Sabtu, 15 Oktober 2011

askeb perdarahan di luar haid_ tgs asbid patologi

Perdarahan diluar haid adalah perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2 haid. Ada dua macam perdarahan di luar haid yaitu metroragia dan menometroragia
Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan siklus haid. Perdarahan ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus sebagai suatu spotting dan dapat lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh.
Menoragia adalah Perdarahan siklik yang berlangsung lebih dari 7 hari dengan jumlah darah kadang-kadang cukup banyak. Penyebab dan pengobatan kasus ini sama dengan hipermenorea.
Beberapa Penyebab Dari perdarahan diluar haid yaitu :
• Polip serviks
• Erosi portio
• Ulkus portio
• Trauma
• Polip endometrium
Penyebab fungsional
Perdarahan dari uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab organik, dinamakan perdarahan disfungsional. Perdarahan diluar haid dapat terjadi pada setiap umur antara menarche dan menopause. Tetapi kelainan ini lebih sering dijumpai sewaktu masa permulaan dan masa akhir fungsi ovarium. Dua pertiga wanita dari wanita-wanita yang dirawat di rumah sakit untuk perdarahan diluar haid berumur diatas 40 tahun, dan 3 % dibawah 20 tahun. Sebetulnya dalam praktek dijumpai pula perdarahan disfungsional dalam masa pubertas, akan tetapi karena keadaan ini biasanya dapat sembuh sendiri, jarang diperlukan perawatan di rumah sakit.
BAB II
PEMBAHASAN
ASUHAN KEBIDANAN PADA PERDARAHAN DI LUAR HAID
I. PENGERTIAN
Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan siklus haid. Perdarahan ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus sebagai suatu spotting dan dapat lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh. Penyebabnya adalah kelainan organik (polip endometrium, karsinoma endometrium, karsinoma serviks, kelainan fungsional dan penggunaan estrogen )
II. BEBERAPA PENYEBAB PERDARAHAN DILUAR HAID
1. POLIP SERVIKS

a) Pengertian

Polip adalah tumor bertangkai yang kecil dan tumbuh dari permukaan mukosa (Denise tiran : 2005 ).
Servikal polip adalah polip yang terdapat dalam kanalis servikalis (Denise tiran:2005 )

b) Gejala umum bentuk abnormal tersebut, yaitu :


 Tanpa gejala

Polip serviks bias saja dialami seseorang tanpa ia tau kalau sebenarnya ia memiliki polip serviks,
 Leukorea yang sulit disembuhkan
Jika sudah digunakan berbagai macam obat, dan personal hygine telah dijaga tetapi leokorea belum juga sembuh
 Terasa discomfort dalam vagina
Yaitu perasaan tidak nyaman dalam vagina, baik setelah buang air maupun dalam kondisi biasa.
 Kontak berdarah
Misalnya , vagina selalu mengeluarkan darah setelah melakukan hubungan seks. Perlu dijurigai adanya polip serviks.
 Terdapat infeksi
c) Dasar diagnosis
 Berdasarkan keluhan yang dikemukakan.
 Diagnosis karena kebetulan memeriksakan.
 Pada pemeriksaan inspekulum dijumpai :
• Jaringan bertambah
• Mudah berdarah
• Terdapat pada vagina bagian atas.
d) Penatalaksanaannya
Polip hanya dipelintir sampai putus, kemudian tangkainya di kuret. Tindakan dilakukan dalam pembiusan umum (general anasthesia). Selanjutnya jaringan polip dikirim ke laboratorium patologi guna memastikan bahwa histologis-nya jinak/sesuai dengan gambaran jaringan polip serviks. Kemungkinan ganasnya kecil.
2. EROSI PORSIO
a) Pengertian Erosi Porsio
Erosio porsiones (EP) adalah suatu proses peradangan atau suatu luka yang terjadi pada daerah porsio serviks uteri (mulut rahim). Penyebabnya bisa karena infeksi dengan kuman-kuman atau virus, bisa juga karena rangsangan zat kimia /alat tertentu; umumnya disebabkan oleh infeksi.
Erosi porsio atau disebut juga dengan erosi serviks adalah hilangnya sebagian / seluruh permukaan epitel squamous dari serviks. Jaringan yang normal pada permukaan dan atau mulut serviks digantikan oleh jaringan yang mengalami inflamasi dari kanalis serviks. Jaringan endoserviks ini berwarna merah dan granuler, sehingga serviks akan tampak merah, erosi dan terinfeksi. Erosi serviks dapat menjadi tanda awal dari kanker serviks.
Erosi serviks dapat dibagi menjadi 3:
1) Erosi ringan : meliputi ≤ 1/3 total area serviks
2) Erosi sedang : meliputi 1/3-2/3 total area serviks
3) Erosi berat : meliputi ≥ 2/3 total area serviks.

b) Penyebab erosi serviks :

1. Level estrogen : erosi serviks merupakan respons terhadap sirkulasi estrogen dalam tubuh.
a) Dalam kehamilan : erosi serviks sangat umum ditemukan dalam kehamilan karena level estrogen yang tinggi. Erosi serviks dapat menyebabkan perdarahan minimal selama kehamilan, biasanya saat berhubungan seksual ketika penis menyentuh serviks. Erosi akan menghilang spontan 3-6 bulan setelah melahirkan.
b) Pada wanita yang mengkonsumsi pil KB : erosi serviks lebih umum terjadi pada wanita yang mengkonsumsi pil KB dengan level estrogen yang tinggi.
c) Pada bayi baru lahir : erosi serviks ditemukan pada 1/3 dari bayi wanita dan akan menghilang pada masa anak-anak oleh karena respon maternal saat bayi berada di dalam rahim
d) Wanita yang menjalani Hormon Replacement Therapy (HRT): karena penggunaan estrogen pengganti dalam tubuh berupa pil, krim , dll.

2. Infeksi: teori bahwa infeksi menjadi penyebab erosi serviks mulai menghilang. Bukti-bukti menunjukkan bahwa infeksi tidak menyebabkan erosi, tapi kondisi erosi akan lebih mudah terserang bakteri dan jamur sehingga mudah terserang infeksi.

3. Penyebab lain : infeksi kronis di vagina, douche dan kontrasepsi kimia dapat mengubah level keasaman vagina dan sebabkan erosi serviks. Erosi serviks juga dapat disebabkan karena trauma (hubungan seksual, penggunaan tampon, benda asing di vagina, atau terkena speculum)
c) Gejala erosi serviks:
(1) Mayoritas tanpa gejala
(2) Perdarahan vagina abnormal (yang tidak berhubungan dengan siklus menstruasi) yang terjadi :
 Setelah berhubungan seksual (poscoital)
 Diantara siklus menstruasi
 Disertai keluarnya cairan mucus yang jernih / kekuningan, dapat berbau jika disertai infeksi vagina
(3) Erosi serviks disebabkan oleh inflamasi, sehingga sekresi serviks meningkat secara signifikan, berbentuk mucus, mengandung banyak sel darah putih, sehingga ketika sperma melewati serviks akan mengurangi vitalitas sperma dan menyulitkan perjalanan sperma. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya infertilitas pada wanita.
d) Penanganan erosi porsio/erosi serviks
1) Memberikan albotyl di sekitar Erosio pada portio.
2) Melakukan penatalaksanaan pemberian obat.
 Lyncopar 3 x 1 untuk infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri /streptokokus pneomokokus stafilokokus dan infeksi kulit dan jaringan lunak.
 Ferofort 1 x 1 berfungsi untuk mengobati keputihan
 Mefinal 3 x 1 berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit
Gambar 1 : Serviks Normal

Gambar 2 : Serviks yang terkena Erosi



3. ULKUS PORSIO

a) Pengertian
Ulkus portio adalah suatu pendarahan dan luka pada portio berwarna merah dengan batas tidak jelas pada ostium uteri eksternum .
b) Etiologi
Penggunaan IUD, pemakaian pil, perilaku seksual yang tidak sehat, trauma.
c) Patofisiologi
Proses terjadinya ulkus portio dapat disebabkan adanya rangsangan dari luar misalnya IUD.IUD yang mengandung polyethilien yang sudah berkarat membentuk ion Ca, kemudian bereaksi dengan ion sel sehat PO4 sehingga terjadi denaturasi / koalugasi membaran sel dan terjadilah erosi portio. Bisa juga dari gesekan benang IUD yang menyebabkan iritasi lokal sehingga menyebabkan sel superfisialis terkelupas dan terjadilah ulkus portio dan akhir nya menjadi ulkus. Dari posisi IUD yang tidak tepat menyebabkan reaksi radang non spesifik sehingga menimbulkan sekresi sekret vagina yang meningkat dan menyebabkan kerentanan sel superfisialis dan terjadilah erosi portio.Dari semua kejadian ulkus portio itu menyebabkan tumbuhnya bakteri patogen, bila sampai kronis menyebabkan metastase keganasan leher rahim.
d) Gejala
a. Adanya fluxus
b. Portio terlihat kemerahan dengan batas tidak jelas
c. Adanya kontak berdarah
d. Portio teraba tidak rata
e) Penanggulangan
1) Membatasi hubungan suami istri
Adanya ulkus porsio membuat porsio mudah sekali berdarah setiap kali mengalami gesekan sekecil apapun, sehingga sebaiknya koitus dihindari sampai ulkus sembuh.
2) Menjaga kebersihan vagina
Bila kebesihan vagina tidak dijaga, maka akan dapat memperburuk kondisi porsio, sebab akan semakin rentan terkena infeksi lainnya.
3) Lama pemakaian IUD harus diperhatikan.

4. TRAUMA

a) Pengertian
Trauma adalah dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian medis.
Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya diskontinuitas dari jaringan.
Sedangkan dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang alat atau benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Artinya orang yang sehat, tiba-tiba terganggu kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan kecederaan.
b) Penyebab
Trauma yang menyebabkan perdarahan di luar haid contohnya yang sering terjadi pada akseptor IUD dan usai berhubungan intim (utamanya pada wanita yang telah menopause )
Tempat perlukaan yang paling sering akibat koitus adalah dinding lateral Vagina, vorniks posterior dan kubah Vagina (setelah histerektomi).
c) Gejala
Nyeri vulva dan vagina, perdarahan dan pembengkakkan merupakan gejala-gejala yang paling khas. Kemungkinan gejala lainnya adalah kesulitan dalam urinasi dan ambulasi
d) Penanganannya
Penanganannya sesuai dengan penyebabnya , misalnya trauma yang disebabkan translokasi IUD, maka IUD nya harus dicabut, dan diganti dengan alat kontrasepsi lain.Sedangkan buat para wanita yang menopause yang mengalami perdarahan setelah koitus, bisa diberi terapi hormon.
5. POLIP ENDOMETRIUM
a) Pengertian
Polip endometrium juga disebut polip rahim. Ia adalah pertumbuhan kecil yang tumbuh sangat lambat dalam dinding rahim. Mereka memiliki basis datar besar dan mereka melekat pada rahim melalui gagang bunga memanjang. Bentuknya dapat bulat atau oval dan biasanya berwarna merah. Seorang wanita dapat memiliki polip endometrium satu atau banyak, dan kadang-kadang menonjol melalui vagina menyebabkan kram dan ketidaknyamanan. Polip endometrium dapat menyebabkan kram karena mereka melanggar pembukaan leher rahim. Polip ini dapat terjangkit jika mereka bengkok dan kehilangan semua pasokan darah mereka. Ada kejadian langka saat ini polip menjadi kanker. Wanita yang telah mengalaminya terkadang sulit untuk hamil.
b) Gejala
Tidak ada penyebab pasti dari polip endometrium, tetapi pertumbuhan mereka dapat dipengaruhi oleh kadar hormon, terutama estrogen. Seringkali tidak ada gejala, tetapi beberapa gejala dapat diidentifikasi terkait dengan pembentukannya.
* Sebuah kesenjangan antara perdarahan haid
* Tidak teratur atau perdarahan menstruasi yang berkepanjangan
* Perdarahan haid yang terlalu berat
* Rasa sakit atau dismenore (nyeri dengan menstruasi)
c) Diagnosa dan Pengobatan
Polip endometrium dapat dideteksi melalui pelebaran dan kuretase (D & C), CT scan, ultrasound atau histeroskopi. Histeroskopi adalah prosedur dimana lingkup kecil dimasukkan melalui leher rahim ke dalam rongga rahim untuk mencari polip atau kelainan rahim lainnya.
Polip endometrium dapat dihapus dan diobati melalui operasi dengan menggunakan kuretase atau histerektomi. Jika kuretase dilakukan, polip dapat terjawab tapi untuk mengurangi risiko ini, rahim biasanya dieksplorasi oleh histeroskopi pada awal proses bedah. Sebuah polip besar dapat dipotong menjadi bagian-bagian sebelum sepenuhnya disingkirkan. Jika ditemukan polip menjadi kanker, histerektomi harus dilakukan. Ada probabilitas tinggi kekambuhan polip bahkan dengan perawatan di atas.
d) Komplikasi dan Faktor Risiko
Polip endometrium biasanya sel jinak. Mereka dapat menjadi prakanker atau kanker. Sekitar 0,5 persen dari polip endometrium mengandung sel-sel adenokarsinoma. Sel-sel ini akhirnya akan berkembang menjadi kanker. Polip dapat meningkatkan risiko keguguran pada wanita yang menjalani fertilisasi in vitro dalam perawatan. Jika mereka berkembang dekat saluran telur, mereka dapat menjadi penyebab kesulitan dalam menjadi hamil.
Polip rahim biasanya terjadi pada wanita di usia 40-an dan 50-an. Wanita yang memiliki faktor risiko tinggi adalah mereka yang mengalami obesitas, memiliki tekanan darah tinggi. dan memiliki sejarah polip serviks dalam keluarga mereka.
Terapi penggantian hormon dapat meningkatkan faktor risiko terjadinya polip endometrium. Wanita yang menggunakan hormonal Intra Uterine Device yang tingkat tinggi levonorgestrel dapat mengurangi kejadian polip. Satu dari setiap sepuluh perempuan dapat memiliki polip endometrium, dan diperkirakan bahwa sekitar 25 persen dari mereka yang mengalami pendarahan vagina abnormal memiliki polip endometrium.
IV. MERAWAT PERDARAHAN VAGINA YANG TIDAK BERATURAN
Perawatan untuk perdarahan vagina yang tidak teratur tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Setelah penyebabnya ditentukan, dokter memutuskan apakah perawatan sebenarnya perlu. Adakalanya, semua yang diperlukan adalah mengesampingkan penyebab-penyebab yang membahayakan dan untuk menentukan bahwa perdarahan vagina yang tidak teratur tidak cukup mengganggu wanitanya untuk diberikan obat atau perawatan. Jika persoalan-persoalan tiroid, hati, ginjal, atau pembekuan darah ditemukan, perawatan diarahkan menuju kondisi-kondisi ini.
Obat-obat untuk perawatan dari perdarahan vagina yang tidak teratur tergantung pada penyebabnya. Contoh-contoh digambarkan dibawah:
• Jika penyebab dari perdarahan adalah ketiadaan dari ovulasi (anovulation), dokter-dokter mungkin meresepkan progesterone untuk diminum pada interval-interval yang teratur, atau obat pencegahan kehamilan oral, yang mengandung progesterone, untuk mencapai keseimbangan hormon yang tepat. Perawatan sejenis ini secara dramatis mengurangi risiko kanker kandungan pada wanita-wanita yang tidak berovulasi.
• Jika penyebab dari perdarahan vagina yang tidak teratur adalah perubahan prakanker pada lapisan kandungan, obat-obat progesterone mungkin diresepkan untuk mengurangi pembentukan dari jaringan-jaringan lapisan kandungan yang prakanker dalam usaha untuk menghindari operasi.
• Jika seorang wanita telah berada tanpa mens-mens untuk kurang dari enam bulan dan berdarah secara tidak teratur, penyebabnya mungkin adalah transisi menopause. Selama transisi ini, seorang wanita adakalanya ditawarkan obat pencegah kehamilan oral untuk menegakan pola perdarahan yang lebih teratur, untuk menyediakan kontrasepsi sampai ia menyelesaikan menopause, dan untuk membebaskan rasa panas (hot flashes). Seorang wanita yang ditemukan menopause sebagai penyebab dari perdarahan yang tidak teraturnya mungkin juga menerima nasehat menopause jika ia mempunyai gejala-gejala yang menyusahkan.
• Jika penyebab dari perdarahan vagina yang tidak teratur adalah polip-polip atau pertumbuhan-pertumbuhan jinak lainnya, ini adakalanya dikeluarkan secara operasi untuk mengontrol perdarahan karena mereka tidak dapat dirawat dengan obat.
• Jika penyebab dari perdarahan adalah infeksi, antibiotik-antibiotik adalah perlu. Perdarahan selama kehamilan memerlukan evaluasi darurat oleh seorang dokter kandungan (obstetrician). Endometriosis dapat dirawat dengan obat-obat dan/atau operasi (seperti laparoscopy).
• Adakalanya, penyebab dari perdarahan yang berlebihan tidak nyata setelah penyelesaian pengujian (dysfunctional uterine bleeding). Pada kasus-kasus ini, obat-obat pencegah kehamilan oral dapat memperbaiki kontrol siklus dan mengurangi perdarahan.
• Jika perdarahan berlebihan dan tidak dapat dikontrol dengan obat, prosedur operasi yang disebut dilation and curettage (D&C) mungkin adalah perlu. Sebagai tambahan pada pengurangan perdarahan yang berlebihan, D&C menyediakan informasi tambahan yang dapat mengesampingkan kelainan-kelainan dari lapisan kandungan.
• Adakalanya, hysterectomy adalah perlu ketika obat-obat hormon tidak dapat mengontrol perdarahan yang berlebihan. Bagaimanapun, kecuali penyebabnya adalah prakanker atau kanker, operasi ini harus adalah hanya opsi (pilihan) setelah solusi-solusi lain telah dicoba.
Banyak prosedur-prosedur baru sedang dikembangkan untuk merawat tipe-tipe tertentu dari perdarahan vagina yang tidak teratur. Contohnya, studi-studi sedang dalam perjalanan untuk mengevaluasi teknik-teknik yang secara selektif menghalangi pembuluh-pembuluh darah yang terlibat pada perdarahan. Metode-metode yang lebih baru ini mungkin adalah pilihan-pilihan yang kurang rumit untuk beberapa pasien-pasien dan ketika mereka dievaluasi lebih jauh mereka akan mungkin menjadi lebih secara luas tersedia.





BAB III

STUDI KASUS
ASUHAN KEBIDANAN NY “ S ”AKSEPTOR AKDR DENGAN EROSI PORTIO DI RS TINGKAT II PELAMONIA MAKASSAR
TANGGAL 19 S/D 21 MEI 2010


No Rekam Medis : 15 67 57

No Seri Kartu : 01441
Tanggal Kunjungan : 19 Mei 2010
Tanggal Pengkajian : 19 Mei 2010, Jam : 10. 30 Wita

A. LANGKAH I IDENTIFIKASI DATA DASAR

1. Identitas Istri / Suami
Nama : NY “S” / TN “A”
Umur : 29 Th n / 30 Thn
Suku : Makassar / Makassar
Agama : Islam / Islam
Pendidikan : SMA / SMA
Pekerjaan : IRT / PNS
Alamat : Jln.Sudirman

2. Data Biologis / Fisiologis

a. Keluhan utama : Banyak keputihan dan kadang disertai nyeri dan bercak darah
b. Riwayat keluhan :
1) Keluhan timbul dirasakan sejak 3 hari yang lalu
(16 Mei 2010)
2) Sebelumnya ibu tidak pernuh mengalami hal tersebut
3) Ibu nampak cemas dan selalu bertanya tentang keadaannya
4) Hubungan seksual terakhir dilakukuan 16 Mei 2010
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit Yang Lalu dan Sekarang
a. Tidak ada riwayat penyakit jantung, hipertensi, DM, dan penyakit menular
b. Tidak ada riwayat operasi
c. Tidak ada riwayat alergiterhadap makanan maupun obat-obatan.
4. Riwayat Reproduksi
a. Riwayat Haid
1. Manarche : 14 tahun
2. Siklus : 28 – 30 hari
3. Lamanya : 5 – 6 hari
4. Tanpa dismenorhoe
b. Riwayat Obstetri
1. PII AO
2. Riwayat kehamilan dan Nifas yang lalu
a) Anak pertama pada tahun 1992 dengan persalinann spontan PBK, jenis kelamin laki-laki BB : 3200 gram, PB : 50 cm ditolong oleh bidan.
b) Anak kedua pada tahun 1998 dengan persalinan spontan PBK, jenis kelamin perempuan BB 3000 gram, PB : 50 cm ditolong oleh bidan.
5. Riwayat KB
a. Ibu pernah menjadi akseptor KB Suntik selama 4 bulan, berhenti karena sakit kepala.
b. Ibu mulai memakai AKDR pada tgl 21-5-2009. Tidak dalam keadaan haid.
c. Ibu terakhir haid pada tanggal 26-4-2009
d. Ibu mengatakan cemas dengan keadaannya
e. Ibu mengatakan tidak pernah mengalami gangguan keputihan yang banyak dan bercampur darah selama memakai AKDR.


6. Riwayat Ginekologi

a. Ibu tidak pernah mengalami penyakit infeksi pada sistem reproduksi
b. Ibu tidak ada riwayat PMS tidak ada gangguan haid.

7. Riwayat Pemenuhan Kebutuhan Dasar

a. Nutrisi
1. Makan 3x sehari, nasi, sayur, lauk pauk serta buah
2. Minum 6 gelas sehari
3. Nafsu makan baik
b. Eliminasi
1. BAB I kali sehari
2. BAK 5 – 6 kali sehari
c. Personal hygiene
1. Mandi 2x sehari
2. Sikat gigi setiap mandi dan sehabis makan
3. Cuci rambut 3x seminggu
4. Ganti pakaian setiap hari
d. Istirahat / Tidur
1. Tidur siang ± 1 jam
2. Tidur malam ± 7 – 8 jam
8. Riwayat Psiokologis
Ibu cemas dengan keadaannya.

9. Pemeriksaan fisik

a. Keadaan umum dan tanda-tanda vital
1. Kesadaran : Compesmentis




2. TTV :

TD : 110 / 80 mmHg
N : 80x / menit
P : 20x / menit.
S : 36,4 0C
3. BB Sekarang : 53 kg
4. Inspeksi, palpasi
a. wajah
• Wajah tidak ada oedama dan tidak ada cloasma
• Wajah tidak pucat
• Ekspresi ibu tampa cemas.
b. Mata
• Konjungtiva merah muda
• Sklera berwarna putih
c. Hidung
• Hidung tidak ada kelainan
• Tidak ada sekret
d. Mulut
• Tidak ada gigi karies
• Tidak ada gigi cabut
e. Telinga
• Simetris kiri dan kanan
f. Leher
• Tidak ada pembesaran kelenjan tyroid
• Tidak ada pembesaran vena jugularis
• Tidak ada pembesaran kelenjar limfe
g. Payudara
• Semetris kiri dan kanan
• Tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa atau benjolan
h. Abdomen
• Nampak striae albacan
• Tidak ada nyeri tekan
• Tidak teraba adanya massa
i. Vulva, perineum, dan vagina serta portio
• Tidak nampak oedama pada vulva
• Tidak nampak varices pada vulva
• Tidak nampak jaringan parit pada perineum
j. Pemeriksaan inspekulo
• Nampak pengeluaran sekret bercampur dengan nanah
• Nampak portio kemerahan
• Tidak ada benjolan pada portio
• Nampak benang AKDR yang memiliki jangkah waktu 8 -10 tahun, benang tidak berwarna.


B. LANGKAH II IDENTIFIKASI DIAGNOSA

1. Diagnosa : Akseptor AKDR Dengan Masalah Erosi Portio dan disertai dengan kecemasan
a. Akseptor AKDR
Data Subjektif :
1. DS : - Ibu mengatakan ingin mengontrol AKDR
- Ibu mengatakan menggunakan AKDR Cupper T 380 A
2. DO : - Nampak di status rekam medis dan kartu K4 Ibu akseptor AKDR Cupper T 380 A
- Di kartu K4 itu mulai memakai AKDR sejak tgl 21-5-2009
- Inspeksi pada portio nampak benang AKDR
Analisa dan interpretasi
1. AKDR merupakan benda asing dalam rahim sehingga menimbulkan reaksi oleh tubuh dengan timbunan – timbunan leukosit, makrofag, dan lipatan limphosi serta menimbulkan pengeluaran cairan oleh prostaglandin sehingga lendir serviks menjadi kental yang menghalangi kapasitas spermatazoa. (Manuaba, I. B. G, : 1999.
Hal 455)
2. Salah satu jenis AKDR / IUD adalah Cupper T 380 A, jenis IUD ini dapat menghambat kemampuan sperma ke tuba fallopi, mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri dan terutama AKDR ini berkerja mencegah sperma dan ovum bertemu sehingga tidak terjadi implantasi telur dalam uterus (Hartanto, : 2004 Hal. 207).
3. Dari data di atas ibu mengatakan ingin kontrol AKDR serta nampak di status rekam medis dan di kartu K4 ibu akseptor AKDR jenis Cupper T 380 A sejak tanggal 21-5-2009 serta inspeksi pada portio nampak benang AKDR.
Hal ini menunjukan ibu adalah akseptor AKDR
b. Erosi Portio

DS :

 Ibu mengatakan banyak pengeluaran keputihan kadang bercampur darah sedikit.

DO :

 Nampak pengeluaran sekret bercampur dengan nanah.
 Nampak portio kemerahan

Analisa dan Interpretasi

Erosi portio adalah adanya lesin disekitar ostium uteri eksternum suatu daerah berwarnah merah menyalah dan agar mudah berdarah. (Winkjosastro, : 2005 Hal 167).
Dari data di atas dimana ibu mengatakan keluar keputihan banyak dan bercampur darah sedikit dan inspeksi terjadi pengikisan pada portio sehingga pembuluh darah dampak jelas dengan merah menyala dan mudah berdarah dan adanya pengeluaran sekret bercampur nanah menunjukkan keadaan ibu tersebut terjadi Erosi Portio.
c. Kecemasan
Data subjektif
1. DS :
 Ibu mengatakan khawatir dan mencemaskan selalu keadaannya
 Ibu mengatakan tidak pernah mengalami gangguan ini selama memakai AKDR
2. DO :
 Ekspresi wajah ibu tampak cemas
 Ibu selalu bertanya tentang keadaannya
Analisa dan interpretasi
Ibu yang belum pernah mengalami gangguan ini akan menimbulkan kekhawatiran yang diekspresikan dengan perasaan cemas.

C. LANGKAH III IDENTIFIKASI DIAGNOSA / MASALAH POTENSIAL

Potensial terjadi : Antisipasi ibu droup out dan servicits
a. Droup out AKDR
Data subjektif
1) DS :
 Ibu mengatakan tidak pernah mengalami hal tersebut selama menjadi akseptor AKDR
 Ibu mengatakan khawatir dengan keadaannya
 Ibu pernah menjadi akseptor KB suntik
2) DO :
Ibu nampak cemas dan selalu bertanya tentang keadaannya.

Analisa dan interpretasi data

Sesuai dengan data diatas dimana ibu selalu bertanya-tanya tentang keadaannya dan ibu nampak cemas setelah ditunjang pendidikan ibu yang masih kurang tentang masalah yang dialami dan memungkinkan ibu droup out dari alat kontrasepsi yang digunakan.


b. Servicitis

Data subjektif
1) DS :
 Nampak pengeluaran sekret bercampur dengan nanah
2) DO :
 Nampak pengeluaran sekret bercampur dengan nanah
 Nampak portio kemerahan.
 Nampak benang AKDR yang memiliki jangkah waktu 8-10 tahun

Analisa dan interpretasi data

Cervicitis disebabkan karena erosi portio adalah keadaan ostium uteri eksternum terjadi pengisikan yang mudah berdarah.

D. LANGHAH IV TINDAKAN EMERGENCY / KOLABORASI

Kolaborasi dengan dokter dalam pelatalaksanaan pemberian albotil dan pemberi obat
1. Lyncopar 3x1 mg
2. Ferofort 1x1 mg
3. Mefinal 3x1 mg
E. LANGKAH V RENCANA TINDAKAN
1. Diagnosa : Akseptor AKDR
2. Masalah aktual : a. Erosi Portio
b. kecemasan
Masalah potensial :
a. Droup out dari alat kontrasepsi yang digunakan yaitu AKDR
b. Servicitis
Tujuan : a. Erosi porsio dengan kecemasan teratasi
Kriteria :
1. Klien tidak mengalami erosi portio.
2. Klien tidak mengalami cervicitis.
3. TTV dalam batas normal :
TD : 90/60 – 130/90 mmHg N : 60 – 100 x/menit
S : 36,5 – 37,5 °C P : 20 – 24 x/menit
4. Ekspresi wajah klien tampak tenang dan ceria
Rencana tindakan
1. Jelaskan kepada ibu tentang penyebab erosi portio
Rasional : dengan penjelasan tentang erosi portio ibu akan bersikap kooperatif dan mau menerima anjuran petugas dan dokter
2. Jelaskan pada ibu tentang :
a) Personal hygiene yaitu utamanya pada daerah kewanitaan.
Rasional : memberi rasa nyaman dan mencegah terjadi infeksi lebih lanjut
b) Gizi yang cukup
Rasional : dengan memakan makanan yang cukup gizi membantuh memulihkan stamina dan mengganti sel-sel tubuh yang rusak
c) Istirahat dan tidur yang cukup
Rasional : istirahat dan tidur yang cukup membuat memulihkan stamina
3. Beri dukungan moral
Rasional : agar ibu merasa tenang serta kecemasan itu merasa berkurang
4. Beri albothyl pada daerah porsio pada portio
Rasional : dengan pemberian albothyl akan mempercepat penyembuhan dengan harapan Nekrose epitel silinderis diganti dengan epitel gepeng berlapis banyak
5. Penatalaksanaan pemberian obat
Rasional : dengan pemberuian obat pada klien agar masalah dapat teratasi dan menjadi sembuh.
6. Anjurkan ibu datang kembali untuk kontrol AKDR kapan saja atau setiap ada keluhah
Rasional : agar ibu dapat teratasi masalahnya serta meradsa puas dengan pelayanan yang diberikan.

F. LANGKAH VI IMPLEMENTASI

Tanggal 19 Mei 2010
1. Jam 10.30 wita, Menjelaskan kepada ibu adanya infeksi pada portio
2. Jam 10.35 wita, Memberi penyuluhan tentang
a. Personal hygiene yaitu utamanya pakaian dalam menggantinya setiap kali kotor atau basah
Hasil : ibu bersedia melakukannya
b. Gizi yang cukup yaitu yang memenuhi kebutuhan dengan cukup karbohidrat, protein dan vitamin
Hasil : ibu bersedia melakukannya
c. Istrihat dan tidur yang cukup
Hasil : ibu mengerti
3. Jam 10.40 wita, Menberi dukungan moral dengan memberi support dengan menyerahkan diri pada Allah SWT.
Hasil : ibu mengerti
4. Jam 10.45 wita, Memberikan albotyl di sekitar Erosio pada portio
Hasil : telah diberikan
5. Jam 10.50 wita, Melakukan penatalaksanaan pemberian obat
Hasil : pemberian obat :
- Lyncopar 3 x 1 untuk infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri /streptokokus pneomokokus stafilokokus dan infeksi kulit dan jaringan lunak.
- Ferofort 1 x 1 berfungsi untuk mengobati keputihan
- Mefinal 3 x 1 berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit
6. Jam 10.55 wita, Menganjurkan ibu datang kembali untuk kontrol AKDR atau kapan saja setiap ada keluhan.
Hasil : ibu bersedia
G. LANGKAH VII EVALUASI
Tanggal, 19 Mei 2010, Jam 10.30 Wita
1. TTV dalam batas normal yang di tandai dengan TD : 110/80 mmHg, N:80x/menit, P:20x/menit, S:36,40C.
2. Sampai tanggal pengkajian klien tidak mengalami Cervicitis dan ibu tidak droup out dari alat kontrasepsi yang digunakan yaitu AKDR Copper T
3. Klien lebih tenang dan tampak ceria.
PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN NY “N” AKSEPTOR AKDR DENGAN MASALAH EROSI PORTIO
DI RS. TINGKAT II PELAMONIA MAKASSAR
TANGGAL 19 MEI 2010


No . Rekam Medis : 15 67 57

Tgl kunjungan : 19 Mei 2009
Tgl pengkajian : 19 Mei 2009 Jam 10.30 wita
Oleh : SITI HAJAR
1. Identifikasi istri / suami
Nama : NY “S” / TN “A”
Umur : 29 Th n / 30 Thn
Suku : Makassar / Makassar
Agama : Islam / Islam
Pendidikan : SMA / SMA
Pekerjaan : IRT / PNS
Alamat : Jln.Sudirman

2. Data subjektif ( S )

a. Ibu mengatakan sakit bagian atas syimphisis banyak keputihan dan kadang disertai darah sedikit
b. Keluhan ini dirasakan sejak 3 hari yang lalu (16 mei 2010)
c. Ibu bertanya-tanya tentang keadaannya.
d. Ibu khawatir dengan keadaannya
e. Hubungan seksual dilakukan terakhir pada tgl 17 Mei 2010
f. Ibu mengatakan ingin kontrol AKDR
3. Data Objektif ( O )
a. Keadaan umum dan tanda-tanda vital
• Kesadaran : Compesmentis
• TTV :
TD : 110 / 80 mmHg
N : 80x / menit
P : 20x / menit.
S : 36,4 0C
b. BB Sekarang : 53 kg
c. Ekspresi ibu tampak cemas
d. Wajah tidak pucat
e. konjungtiva merah muda, sklera putih
f. Tidak ada oedema pada vulva
g. Kondiloma tidak ada
h. Pemeriksaan inspekulo
• Nampak pengeluaran sekret bercampur nanah
• Nampak portio kemerah-merahan
• Nampak benang AKDR
4. Asesment ( A )
a. Diagnosa : Akseptor AKDR
b. Masalah aktual : a. Erosi Porsio
b. kecemasan
c. Masalah potensial : Doup out dengan penggunaan kontrasepsi AKDR dan servicitis
5. Planning ( P )
Tanggal 19 Mei 2010
a. Jam 10.30 WITA, Menjelaskan pada ibu penyebab erosi portio, bahwa disebabkan oleh keterpaparan suatu benda pada pemasangan AKDR, hubungan seksual, adanya infeksi dan personal hygiene yang kurang
b. Jam 10.35 wita, Memberi penyuluhan tentang
1. Personal hygiene yaitu utamanya pakaian dalam menggantinya setiap kali kotor atau basah.
Hasil : ibu bersediah melakukannya
2. Istirahat dan tidur yang cukup
Hasil : ibu mengerti
c. Jam 10.40 wita, Memberikan dukungan moral dengan memberi support dengan menyerahkan diri kepada Allah SWT
Hasil : ibu mengerti
d. Jam 10.45 wita, Memberi albotyl disekitar erosi pada portio
Hasil : sudah diberikan
e. Jam 10.50 wita, Melakukan penatalaksanaan pemberian obat
Hasil : diberikan obat :
- Lyncopar 3x1 mg
- Ferofort 1 x 1 mg
- Mefinal 3 x 1 mg
f. Jam 10.55 wita, Menganjurkan ibu untuk datang kembali untuk kontrol AKDR atau kapan saja setiap ada keluhan
Hasil : ibu bersedia


















PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN

NY “S” DENGAN MASALAH EROSI PORTIO
DI RS TK II PELAMONIA MAKASSAR
TANGGAL 20 MEI 2010
1. Data Subjektif (S)
a. Ibu mengatakan masih sakit bagian atas symphisis dan keputihan berkurang
b. Ibu bertanya-tanya tentang keadaannya
c. Wajah ibu nampak cemas dengan keadaannya
2. Data Objektif (O)
a. Keadaan umum dan tanda-tanda vital
b. TTV :
 TD : 110/80 mmHg.
 N : 80x/menit
 P : 20x/menit
 S : 36,40C
c. BB sekarang : 53 kg
d. Ekspresi ibu tampak ceria
e. Pemeriksaan inspekulo
1. Nampak pengeluaran sekret bercampur nanah
2. Nampak portio kemerah-merahan
3. Nampak benang AKDR
3. Assesment (A)
Akseptor AKDR dengan masalah Erosi Portio
4. Planning (P)
Tanggal 20 Mei 2010
a. Jam 10.30 wita, Menjelaskan pada ibu penyebab erosi portio, bahwa disebabkan oleh keterpaparan suatu benda pada pemasangan AKDR, hubungan seksual, adanya infeksi dan personal hygiene yang kurang
b. Jam 10.35 wita, Memberi penyuluhan tentang
1. Gizi yang cukup yaitu memenuhi kebutuhan dengan cukup karbohidrat, protein dan vitamin.
Hasil : ibu bersediah melakukannya
2. Istirahat dan tidur yang cukup
Hasil : ibu mengerti
3. Memberikan dukungan moral dengan memberi supportdengan menyerahkan diri kepada Allah SWT
Hasil : ibu mengerti
4. Memberi albotyl disekitar erosi pada portio
Hasil : sudah diberikan
5. Melakukan penatalaksanaan pemberian obat
Hasil : diberikan obat : - Lyncopar 3x1 mg
- Ferofort 1 x 1 mg
- Mefinal 3 x 1 mg


















PENDOKUMENTASIAN HASIL ASUHAN KEBIDANAN NY “S” AKSEPTOR AKDR DENGAN EROSI PORTIO

DI RS TK II PELAMONIA MAKASSAR
TANGGAL 21 MEI 2010

1. Data Subjektif (S)

a. Ibu mengatakan sakit dibagian atas symphisis sudah berkurang.
b. Ibu mengatakan ingin kontrol AKDR
2. Data Objektif (O)
Keadaan umum dan tanda-tanda vital
a. TTV :
 TD : 110/80 mmHg.
 N : 80x/menit
 P : 20x/menit
 S : 36,40C
b. BB sekarang : 53 kg
c. Ekspresi ibu tampak ceria
d. konjungtiva merah muda, sklrea putih
e. Pemeriksaan inspekulo
- Tidak nampak lagi sekret bercampur nanah
- Nampak portio merah mudah
- Nampak benang AKDR

3. Assesment (A)

Akseptor AKDR

4. Planning (P)

Tanggal 21 Mei 2010
a. Mengingatkan kembali ibu tentang :
1. Personal hygiene yaitu utamanya pakaian dalam menggantinya setiap kali kotor atau basah.
Hasil : ibu bersediah melakukannya
2. Gizi yang cukup yaitu memenuhi kebutuhan dengan cukup karbohidrat, protein dan vitamin.
Hasil : ibu bersediah melakukannya
3. Istirahat dan tidur yang cukup
Hasil : ibu mengerti
Memberi albotyl disekitar portio
Hasil : sudah diberikan albotyl
c. Melakukan penatalaksanaan pemberian obat
Hasil : diberikan obat : - Lyncopar 3x1 mg
- Ferofort 1 x 1 mg
- Mefinal 3 x 1 mg
d. Menganjurkan ibu untuk datang kembali untuk kontrol AKDR atau kapan saja setiap ada keluhan
Hasil : ibu bersedia datang terutama ada keluhan











BAB IV

PENUTUP
A. Kesimpulan
• Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan siklus haid.
• Beberapa penyebab perdarahan di luar haid antara lain yaitu : polip serviks, erosi porsio, ulkus porsio, trauma, dan polip endometrium.
• Penanganan dari perdarahan di luar haid tergantung dari penyebabnya
B. Saran
• Bagi para mahasiswa agar banyak membaca dan terus belajar agar dapat member asuhan kebidanan yang tepat dlam menangani klien di lahan praktek
• Bagi dosen, agar dalam pemberian tugas mohon diberikan gambaran utamanya tentang penjelasan yang ada di silabus, karena terkadang materinya sangat sulit untuk dicari.







DAFTAR PUSTAKA

Amir Amri. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Kedua. 1995. Medan : Ramadhan.
Manuaba, Ida bagus.2004.Kepaniteraan Klinik Obstetri dan Gynekologi edisi II .Jakarta;EGC.
Wiknjosastro, Hanifa.2005. Ilmu kandungan.Jakarta :yayasan bina pustaka sarwono prawirihardjo.
Sylvia A.Drice.Lorraine M Wilson.2005.Patofisiologi Volume II.Konsep Klinis Proses Proses Penyakit.Jakarta ;EGC.

Tiran, Denise.2005.Kamus Saku Bidan.Jakarta :EGC.


http://leynamuja.blogspot.com/2010/04/gangguan-dan-masalah-haid-dalam-sistem.html diakses tanggal 20 november 2010


http://www.scribd.com/doc/41392558/MAKALAH-ULKUS-PORSIO diakses tanggal 21 november 2010


http://www.drdidispog.com/2008/07/polyp-cervix-polip-serviks.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar