definisi solusio plasenta, etiologi, patofisiologi, klasifikasi solusio plasenta, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, komplikasi, prognosis, asuhan keperawatan pada solusio plasenta.

1.3 RUMUSAN MASALAH

a. Apa definisi solusio plasenta ?

b. Apa etiologi solusio plasenta?

c. Bagaimana patofisiologi dari solusio plasenta ?

d. Apa saja klasifikasi dari solusio plasenta ?

f. Apa saja manifestasi klinis dari solusio plasenta ?

g. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk pasien dengan solusio plasenta ?

h. Apa saja klasifikasi dari solusio plasenta ?

i. Apa prognosis dari solusio plasenta ?

j. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan solusio plasenta ?

1.4 Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini yaitu :

1. Untuk mengetahui definisi solusio plasenta.

2. Untuk mengetahui etiologi dari solusio plasenta.

3. Untuk mengetahui patofisiologi dan solusio plasenta.

4. Untuk mengetahui kalsifikasi dari solusio plasenta.

5. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari solusio plasenta.

6. Untuk mengetahui pemeriksaan pemnunjang untuk solusio plasenta.

7. Untuk mengetahui komplikasi dari solusio plasenta.

8. Untuk mengetahui prognosis dari solusio plasenta.

9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan solusio plasenta.

1.5 Manfaat

Manfaat dari penyusunan makalah ini yaitu memberikan sidikit informasi kepada mahasiswa tentang solusio plasenta sampai asuhan keperawatan pasien dengan solusio plasenta.

BAB 2

ISI

2.1 Definisi

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri sebelum janin lahir, dengan masa kehamilan 22 minggu / berat janin di atas 500 gr.

2.2 Etiologi

Etiologi dari solusio belum diketahui secara pasti. Faktor predisposisi yang mungkin ialah hipertensi kronik, trauma eksternal, tali pusat pendek, defisiensi gizi, merokok, konsumsi alkohol, penyalah gunaan kokain, umur ibu yang tua.

2.3 Patofisiologi

Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis yang kemudian terbelah dan meningkatkan lapisan tipis yang melekat pada mometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.

Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retro plasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban.

Pohon masalah

Trauma



Perdarahan ke dalam desidualbasalis



Terbelah & meninggal lapisan tipis pada miometrium



Terbentuk hematoma desidual



Penghancuran plasenta



Ruptur pembuluh arteri spinalis desidua



Hematoma retroplasenta



Pelepasan plasenta lebih banyak



Uterus tidak mampu berkontraksi optimal



Darah mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban



Syok hipovolemik

2.4 Klasifikasi

2.4.1 Menurut derajat lepasnya plasenta

2.4.1.1 Solusio plasenta partsialis

Bila hanya sebagaian plasenta terlepas dari tepat pelekatnya.

2.4.1.2 Solusio plasenta totalis

Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat pelekatnya.

2.4.1.3 Prolapsus plasenta

Bila plasenta turun kebawah dan dapat teraba pada pemeriksaan dalam.

2.4.2 Menurut derajat solusio plasenta dibagi menjadi :

2.4.2.1 Solusio plasenta ringan

Ruptur sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak akan menyebabkan perdarahan pervaginan berwarna kehitaman dan sedikit. Perut terasa agk sakit atau terus menerus agak tegang. Bagian janin masih mudah diraba.

2.4.2.2 Solusio plasenta sedang

Plasenta telah terlepas lebih dari seperempat tanda dan gejala dapat timbul perlahan atau mendadak dengan gejala sakit terus menerus lalu perdarahan pervaginan. Dinding uterus teraba tegang.

2.4.2.3 Solusio plasenta berat

Plasenta telah lepas dari dua pertiga permukaan disertai penderita shock.

2.5 Manifestasi Klinis

2.5.1 Anamnesis

Perdarahan biasanya pada trimester ketiga, perdarahan pervaginan berwarna kehitam-hitaman yang sedikit sekali dan tanpa rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut, uterus tegang perdarahan pervaginan yang banyak, syok dan kematian janin intra uterin.

2.5.2 Pemeriksaan fisik

Tanda vital dapat normal sampai menunjukkan tanda syok.

2.5.3 Pemeriksaan obstetri

Nyeritekan uterus dan tegang, bagian-bagian janin yang sukar dinilai, denyut jantung janin sulit dinilai / tidak ada, air ketuban berwarna kemerahan karena tercampur darah.

2.6 Pemeriksaan Penunjang

2.6.1 Pemeriksaan laboratorium darah : hemoglobin, hemotokrit, trombosit, waktu protombin, waktu pembekuan, waktu tromboplastin, parsial, kadar fibrinogen, dan elektrolit plasma.

2.6.2 Cardiotokografi untuk menilai kesejahteraan janin.

2.6.3 USG untuk menilai letak plasenta, usia gestasi dan keadaan janin.

2.7 Komplikasi

2.7.1 Langsung (immediate)

2.7.1.1 perdarahan

2.7.1.2 infeksi

2.7.1.3 emboli dan syok abtetric.

2.7.2 Tidak langsung (delayed)

2.7.2.1 couvelair uterus, sehinga kontraksi tak baik, menyebabkan perdarahan post partum.

2.7.2.2 hipofibrinogenamia dengan perdarahan post partum.

2.7.2.3 nikrosis korteks neralis, menyebabkan anuria dan uremia

2.7.2.4 kerusakan-kerusakan organ seperti hati, hipofisis.

2.7.3 Tergantung luas plasenta yang terlepas dan lamanya solusio plasenta berlangsung. Komplikasi pada ibu ialah perdarahan, koalugopati konsumtif (kadar fibrinogen kurang dari 150 mg % dan produk degradasi fibrin meningkat), oliguria, gagal ginjal, gawat janin, kelemahan janin dan apopleksia utero plasenta (uterus couvelar). Bila janin dapat diselamatkan, dapat terjadi komplikasi asfiksia, berat badan lahir rendah da sindrom gagal nafas.

2.8 Penatalaksanaan

2.8.1 Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi .

2.8.2 Sebelum dirujuk , anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri , tidak melakukan senggama , menghindari eningkatan tekanan rongga perut .

2.8.3 Pasang infus cairan Nacl fisiologi . Bila tidak memungkinkan . berikan cairan peroral .

2.8.4 Pantau tekanan darah & frekuensi nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi / syk akibat perdarahan . pantau pula BJJ & pergerakan janin .

2.8.5 Bila terdapat renjatan , segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah , bila tidak teratasi , upayakan penyelamatan optimal . bila teratsi perhatikan keadaan janin .

2.8.6 Setelah renjatan diatasi pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau persalinan pervaginam diperkirakan akan berlangsung lama . bila renjatan tidak dapat diatasi , upayakan tindakan penyelamatan optimal .

2.8.7 Setelah syk teratasi dan janin mati , lihat pembukaan . bila lebih dari 6 cm pecahkan ketuban lalu infus oksitosin . bila kurang dari 6 cm lakukan seksio sesarea .

2.8.8 Bila tidak terdapat renjatan dan usia gestasi kurang dari 37 minggu / taksiran berat janin kurang dari 2.500 gr . penganganan berdasarkan berat / ringannya penyakit yaitu :

a) Solusi plasenta ringan .

· Ekspektatif , bila ada perbaikan ( perdarahan berhenti , kontraksi uterus tidak ada , janin hidup ) dengan tirah baring atasi anemia , USG & KTG serial , lalu tunggu persalinan spontan .

· Aktif , bila ada perburukan ( perdarahan berlangsung terus , uterus berkontraksi , dapat mengancam ibu / janin ) usahakan partus pervaginam dengan amnintomi / infus oksitosin bila memungkinan . jika terus perdarahan skor pelvik kurang dari 5 / ersalinan masih lama , lakukan seksi sesarea .

b) Slusio plasenta sedang / berat .

· Resusitasi cairan .

· Atasi anemia dengan pemberian tranfusi darah .

· Partus pervaginam bila diperkirakan dapat berkurang dalam 6 jam perabdominam bila tidak dapat renjatan , usia gestasi 37 minggu / lebih / taksiran berat janin 2.500 gr / lebih , pikirkan partus perabdominam bila persalinan pervaginam diperkirakan berlangsung lama .

2.9 Prognosis

2.9.1 Terhadap ibu

Mortalitas ibu 5 – 10 % hal ini karena adanya perdarahan sebelum dan sesudah partus.

2.9.2 Terhadap anak

Mortalitas anak tinggi mencapai 70 – 80 % hal ini tergantung derajat pelepasan dari plasenta.

2.9.3 Terhadap kehamilan berikutnya

Biasanya bila telah menderita penyakit vaskuler dengan solusio plasenta, maka kehamilan berikutnya sering terjadi solusio plasenta yang lebih hebat.

BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

SOLUSIO PLACENTA

3.1 Pengkajian

a. Biodata

Pada biodata yang perlu dikaji berhubungan dengan solusio plasenta antara lain

à Nama

Nama dikaji karena nama digunakan untuk mengenal dan merupakan identitas untuk membedakan dengan pasien lain dan menghindari kemungkinan tertukar nama dan diagnosa penyakitnya.

à Jenis kelamin

Pada solusio plasenta diderita oleh wanita yang sudah menikah dan mengalami kehamilan.

à Umur

Solusio plasenta cenderung terjadi pada usia lanjut (> 45 tahun) karena terjadi penurunan kontraksi akibat menurunnya fungsi hormon (estrogen) pada masa menopause.

à Pendidikan

Solusio plasenta terjadi pada golongan pendidikan rendah karena mereka tidak mengetahui cara perawatan kehamilan dan penyebab gangguan kehamilan.

à Alamat

Solusio plasenta terjadi di lingkungan yang jauh dan pelayanan kesehatan, karena mereka tidak pernah dapat pelayanan kesehatan dan pemeriksaan untuk kehamilan.

à Riwayat persalinan

Riwayat persalinan pada solusio plasenta biasanya pernah mengalami pelepasan plasenta.

à Status perkawinan

Dengan status perkawinan apakah pasien mengalami kehamilan (KET) atau hanya sakit karena penyakit lain yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan.


à Agama

Untuk mengetahui gambaran dan spiritual pasien sebagai memudahkan dalam memberikan bimbingan kegamaan.

à Nama suami

Agar diketahui siapa yang bertanggung jawab dalam pembiayaan dan memberi persetujuan dalam perawatan.

à Pekerjaan

Untuk mengetahui kemampuan ekonomi pasien dalam pembinaan selama istrinya dirawat.

b. Keluhan utama

o Pasien mengatakan perdarahan yang disertai nyeri

o Rahim keras seperti papan dan nyeri tekan karena isi rahim bertambah dengan dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta, sehingga rahim tegang.

o Perdarahan yang berulang-ulang.

c. Riwayat penyakit sekarang

Darah terlihat merah kehitaman karena membentuk gumpalan darh, darah yang keluar sedikit banyak, terus menerus. Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat. Sebelumnya biasanya pasien pernah mengalami hypertensi esensialis atau pre eklampsi, tali pusat pendek trauma, uterus yang sangat mengecil (hydroamnion gameli) dll.

d. Riwayat penyakit masa lalu

Kemungkinan pasien pernah menderita penyakit hipertensi / pre eklampsi, tali pusat pendek, trauma, uterus / rahim feulidli.

e. Riwayat psikologis

Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta tidak mengetahui asal dan penyebabnya.

f. Pemeriksaan fisik

1. Keadaan umum

o Kesadaran : composmetis s/d coma

o Postur tubuh : biasanya gemuk

o Cara berjalan : biasanya lambat dan tergesa-gesa

o Raut wajah : biasanya pucat

2. Tanda-tanda vital

o Tensi : normal sampai turun (syok) (<>

o Nadi : normal sampai meningkat (> 90x/menit)

o Suhu : normal / meningkat (> 37o c)

o RR : normal / meningkat (> 24x/menit)

g. Pemeriksaan cepalo caudal

1. Kepala : kulit kepala biasanya normal / tidak mudah mengelupas rambut biasanya rontok / tidak rontok.

Muka : biasanya pucat, tidak oedema ada cloasma

Hidung : biasanya ada pernafasan cuping hidung

Mata : conjunctiva anemis

2. Dada : bentuk dada normal, RR meningkat, nafas cepat da dangkal, hiperpegmentasi aerola.

3. Abdomen

o Inspeksi : perut besar (buncit), terlihat etrio pada area perut, terlihat linea alba dan ligra

o Palpasi rahim keras, fundus uteri naik

o Auskultasi : tidak terdengar DJJ, tidak terdengar gerakan janin.

4. Genetalia

Hiperpregmentasi pada vagina, vagina berdarah / keluar darah yang merah kehitaman, terdapat farises pada kedua paha / femur.

5. ekstimitas

Akral dingin, tonus otot menurun.

6. pemeriksaan penunjang

o Darah : Hb, hemotokrit, trombosit, fibrinogen, elektrolit.

o USG untuk mengetahui letak plasenta,usia gestasi, keadaan janin.

2. Daftar Diagnosa Keperawatan

a) Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai dengan conjungtiva anemis , acral dingin , Hb turun , muka pucat & lemas .

b) Resiko tinggi terjadinya letal distress berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang .

c) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus di tandai terjadi distress / pengerasan uterus , nyeri tekan uterus .

d) Gangguan psikologi ( cemas ) berhubungan dengan keadaan yang dialami .

e) Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan .

f) Kurang pengetahuan klien tentang keadaan patologi yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi .

3. Intervensi Keperawatan

a. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai dengan conjunctiva anemis, acrar dingin, Hb turun, muka pucat, lemas.

- Tujuan : suplai / kebutuhan darah kejaringan terpenuhi

- Kriteria hasil

Conjunctiva tida anemis, acral hangat, Hb normal muka tidak pucat, tida lemas.

- Intervensi

1. Bina hubungan saling percaya dengan pasien

Rasional : pasien percaya tindakan yang dilakukan

2. Jelaskan penyebab terjadi perdarahan

Rasional : pasien paham tentang kondisi yang dialami

3. Monitor tanda-tanda vital

Rasional : tensi, nadiyang rendah, RR dan suhu tubuh yang tinggi menunjukkan gangguan sirkulasi darah.

4. Kaji tingkat perdarahan setiap 15 – 30 menit

Rasional : mengantisipasi terjadinya syok

5. Catat intake dan output

Rasional : produsi urin yang kurang dari 30 ml/jam menunjukkan penurunan fungsi ginjal.

6. Kolaborasi pemberian cairan infus isotonik

Rasional : cairan infus isotonik dapat mengganti volume darah yang hilang akiba perdarahan.

7. Kolaborasi pemberian tranfusi darah bila Hb rendah

Rasional : tranfusi darah mengganti komponen darah yang hilang akibat perdarahan.

b. Resiko tinggi terjadinya fetal distres berhubungan dengan perfusi darah ke placenta berkurang.

- Tujuan : tidak terjadi fetal distress

- Kriteria hasil : DJJ normal / terdengar, bisa berkoordinasi, adanya pergerakan bayi, bayi lahir selamat.

- Intervensi

1. Jelaskan resiko terjadinya dister janin / kematian janin pada ibu

Rasional : kooperatif pada tindakan

2. Hindari tidur terlentang dan anjurkan tidur ke posisi kiri

Rasional : tekanan uterus pada vena cava aliran darah kejantung menurun sehingga terjadi perfusi jaringan.

3. Observasi tekanan darah dan nadi klien

Rasional : penurunan dan peningkatan denyut nadi terjadi pad sindroma vena cava sehingga klien harus di monitor secara teliti.

4. Oservasi perubahan frekuensi dan pola DJ janin

Rasional : penurunan frekuensi plasenta mengurangi kadar oksigen dalam janin sehingga menyebabkan perubahan frekuensi jantung janin.

5. Berikan O2 10 – 12 liter dengan masker jika terjadi tanda-tanda fetal distress

Rasional : meningkat oksigen pada janin

c. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uteres ditandai terjadi distrensi uterus, nyeri tekan uterus.

- Tujuan : klien dapat beradaptasi dengan nyeri

- Kriteria hasil :

* Klien dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri.

* Klien kooperatif dengan tindakan yang dilakukan.

- Intervensi

1. Jelaskan penyebab nyeri pada klien

Rasional : dengan mengetahui penyebab nyeri, klien kooperatif terhadap tindakan

2. Kaji tingkat

Rasional : menentukan tindakan keperawatan selanjutnya.

3. Bantu dan ajarkan tindakan untuk mengurangi rasa nyeri.

- Tarik nafas panjang (dalam) melalui hidung dan meng-hembuskan pelan-pelan melalui mulut.

Rasional : dapat mengalihkan perhatian klien pada nyeri yang dirasakan.

- Memberikan posisi yang nyaman (miring kekiri / kanan)

Rasional : posisi miring mencegah penekanan pada vena cava.

- Berikan masage pada perut dan penekanan pada punggung

Rasional : memberi dukungan mental.

4. Libatkan suami dan keluarga

Rasional : memberi dukungan mental

d. Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan keadaan yang dialami

- Tujuan : klien tidak cemas dan dapat mengerti tentang keadaannya.

- Kriteria hasil : penderita tidak cemas, penderita tenang, klie tidak gelisah.


- Intervensi

1. Anjurkan klilen untuk mengemukakan hal-hal yang dicemaskan.

Rasional : dengan mengungkapkan perasaannyaaka mengurangi beban pikiran.

2. Ajak klien mendengarkan denyut jantung janin

Rasional : mengurangi kecemasan klien tentag kondisi janin.

3. Beri penjelasan tentang kondisi janin

Rasional : mengurangi kecemasan tentang kondisi / keadaan janin.

4. Beri informasi tentang kondisi klien

Rasional : mengembalikan kepercayaan dan klien.

5. Anjurkan untuk manghadirkan orang-orang terdekat

Rasional : dapat memberi rasa aman dan nyaman bagi klien

6. Anjurkan klien untuk berdo’a kepada tuhan

Rasional : dapat meningkatkan keyakinan kepada Tuhan tentang kondisi yang dilami.

7. Menjelaskan tujuan dan tindakan yang akan diberikan

Rasional : penderita kooperatif.

e. Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan

- Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi

- Kriteria hasil : * Perdarahan berkurang

* Tanda-tanda vital normal

* Kesadaran kompos metit

- Intervensi

1. Kaji perdarahan setiap 15 – 30 menit

Rasional : mengetahui adanya gejala syok sedini mungkin.

2. monitor tekanan darah, nadi, pernafasan setiap 15 menit, bila normal observasi dilakukan setiap 30 menit.

Rasional : mengetahui keadaan pasien

3. Awasi adanya tanda-tanda syok, pucat, menguap terus keringat dingin, kepala pusing.

Rasional : menentkan intervensi selanjutnya dan mencegah syok sedini mungkin

4. Kaji konsistensi abdomen dan tinggi fundur uteri.

Rasional : mengetahui perdarahan yang tersembunyi

5. Catat intake dan output

Rasional : produksi urine yang kurang dari 30 ml/jam merupakan penurunan fungsi ginjal.

6. Berikan cairan sesuai dengan program terapi

Rasional : mempertahanka volume cairan sehingga sirkulasi bisa adekuat dan sebagian persiapan bila diperlukan transfusi darah.

7. Pemeriksaan laboratorium hematkrit dan hemoglobin

Rasional : menentukan intervensi selanjutnya

f. Kurangnya pengetahuan klien tentang keadaan patologi yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi

- Tujuan : penderita dapat mengerti tentang penyakitnya.

- Kriteria hasil : dapat menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan penyakitnya.

- Intervensi

1. Kaji tingkat pengetahuan penderita tentang keadaanya

Rasional : menentukan intervensi keperawatan selanjutnya.

2. Berikan penjelasan tentang kehamilan dan tindakan yang akan dilakukan.

a. Pengetahua tentang perdarahan antepartum.

b. Penyebab

c. Tanda dan gejala

d. Akibat perdarahan terhadap ibu dan janin

e. Tindakan yang mungkin dilakukan

Rasional : penderita mengerti dan menerima keadaannya serta pederita menjadi kooperatif.

BAB 4

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat.

Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.

Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.

Gejala dan tanda solusio plasenta sangat beragam, sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian terjadi gawat janin, perdrhan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi uterus yang menetap. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi.

DAFTAR PUSTAKA

MANSJOER ARIF DKK . 2001.KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. EDISI 3 JILID 1.FK UI . JAKARTA

WWW.SOLUSI PLASENTA . COM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar