Kamis, 16 Juni 2011

KEPERAWATAN PERIOPERATIF

KEPERAWATAN PERIOPERATIF:
Istilah yang digunakan untuk menggambarkan fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien.

“PERIOPERATIF”
Suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan: praoperatif intraoperatif, dan pascaoperatif.


FASE PRAOPERATIF
Dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien dikirim ke meja operasi.

Lingkup aktifitas keperawatan: penetapan pengkajian dasar pasien di tatanan klinik atau di rumah, menjalani wawancara praoperatif, dan menyiapkan pasien untuk anestesi pada pembedahan.

FASE INTRA OPERATIF
Dimulai ketika pasien masuk ke bagian atau departemen bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan.

Lingkup aktifitas keperawatan: memasang infus, memberikan medikasi intravena, melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien.

FASE PASCAOPERATIF
Dimulai pada saat pasien masuk ke ruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah.

Lingkup aktifitas keperawatan:
Mengkaji efek agen anestesi, membantu fungsi vital tubuh, serta mencegah komplikasi.
Peningkatan penyembuhan pasien dan penyuluhan, perawatan tindak lanjut, rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan.


PERTIMBANGAN GERONTOLOGI
Persyaratan khusus untuk mencapai hasil optimal setelah pembedahan pada lansia meliputi:
Pengkajian dan pengobatan praoperatif yang terampil.
Anestesia dan pembedahan yang cermat.
Penatalaksanaan pascaoperatif yang sangat cermat dan kompeten.
INDIKASI & KLASIFIKASI PEMBEDAHAN
1. INDIKASI: Diagnostik, Kuratif, Reparatif, Rekonstruktif/ kosmetik, dan Paliatif.

2. KLASIFIKASI: Kedaruratan, Urgen, Diperlukan, Elektif, dan Pilihan.


DIAGNOSTIK: biopsi, laparatomi eksplorasi,…
KURATIF: Eksisi tumor, apendiktomi,…
REPARATIF: memperbaiki luka multipleks/ debridement,…
REKONSTRUKTIF/ KOSMETIK: mammoplasti,…
PALIATIF: Untuk menghilangkan nyeri atau memperbaiki masalah (pemasangan selang gastrostomi)



KEDARURATAN: Pasien membutuhkan perhatian segera; ganguan mungkin mengancam jiwa.

Indikasi untuk pembedahan: Tanpa ditunda.

Contoh: Perdarahan hebat, obstruksi kandung kemih atau usus, fraktur tulang tengkorak, luka tembak atau luka tusuk, luka bakar sangat luas.

URGEN: Pasien membutuhkan perhatian segera.
Indikasi u/ pembedahan: Dalam 24-30 jam.
Contoh: Batu ginjal atau batu pada ureter.

DIPERLUKAN: Pasien harus menjalani pembedahan
Indikasi u/ pembedahan: Direncakan dalam beberapa minggu/ bulan.
Contoh: Hiperplasia prostat tanpa obstruksi kandung kemih, gangguan tiroid, katarak.

ELEKTIF: Pasien harus dioperasi ketika diperlukan.
Indikasi u/ pembedahan: Tidak dilakukan pembedahan jika tidak terlalu membahayakan.
Contoh: Perbaikan eskar, Perbaikan vaginal, Hernia sederhana.

PILIHAN: Keputusan terletak pada pasien.
Indikasi u/ pembedahan: Pilihan pribadi.
Contoh: Bedah kosmetik.
TINJAUAN PROSES KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
Pengkajian pasien pasien bedah meliputi evaluasi faktor-faktor fisik dan psikologis secara luas.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ansietas b/d pengalaman bedah (anastesi, nyeri) dan hasil akhir dari pembedahan.
Defisit pengetahuan mengenai prosedur dan protokol praoperatif dan harapan pascaoperatif.

INTERVENSI KEPERAWATAN
Menurunkan ansietas praoperatif
Penyuluhan pasien

EVALUASI
Hasil-hasil yang diharapkan:
1. Ansietas berkurang:
Mendiskusikan kekhawatiran yang berkaitan dengan tipe anastesi.
Mengungkapkan suatu pengalaman tentang medikasi praanastesi.
Mendiskusikan kekhawatiran saat-saat terakhir dengan perawat/ dokter.
Mendiskusikan masalah finansial dengan pekerja sosial bila diperlukan.
Meminta kunjungan pendeta bila diperlukan.
Benar-benar rileks setelah dikunjungi oleh anggota tim kesehatan.

2. Siap terhadap intervensi pembedahan:
Ikut serta dalam persiapan praoperatif.
Menunjukkan dan menggambarkan latihan yang diperkirakan akan dilakukan pasien setelah operasi.
Menelaah informasi tentang perawatan.
Menerima medikasi praanastesi.
Tetap berada di tempat tidur.
Relaks selama trasformasi ke unit operasi.
Menyebutkan rasional penggunaan pagar tempat tidur.

PENGKAJIAN FISIK UMUM PASIEN PRAOPERATIF

Status Nutrisi dan Penggunaan Bahan Kimia: obesitas, penggunaan obat dan alkohol.
Status Pernapasan.
Status Kardiovaskuler.
Fungsi Hepatik dan Ginjal.
Fungsi Endokrin.
Fungsi Imunologi
Terapi Medikasi Sebelumnya: kortikosteroid adrenal, diuretik, fenotiasin, dll.
INFORMED CONSENT
Persetujuan tindakan medik diperlukan ketika:
Prosedur tindakan adalah invasif.
Menggunakan anestesi.
Prosedur non-bedah yang dilakukan dimana risikonya pada pasien lebih dari sekedar risiko ringan, spt: arteriogram.
Prosedur yang dilakukan mencakup terapi radiasi.
PENDIDIKAN PASIEN PRAOPERATIF
Latihan napas dalam, batuk, dan relaksasi.
Perubahan posisi dan gerakan tubuh aktif.
Kontrol dan medikasi nyeri.
Kontrol kognitif: imajinasi, distraksi, pikiran optimis diri.
INTERVENSI KEPERAWATAN PRAOPERATIF
Nutrisi dan cairan.
Persiapan intestinal.
Persiapan kulit praoperatif.
Medikasi praanestesi: barbiturat/tranquilizer (pentobarbital,benzodiasepine), opioid, antikolinergik,dll.
Catatan praoperatif.
Transportasi ke ruangan prabedah (30-60 menit sebelum anestesi).
Membantu keluarga melewati pengalaman bedah pasien.


CONTOH AKTIFITAS PERAWAT DALAM PERAN PERIOPERATIF
FASE PRAOPERATIF
Pengkajian praoperatif di klinik/ per telp:
Melakukan pengkajian perioperatif awal.
Merencanakan metode penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
Melibatkan keluarga dalam wawancara
Memastikan kelengkapan pemeriksaan praoperatif
Mengkaji kebutuhan pasien terhadap transportasi dan perawatan pascaoperatif

Unit bedah:
Melengkapi pengkajian praoperatif.
Mengkoordinasi penyuluhan pasien dengan staf keperawatan lain.
Menjelaskan fese-fase dalam periode perioperatif dan hal-hal yang diperkirakan terjadi.
Membuat rencana asuhan keperawatan

Ruang operatif:
Mengkaji tingkat kesadaran pasien.
Menelaah lembar observasi pasien.
Mengidentifikasi pasien.
Memastikan daerah pembedahan

PERENCANAAN:
Menentukan rencana asuhan keperawatan.
Mengkoordinasi pelayanan dan sumber-sumber yang sesuai.

Dukungan psikologis:
Menceritakan pada pasien apa yang sedang terjadi.
Menentuka status psikologis.
Memberikan peringatan akan stimuli nyeri.
Mengkomunikasikan status emosional pasien pada anggota tim kesehatan lain yang berkaitan.
FASE INTRAOPERATIF
Pemeliharaan Keselamatan:
1. Atur posisi pasien
Kesejajaran fungsional
Pemajanan areapembedahan
Mempertahankan posisi sepanjang prosedur pembedahan
2. Memasang alat grounding ke pasien.
3. Memberikan dukungan fisik.
4. Memastikan bahwa jumlah instrumen tepat.
Pemantauan fisiologis
Memperhitungkan efek dari hilangnya atau masuknya cairan.
Membedakan data kardiopulmonal yang normal dengan yang abnormal.
Melaporkan perubahan-perubahan pada pemeriksaan vital sign.


Dukungan Psikologis (sebelum induksi dan jika pasien sadar)
Memberikan dukungan emosional pada pasien.
Berdiri dekat dan menyentuh pasien selama prosedur dan induksi.
Terus mengkaji status emosional pasien.
Mengkomunikasikan status emosional pasien ke anggota tim perawatan kesehatan lain yang sesuai.

Penatalakasanaan Keperawatan (fase intraoperatif)
Memberikan keselamatan untuk pasien.
Mempertahankan lingkungan aseptik dan terkontrol.
Secara efektif mengelola sumber daya manusia.
FASE PASCAOPERATIF
KOMUNIKASI DARI INFORMASI INTRAOPERATIF:
Menyebutkan nama pasien.
Menyebutkan jenis pembedahan yang dilakukan.
Menggambarkan faktor-faktor intraoperatif (pemasangan drain atau kateter, kekambuhan peristiwa-peristiwa yang tidak diperkirakan).
Menggambarkan keterbatasan fisik.
Melaporkan tingkat kesadaran praoperatif pasien.
Mengkomunikasikan alat-alat yang diperlukan.

PENGKAJIAN PASCAOPERATIF DI RUANG PEMULIHAN: Menentukan respons langsung pasien terhadap intervensi pembedahan.

UNIT BEDAH:
Mengevaluasi efektifitas dari asuhan keperawatan di ruangan operasi.
Menentukan tingkat kepuasan pasien dengan asuhan yang diberikan selama periode perioperatif.
Mengevaluasi produk-produk yang digunakan pada pasien di ruang operasi.
Menentukan status psikologis pasien.
Membantu dalam perencanaan pemulangan.

DI RUMAH/ KLINIK:
Gali persepsi pasien tentang pembedahan dalam kaitannya dengan agen anestesi, dampak pada citra tubuh, penyimpangan, imobilisasi.
Tentukan persepsi keluarga tentang pembedahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar