Senin, 03 Oktober 2011

KTI PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG SENAM HAMIL

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL

TENTANG SENAM HAMIL DI BPS INDUN DJUHARIJAH

DESA TAPANREJO KECAMATAN MUNCAR

BANYUWANGI



BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tingginya angka kematian ibu (AKI) menempatkan Indonesia pada urutan teratas di Asean. Departemen Kesehatan menyebutkan angka kematian ibu di Indonesia mencapai 334/100.000 kelahiran hidup. Penyebab langsung kematian ibu yaitu 28% karena perdarahan, eklamsia 24%, komplikasi puerperium 8%, abortus 5%, partus eklamsia 24%, trauma obstetrik 3%, lain-lain 11%. (Mengatasi Keluhan Hamil, 2008)

Menurut Hartati Fauzi Bowo, kematian ibu dapat dicegah hingga 22% yaitu melalui Ante Natal Care (ANC) yang teratur, mendeteksi dini adanya komplikasi dalam kehamilan, hidup secara sehat dengan pemenuhan gizi yang seimbang, pelaksanaan inisiasi menyusui dini dalam persalinan, serta pelaksanaan senam hamil secara teratur. (H. Fauzi Bowo, Menurunkan Angka Kematian Ibu, 2008).

Senam hamil adalah senam yang dilakukan pada masa kehamilan dengan tujuan untuk mempersiapkan fisik dan mental ibu hamil, dengan harapan proses kelahiran akan berjalan lancar dan aman. Latihan senam hamil yang dilakukan secara teratur baik ditempat latihan maupun di rumah dalam waktu senggang dapat menuntun ibu hamil ke arah persalinan yang fisiologis selama tidak ada keadaan patologis yang menyertai kehamilan. Ibu hamil yang melakukan senam hamil secara teratur selama masa kehamilannya dilaporkan dapat memberikan keuntungan pada saat persalinan yaitu pada masa kala aktif (kala II) menjadi lebih pendek, mencegah terjadinya letak sungsang dan mengurangi terjadinya insinden sectio caesaria. (Harian Suara Merdeka, 2008)

Jumlah ibu hamil yang yang ada di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2008 sebanyak 23.169 orang yang terbagi dari 45 puskesmas. Dari jumlah ibu hamil tersebut hanya 2.475 orang yang aktif melakukan senam hamil sesuai jadwal yang dianjurkan. (Dinkes,banyuwangikab,2007)

Jumlah ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Tapanrejo pada tahun 2008 sebanyak 295 orang, dari jumlah data tersebut sebanyak 58 orang yang melakukan senam hamil secara rutin sesuai jadwal. (Data Puskesmas Tapanrejo, 2008)

Dengan adanya data di atas, pengetahuan tentang senam hamil sangatlah kurang, jadi peneliti ingin mengetahui bagaimana gambaran pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Djuharijah Desa Tapanrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Djuharijah Desa Tapanrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2009?

C. Tujuan Penelitian

Mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang senam hamil di BPS Indun Djuharijah di desa Tapanrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2009.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Praktisi

Dapat memberikan masukan yang berarti bagi ibu hamil dalam meningkatkan pengetahuan tentang senam hamil khususnya melalui perspektif motivasi.

2. Manfaat Teoritis

Dapat memperkaya konsep atau teori yang menyokong perkembangan ilmu pengetahuan kebidanan, khususnya yang terkait dengan pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil.

3. Manfaat Diri Sendiri

Memperdalam pengetahuan dan meningkatkan kemampuan peneliti dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh kedalam lingkungan penelitian, serta memberi pengalaman dalam penelitian selanjutnya.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Definisi Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Senam Hamil

a) Pengetahuan

1) Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinganya. Pengetahuan/kognitif merupakan domain yag sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003:121).

Sedangkan menurut Notoadmodjo (2003:267) karena dengan pengalaman seseorang sudah melakukan proses belajar (learning) dapat diartikan sebagai proses untuk menambah pengetahuan, pemahaman keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman atau melakukan studi (proses belajar mengajar).

2) Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif (Notoadmojo. 2003:121-124) dibagai dalam enam tingkat, yaitu:

a) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai penmgingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajariu atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Katakerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebut, menguraikan, mendefinisikan dan menyatakan.

b) Memahami (comperehensif)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh menyimpulkan, meramalkan terhadap obyek yang dipelajari.

c) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya) aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode dan prinsip.

d) Analisis (analysis)

Kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitan satu sama yang lain. Kemampuan analisa dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

e) Sintesis (syntesis)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kelompok untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyelesaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

f) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk justifikasi penilaian terjadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada.

3) Pengukuran Tingkat Pembelajaran

Menurut Notoadmodjo (2003:122) pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin kita ketahui atau pengukuran dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas.

4) Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Ada beberapa faktor yang berpengaruh pengetahuan seseorang:

a) Usia

Usia dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, semakin tua usia seseorang tingkat kemampua dan kematangan seseorang akan lebih tinggi baik dari cara berfikir maupun dalam segi penerimaan informasi.

b) Jenis kelamin

Jenis kelamin dikatakan dapat mempengaruhi pengetahuan, terutama berkaitan dengan perilaku model laki dan perempuan. Individu melakukan modeling sesuai dengan jenis kelaminnya.

c) Tingkat Pendidikan

Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang, makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga lebih banyak pula pengetahuan yang ia dapatkan.

d) Intelegensi

Pada prinsipnya pengetahuan kemampuan penyesuaian diri dan cara-cara pengambilan keputusan individu yang berintelegensi tinggi atau banyak berpartisipasi dan lebih cepat, dan tepat dalam keputusan.

e) Status sosial ekonomi

Status ekonomi berpengaruh terhadap tingkah lakunya, yang beradal dari keluarga mampu atau sosial ekonominya tinggi dimungkinkan memiliki sikap positif memandang masa depan. (Notoatmodjo, 2003).

5) Pengertian Perilaku

Perilaku manusia adalah respon seseorang terhadap rangsangan lain dari subyek dan memiliki dua macam bentuk respon pasif dan aktif. Respon pasif yaitu saat seseorang mendapat respon, respon itu hanya diterima tanpa berusaha memberikan reaksi. Sedangkan respon aktif adalah begitu seseorang mendapat respon langsung memberikan tanggapan respon tersebut.

6) Proses Adopsi Perilaku

Dari pengalaman dan penelitian bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahun akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.

Sebelum orang mengadopsi perilaku baru, didalam dirinya melewati tahap-tahap berikut:

a) Sadar

Seseorang menjadi sadar akan adanya produk baru, tetapi kekurangan informasi mengenainya.

b) Tertarik

Seseorang akan menjadi tertarik untuk mencari informasi mengenai produk baru.

c) Evaluasi

Seseorang harus mempertimbangkan apakah produk baru tersebut masuk akal atau tidak.

d) Mencoba

Dimana seseorang telah mencoba perilaku baru.

e) Adopsi

Seseorang memutuskan secara penuh dan teratur sesuai dengan pengetahuan kesadaran dan sikap terhadap stimulus.

(Adiyono. W, 2008)

b. Konsep Kehamilan

Kehamilan adalah masa mulai terjadinya konsepsi sampai lahirnya bayi. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam tiga triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai enam bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai sembilan bulan.

(Yayasan Bina Pustaka, Sarwono Prawirohardjo, 2006:89)

Kehamilan adalah proses mulai dengan konsepsi atau pembuahan sampai dengan menjelasng proses kehamiulan (obstetri Fisiologi Unpad, 2003).

Proses mulai terjadinya pertemuan sel telur dengan sperma sampai menjelasng keluarnya hasil konsepsi dalam rahim disebut hamil (Prof. Dr. Ida Bagus Gede Manuaba, SPOG, 2003:105).

c. Konsep Senam Kehamilan

Sejak tahun 1972 latihan senam hamil yang disusun secara metodis telah diberikan dirumah sakit Hasan Sadikin sebagai bagian dari pelayanan prenatal care, yang kemudian dilanjutkan dengan latihan-latihan yang dilakukan diberbagai rumah sakit-rumah sakit besar maupun rumah sakit kebupaten yang ada di Indonesia.

1) Pengertian Senam Hamil

Menurut Sitorus (2001) senam hamil merupakan senam yang diberikan kepada ibu hamil bila masa kehamilannya diatas 22 minggu sampai saat akan melahirkan. Dengan tujuan untuk mempersiapkan fisik dan mental ibu hamil dalam menghadapi proses persalinan, dengan harapan proses persalinan yang dihadapi dapat berjalan dengan aman dan lancar. Senam hamil harus secara rutin dilakukan 2 kali dalam satu minggu.

2) Tujuan Senam Hamil

Adapun tujuan dilakukannya latihan senam hamil selama masa kehamilan terutama usia kehamilan 22 minggu keatas adalah sebagai berikut:

a) Memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot-otot dinding perut, otot-otot dasar panggul, ligamen dan jaringan serta fasia yang sangat berperan dalam mekanisme proses.

b) Melonggarkan persendian-persendian yang berhubungan dengan proses persalinan.

c) Membentuk sikap tubuh yang prima, sehingga dapat membantu mengatasi keluhan-keluhan yang dirasakan ibu.

d) Memperoleh cara melakukan kontraksi dan relaksasi yang sempurna.

e) Menguasai tehnik-tehnik pernapasan dalam persalinan.

f) Dapat mengatur diri dalam ketenagaan.

3) Manfaat Senam Hamil

Manfaat senam hamil antara lain sebagai berikut:

a) Dapat membantu dalam metabolisme tubuh selama kehamila, membantu fungsi jantung sehingga para ibu hamil akan merasa lebih sehat dan tidak merasa sesak nafas.

b) Membantu mengendorkan ketegangan dan perasaan cemas.

c) Mencegah terjadinya kelainan telak.

d) Membimbing wanita menuju persalinan yang fisiologis)

(Pedoman Singkat Perawatan Ibu, Bayi dan Balita, 2008)

4) Syarat-syarat mengikuti senam hamil

Sebelum mengikuti senam hamil, ada syarat-syarat yang harus diperhatikan, antara lain:

a) Telah melakukan pemeriksaan kesehatan dan kehamilan oleh dokter atau bidan.

b) Latihan dilakukan setelah kehamilan 22 minggu.

c) Latihan secara teratur.

5) Larangan atau kontra indikasi mengikuti senam hamil

Senam hamil seharusnya dapat dikuti oleh semua wanita hamil yang tanpa komplikasi atau kelaina, adapun wanita hamil yang tidak boleh melakukan senam hamil apabila ibu tersebut mengalami:

a) Seorang ibu hamil tidak mutlak dilarang mengikuri senam hamil apabila pada masa kehamilan terdapat kondisi seperti berikut:

(1) Penyakit jantung

(2) Penyakit paru

(3) Servix inkompeten (servix membuka)

(4) Kehamilan kembar

(5) Riwayat perdarahan pada trimester II dan III

(6) Kelainan letak ari-ari seprti plasenta previa

(7) Preklamsi maupun hipertensi

(8) Riwayat keguguruan

b) Seorang wanita relatif tidak boleh mengikuti senam hamil apabila:

(1) Ibu hamil menderita anemia berat.

(2) Riwayat diabetes melitus

(3) Kegemukan yang sangat hebat (obesitis)

(4) Badan ibu terlalu kurus (BMI di bawah 12)

(5) Penyakit-penyalit dengan riwayat operasi tulang.

(6) Perokok berat

6) Bentuk-bentuk latihan senam hamil

a) Latihan Pendahuluan

(1) Latihan pertama

Duduk tegak bersandar pada kedua lengan, kedua tungkai kaki diluruskan dan dibuka sedikit, seluruh tubuh lemas (relax)

(2) Latihan kedua

Duduk tegak kedua tungkai kaki lurus dan rapat. Letakkan tungkai kanan di atas tungkai kiri, kemudian tekan tungkai kiri dengan seluruh kekutan tungkai kanan, sambil mengempiskan dinding perut sebelah atas simpisis pubis dan mengerutkan liang dubur. Beberapa saat kemudian relax. Lakukan gerakan ini dengan tungkai kiri yang diatas dan lakukan juga sebanyak 8 kali.

(3) Latihan ketiga

Angkat tungkai kiri ke atas dan letakkan kembali. Lakukan gerakan secara berganti-gantian dengan tungkai kanan sebanyak 8 kali.

(4) Latihan keempat

Duduk sila dan tegak. Kedua tangan di atas bahu dan kedua lengan samping mammae. Tekan samping mammae dengan sisi lengan atas. Kemudian putarkan kedua lengan tersebut kedepan, keatas samping telinga belakang dan kembali ke sikap semula. Lakukan gerakan ini sebanyak 8 kali.

(5) Latihan kelima

Berbaring terlentang, kedua lengan disamping badan dan kedua lutut ditekuk. Angkat panggul sampai badan dan kedua tungkai atas membentuk sudut dengan lantai dan ditahan oleh kedua kaki dan bahu turunkan perlahan-lahan dan relax.

(6) Latihan keenam

Berbaring terlentang, kedua lengan disamping badan, tungkai lurus dan relax. Panjangkan tungkai dengan menarik tungkai kiri mendekati bahu kiri dan kembali ke posisi semula, kedua lutut tidak boleh ditekuk, lakukan gerakan ini 2 kali berturut-turut kemudian lakukan gerakan ini sebaliknya pada tungkai kanan, sehingga latihan ini berturut-turut dilakukan sebanyak 8 kali.

Tujuan Pendahuluan:

(1) Menjaga daya kontraksi otot-otot tubuh

(2) Menjajagi luas gerakan persendian

(3) Mengurangi kekakuan-kekauan yang terjadi pada permulaan latihan.

Latihan pendahuluan dilakukan kurang lebih 5 menit.

b) Latihan Inti

Latihan inti pada senam hamil terdiri dari beberapa gerakan, antara lain:

(1) Latihan membentuk sikap tubuh

Latihan membentuk sikap yaitu latihan untuk memperoleh sikap tubuh yang baik.

(2) Latihan kontraksi dan relaksasi

Latihan kontraksi dan relaksasi yaitu latihan untuk memperoleh dan mengatur sikap tubuh yang relax pada saat diperlukan.

(3) Latihan pernafasan

Latihan pernapasan yaitu latihan untuk menguasi berbagai teknik pernapafasan sehingga pada saatnya dapat digunakan sesuai dengan kepentingannya.

Gerakan-gerak diatas dapat dilakukan melalui beberapa gerakan:

(1) Latihan bernafas

Terlentang dilantai atau ranjang yang telah diberi bantal, dengan lutut dibengkokkan serta kaki rata pada lantai. Bernafas pelan-pelan untuk menggeser iga-iga kesamping membuka bentuk seperti huruf V terbalik didepan yang terbentuk oleh iga, kemudian biarkan nafas keluar dengan lembut dan bisa dilakukan dengan mulut tertutup maupun mulut terbuka sebanyak 8 kali.

(2) Latihan kaki

Duduk dikursi dengan kaki disokong diatas bangku sewaktu berbaring.

(a) Bengkokkan dan regangkan pergelangan kaki sebanyak 8 kali.

(b) Bengkokkan dan regangka jari-jari kaki sebanyak 8 kali.

(c) Putar kaki membentuk lingkaran dalam kedua arah 8 kali.

(3) Latihan berjongkok

Berdiri dengan kaki menapak lantai yang sejajar serta terpisah 45 cm serta bergantung dengan sokongan yang kuat. Berjongkok kembali di atas tumit, mulai dengan merotasi lutut kearah luar, latihan berjongkok akan dapat dirasakan manfaatnya pada saat persalinan berlangsung.

(4) Latihan memiringkan panggul

Terlentang atau miring, kerutkan otot perut dan dasar panggul, tahan lalu lepaskan.

(5) Latihan koreksi sikap

Berdiri mantap dengan kaki hampir sejajar serta semua jari kaki ditekan pada lantai bersama berat badan diatas lengkungan kaki, miringkan panggul kearah atas, kembangkan dada dengan pernapasan yang meregangkan iga dan lihat bahwa payudara dibawa kedepan diatas dinding perut. Kemudian angkat kepala kearah langit-langit seolah-olah ia digantung diatas.

Tujuan latihan ini:

(1) Membentuk sikap tubuh yang bak.

(2) Melatih otot-otot panggul untuk kontraksi dan relaksasi.

(3) Melatih pernapasan untuk menghadapi proses persalinan.

c) Latihan Penenangan

(1) Lengan dan tangan

Genggam tangan, kerutkan lengan dengan kuat tahan, lepaskan.

(2) Tungkai dan kaki

Terlentang atau miring, luruskan kaki (dorso fleksi) tahan beberapa detik lepaskan.

(3) Perut dan dasar panggul

Terlentant atau miring, kerutkan otot perut dan dasar panggul, tahan lalu lepaskan.

(4) Seluruh tubuh

Terlentang atau miring, konraksikan atau kencangkan semua otot sambil nafas dada pelan, teratur lalu relaks (bayngkan hal menyenangkan)

Tujuan latihan penenangan

(1) Merileksasikan kembali otot-otot yang sedikit tegang pada latihan inti.

(2) Mengurangi stress.

(3) Memulihkan kembali tenaga yang sedikit hilang pada saat latihan inti. (Adiyono. W, 2008)


B. Kerangka Konseptual









Gambar 2.1: Kerangka konseptual gambaran pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil

= diteliti

= tidak diteliti

(Notoatmodjo, 2003:69)


BAB 3

METODE PENELITIAN

Pada bab ini akan dijabarkan tentang metodologi penelitian yang akan digunakan oleh peneliti yaitu sebagai berikut:

A. Jenis dan Rancang Bangun Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif. Deskriptif adalah pengumpulan informasi mengenai status gejala yang ada yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Penelitian deskriptif tidak dimasukkan untuk menguji hipotesa tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan. (Arikunto, S. 2006:309-310)

Dalam penelitian ini, peneliti bermaksud untuk menggambarkan pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Djuharijah Desa Tapanrejo Kecamatan Muuncar.

B. Variabel

Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda, manusia, dll). (Nursalam, 2003:101).

1. Jenis Variabel

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari satu variabel yaitu gambaran pengetahan ibu hamil tentang senam hamil.

2. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah unsur penelitian yang mengungkapkan bagaimana mangukur suatu variabel.

VARIABEL

DEFINISI OPERASIONAL

KRITERIA

SKALA

Gambaran pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil

Pengetahuan yang dimaksud yaitu sesuatu yang dipahami, dimengerti oleh ibu yang meliputi:

1. Pengertian

2. Tujuan dan manfaat

3. Syarat dan larangan

4. Bentuk-bentuk

5. Pelaksanaan

76 – 10% = baik

56 – 75% = cukup

40 – 45% = kurang

<40% = rendah

(Arikunto, 2006)

Ordinal

Gambar : 3.1. Definisi operasional gambaran pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil.

C. Populasi

Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi dalam penelitian adalah ibu hamil yang ada di desa Tapanrejo, Muncar mulai bulan Juli sampai bulan Agustus 2009 sebanyak 30 orang.

D. Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti, yang dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2003).

Sampel dalam penelitian ini adalah total sample yaitu semua ibu hamil yang ada di desa Tapanrejo yaitu sebanyak 30 orang.

E. Lokasi Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan di BPS Indun Djuharijah desa Tapanrejo Kecamatan Muncar.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian akan dilaksanakan pada tanggal 27 Juli sampai dengan 8 Agustus 2009.

F. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Terdapat dua hal pertama yang mempengaruhi kualitas data hasil penelitian, yaitu: kualitas instrument penelitian dan kualitas pengumpulan data. Kualitas instrument penelitian dan kualitas pengumpulan data berkenaan dengan ketetapan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu instrument yang telah teruji validitas dan reliablilitasnya, belum tentu untuk menghasilkan data yang valid dan reabel, apabila instrument tersebut tidak digunakan secara tepat dalam pengumpulan datanya (Prof. Dr. Sugiyono, 2005:156).

Instrument pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan instrument kuesioner multiple choice yaitu tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahun ibu hamil trimester III terhadap keberhasilan melakukan senam hamil dengan mengedarkan formulir daftar pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada responden untuk mendapatkan jawaban.

G. Teknik Analisis Data

1. Teknik Pengolahan Data

Teknik pengolahan data yang dilakukan yaitu setelah data-data terkumpul dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Persiapan

1) Mengecek nama dan kelengkapan identitas responden.

2) Mengecek kelengkapan data.

3) Mengecek macam isian data (editing)

b. Memberikan tanda kode pada jawaban secara angka untuk mempermudah dalam melakukan tabulasi dan analisa data selanjutnya. Jawaban benar nilainya 1 dan jawaban salah nilaian 0 (Arikunto:2006)

2. Analisa Data

Setelah data terkumpul selanjutnya dianalisa dan disajikan dalam bentuk prosentase.

a. Prosentase

Keterangan:

P = prosentease

x = jawaban benar yang dipilih responden

y = jumlah seluruh pertanyaan dalam kuesioner.

(Nursalam, 2003)

Selanjutnya dimasukkan pada kriteria obyektif sebagai berikut:

76 – 100% = baik

56 – 75% = cukup

40 – 55% = kurang

< style=""> = rendah

(Arikunto, 2006)

b. Penyajian Data

Data disajikan dalam bentuk tekstular dan tabel. Tekstular adalah suatu bentuk penyajian data penelitian dalam bentuk kalimat.

Tabel adalah penyajian hasil penelitian yang sistematik numerik yang tersusun dalam kolom atau jajaran. (Notoatmodjo, 2003:194)

H. Etika Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian ini terlebih dahulu harus mengajukan ijin kepada kepala Puskesmas Tapanrejo, Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi yang dipakai sebagai tempat penelitian. Setelah mendapat persetujuan kemudian dilakukan penelitian dengan menekankan kepada masalah etika yang meliputi:

1. Lembar persetujuan menjadi subyek

Lembar persetujuan menjadi subyek akan diedarkan sebelum penelitian dilakukan pada seluruh subyek yang akan diteliti. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghindari kesalahapahaman dalam dan sesudah dilakukan penelitian. Jika subyek bersedia diteliti, maka subyek harus menandatangani lembar persetujuan. Jika subyek menolak dijadikan responden, maka peneliti tetap menghormati hak-hak subyek.

2. Anominity

Demi terjaga kerahasiaan dan identitas subyek, maka peneliti tidak mencantumkan nama subyek pada lembar kuesionr, hanya saja lembar tersebut diberi kode nomor tertentu.

3. Confidentality (kerahasiaan)

Informasi yang telah dikumpulkan subyek, dijamin kerahasiaannya oleh peneliti.


BAB 4

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pada bab ini dibahas tentang hasil penelitian mengenai gambaran pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Djuharijah desa Tapanrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi.

Berdasarkan judul dan tujuan maka dalam bab ini akan dibahas tentang 2 karakteristik yang meliputi:

1. Data Umum

Data umum yang diperoleh meliputi gambaran lokasi penelitian, umur, pendidikan, pekerjaan, urutan kehamilan dan umur kehamilan ibu hamil yang menjadi responden. Gambaran lokasi penelitian sebagai berikut:

- Luas : Wilayah 172,566 m2

- Ketenagaan : bidan, asisten bidan

- Fasilitas : ruang periksa, ruang bersalin, ruang nifas dan ruang tunggu.

- Jenis Pelayanan : Pelayanan ibu bersalin, pelayanan KB, pelayanan ANC, pelayanan pemeriksaan kesehatan.

Adapun data umum yang diperoleh sebagai berikut:

a. Karakteristik Usia Responden

Tabel 4.1 : Distribusi frekwensi berdasarkan umur ibu hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009

No

Usia

Frekwensi

(f)

Prosentase

(%)

1.

<>

2

6,67

2.

20 – 35 tahun

22

73,33

3.

> 35 tahun

6

20

JUMLAH

30

100

Menunjukkan bahwa umur ibu yang menjadi responden terbanyak adalah 20 – 35 tahun mencapai 73,33%.

b. Karakteristik Tingkat Pendidikan Responden

Tabel 4.2 : Distribusi frekwensi berdasarkan tingkat pendidikan ibu hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009.

No

Pendidikan

Frekwensi

(f)

Prosentase

(%)

1.

SD

7

23,33

2.

SMP

11

36,67

3.

SMA/Sederajat

9

30

4.

Perguruan Tinggi

3

10

JUMLAH

30

100

Menunjukkan bahwa pendidikan ibu hami yang menjadi responden terbanyak adalah lulusan SMA/sederajat yang mencapai 36,67%.

c. Karakteristik Pekerjaan Responden

Tabel 4.3 : Distribusi frekwensi berdasarkan tingkat pekerjaan ibu hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009.

No

Pekerjaan

Frekwensi

(f)

Prosentase

(%)

1.

Tidak bekerja

21

70

2.

Bekerja

9

30

JUMLAH

30

100

Menunjukkan bahwa ibu yang tidak bekerja lebih banyak 70% daripada ibu yang bekerja 30%.

d. Karakteristik Tingkat Paritas Responden

Tabel 4.4 : Distribusi frekwensi berdasarkan paritas ibu hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009.

No

Urutan Kehamilan

Frekwensi

(f)

Prosentase

(%)

1.

Primi

14

46,66

2.

Multi

16

53,34

3.

Grande Multi

0

0

JUMLAH

30

100

Menunjukkan bahwa multi grafida paling banyak yaitu 16 responden atau 53,34%.

e. Karakteristik Umur Kehamilan Responden

Tabel 4.5 : Distribusi frekwensi umur kehamilan ibu hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009.

No

Umur Kehamilan

Frekwensi

(f)

Prosentase

(%)

1.

Trimester I

1

3,34

2.

Trimester II

10

33,64

3.

Trimester III

19

63,33

JUMLAH

30

100

Menunjukkan bahwa usia kehamilan trimester III lebih banyak yaitu 63,33%.

2. Data Khusus

a. Data pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil

Tabel 4.6 : Distribusi pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009.

No

Pengetahuan

Frekwensi

(f)

Prosentase

(%)

1.

Baik

2

6,67

2.

Cukup

13

43,33

3.

Kurang

14

46,67

4.

Rendah

1

3,33

JUMLAH

30

100

Berdasarkan tambel 4.6 di atas dapat diketahui sebanyak 14 responden berpengetahuan kurang (46,67%).

b. Data pengetahuan ibu hamil tentang pengertian senam hamil

Tabel 4.7 : Distribusi pengetahuan ibu hamil tentang pengertian senam hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009.

No

Pengetahuan

Frekwensi

(f)

Prosentase

(%)

1.

Baik

2

6,67

2.

Cukup

6

20

3.

Kurang

17

56,66

4.

Rendah

5

16,67

JUMLAH

30

100

Berdasarkan tambel 4.8 di atas dapat diketahui lebih dari 50% yaitu 17 responden (56,66%) memiliki pengetahuan kurang tentang pengertian senam hamil

c. Data pengetahuan ibu hamil tentang tujuan dan manfaat senam hamil

Tabel 4.8 : Distribusi pengetahuan ibu hamil tentang tujuan dan manfaat senam hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009.

No

Pengetahuan

Frekwensi

(f)

Prosentase

(%)

1.

Baik

1

3,34

2.

Cukup

16

33,33

3.

Kurang

10

33,64

4.

Rendah

3

10

JUMLAH

30

100

Berdasarkan tambel 4.8 di atas dapat diketahui lebih dari 50% yaitu 16 responden (53,33%) memiliki pengetahuan tentang tujuan dan manfaat senam hamil dalam batasan yang cukup.

d. Data pengetahuan ibu hamil tentang syarat dan larangan senam hamil

Tabel 4.9 : Distribusi pengetahuan ibu hamil tentang syarat dan larangan senam hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009.

No

Pengetahuan

Frekwensi

(f)

Prosentase

(%)

1.

Baik

1

3,34

2.

Cukup

7

23,33

3.

Kurang

15

50

4.

Rendah

7

23,33

JUMLAH

30

100

Berdasarkan tambel 4.9 di atas dapat diketahui sebanyak 15 responden (50%) memiliki pengetahuan kurang tentang syarat dan larangan senam hamil.

e. Data pengetahuan ibu hamil tentang bentuk-bentuk senam hamil

Tabel 4.10 : Distribusi pengetahuan ibu hamil tentang bentuk-bentuk senam hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009.

No

Pengetahuan

Frekwensi

(f)

Prosentase

(%)

1.

Baik

4

13,33

2.

Cukup

11

36,67

3.

Kurang

12

40

4.

Rendah

3

10

JUMLAH

30

100

Berdasarkan tabel 4.10 di atas dapat diketahui dari 50% yaitu 12 responden (40%) memiliki pengetahuan krang tentang bentuk-bentuk senam hamil.

f. Data pengetahuan ibu hamil tentang pelaksanaan senam hamil

Tabel 4.11 : Distribusi pengetahuan ibu hamil tentang pelaksanaan senam hamil di BPS Indun Djuharijah tanggal 27 Juli – 8 Agustus 2009.

No

Pengetahuan

Frekwensi

(f)

Prosentase

(%)

1.

Baik

1

3,33

2.

Cukup

6

20

3.

Kurang

12

40

4.

Rendah

11

36,67

JUMLAH

30

100

Berdasarkan tambel 4.11 di atas dapat diketahui sebagian besar memiliki pengetahuan kurang tentang pelaksanaan senam hamil yaiut 12 responden (40%).

B. Pembahasan

1. Pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Juhrijah

Berdasarkan analisa data dan interpretasi data yang didapat bahwa kurang dari 50% ibu hamil berpengetahuan kurang yaitu 14 responden (46,67%).

Hasil analisa ini didukung oleh umur responden, dari data dapat diketahui bahwa sebagai besar responden berumur 20 – 35 tahun yaitu 22 responden (73,33%) dan terdapat 6 responden (20%) yang berumur > 35 tahun. Sedangkan yang berumur < style=""> tahun yaitu 2 responden (6,67%).

Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Jadi semakin banyak umur atau semakin tua seseorang maka akan membuat tidak sedikit seseorang itu malas akan mempelajari sesuatu.

Selain itu, hasil analisisi ini dapat dilatarbelakangi pendidikan yang rendah dan tidak pernah mendapatkan informasi tentang senam hamil dan sama sekali tidak memiliki pengalaman tentang senam hamil. Sebanyak 11 responden (36,67%) berpendiikan SMP, sedangkan ibu hamil yang berpendidikan SMA yaitu 9 responden (30%), sebanyak 7 responden (23,33%) ibu hamil berpendidikan SD dan hanya 3 responden (10%) ibu hamil yang berasal dari Perguruan Tinggi. Pendidikan sangat menunjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan ibu hamil. Hal ini diperkuat oleh Notoatmodjo (2005) bahwa pengalaman adalah sumber pengetahuan.

2. Pengetahuan ibu hamil tentang pengertian senam hamil

Berdasarkan analisa data dan interprestasi yang didapat bahwa lebih dari 50% ibu hamil berpengetahuan kurang yaitu 17 responden (56,66%) kurang dari 50% ibu hamil berpengetahuan kurang yaitu 17 responden (56,66%), kurang dari 50% ibi hamil berpengetahuan cukup yaitu 6 responden (20%), ibu hamil yang berpengetahuan rendah yaitu 5 responden (16,67%) dan hanya 2 responden (6,67%) yang berpengetahuan baik.

Sebagian besar responden kurang bisa memahami tentang pengertian senam hamil dikutip oleh (Notoatmodjo, 2003) hal ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan yang kurang yaitu SMP dan SD disamping itu juga tidak pernah mendapat mendapat informasi.

Lebih dari 50% berpengetahuan kurang itu 17 responden (56,66%). Hal ini dapat dilihat dari jawaban yang salah tentang pengertian senam hamil pada item. Hal ini dapat dilatarbelakangi pendidikan yang tidak pernah mendapatkan informasi tentang senam hamil dan sama sekali tidak memiliki pengalaman tentang senam hamil. Hal ini diperkuat oleh Notoatmodjo (2005) bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan.

3. Pengetahuan ibu hamil tentang tujuan dan manfaat senam hamil

Berdasarkan analisa data dan interpretasi data dapat diketahui bahwa sebagian besar berpengetahuan cukup yaitu 16 responden (53,33%), kurang dari 50% yaitu responden (33,4%) ibu hamil berpengetahuan kurang, 3 responden (10%) berpengetahuan rendah dan hanya 1 responden (3,34%) yang berpengetahuan baik.

Sebagian besar responden berpengetahuan cukup yaitu 16 responden (53,33%). Hal ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan yang cukup yaitu SMP dan SMA, disamping itu juga pernah mendapat informasi tentang perkembangan ibu hamil. Hal ini dapat diperkuat Notoatmodjo (2005) menyatakan bahwa pengalaman merupakan guru yang baik yang bermakna bahwa pengalaman itu sumber pengetahuan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.

Berdasarkan uraian diatas, semakin tinggi pendidikan maka semakin baik pula dalam mengaplikasikan materi dalam perkembangan kehamilannya yang diperoleh. Respoden yang berpendidikan tinggi akan lebih baik dalam keaktifan membawa kehamilannya kedalam proses persalinan yang fisiologis dibandingkan dengan responden yang berpendidikan rendah dan tidak pernah mendapatkan informasi.

Meskipun ada responden yang tidak mempunyai pengalaman dalam senam hamil namun berpendidikan tinggi dan pernah mendapat informasi akan membentuk pengetahuan ang baik. Hal ini dimungkinkan karena memahami informasi tentang perkembangan kehamilan yang diperoleh, menurut Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa memahami yaitu suatu kemampuan untuk menjelaskan atau mengintegrasikan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapt diinterprestasikan dengan benar.

4. Pengetahuan ibu hamil tentang syarat dan larangan senam hamil

Berdasarkan analisa data dan interpretasi data dapat diketahui bahwa sebanyak 50% dari responden berpengetahuan kurang, 7 responden (23,33%) berpengetahuan baik, 7 responden (23,33%) berpengetahuan rendah, dan hanya 1 responden (3,34%) berpengetahuan baik.

Sebanyak 50% responden berpengetahuan kurang. Hal ini dapat dilihat dari paritas responden yaitu sebanyak 16 responden (53,34%) merupakan multi, 14 responden (46,66%) ibu hamil merupakan primi. Ibu hamil dengan kehamilannya yang pertama belum pernah mendapatkan informasi dan tidak memiliki pengetahuan sama sekali tentang senam hamil. Hal ini dapat diperkuat oleh Notoatmodjo (2005) bahwa pengalaman merupakan sumber pengetahuan.

Kurang dari 50% responden berpengetahuan baik yaitu 7 responden (23,33%), meskipin ada responden berlatarbelakang pendidikan hanya SMP, namun pernah mendapat infromasi dari media atau penyuluhan dan mempunyai pengalaman tentang senam hamil. Hal ini disebabkan oleh infromasi yang didapat menurut Notoatmodjo (2005) mengatakan pengalaman merupakan guru yang baik, yang bermakna bahwa pengalaman itu merupakan guru terbaik, yang bermaka bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, dan pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan.

Pendidikan berhubungan dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, ketrampilan dan aspek kelakuan yang lain, dan merupakan proses belajar dan mengajar. Pola kelakuan manusia menurut apa yang diharapkan (Notoatmodjo, 2003).

5. Pengetahuan ibu hamil tentang bentuk-bentuk senam hamil

Berdasarkan analisa data dan interpretasi data dapat diketahui bahwa kurang dari 50% yaitu 12 responden (40%) berpengetahuan kurang. Kurang dari 50% ibu hamil yaitu 11 responden (36,67%) berpengetahuan vukup, sebanyak 4 responden (13,33%) berpengetahuan baik dan sebanyak 3 responedn (10%) berpengetahuan rendah.

Kurang dari 50% berpengetahuan kurang yaitu 12 responden (40%). Hal ini dilihat dari item soal tentang bentuk-bentuk senam hamil. Pencapaian pengetahuan kurang hal ini disebabkan pendidikan yang rendah, sama sekali tidak mempunyai pengalaman dan tidak pernah mendapatkan infromasi. Hal ini diperkuat oleh Notoatmodjo (2003) bahwa pengalaman merupakan guru yang baik untuk memperoleh pengetahuan.

Sebagian besar responden berpengetahuan cukup yaitu 11 responden (36,6750. hal ini dapat dilihat dari latar pendidikan dan mempunyai pengalaman dalam kehamilan, pada umumnya semakin tinggi pendidikan maka akan semakin baik pula pengetahuannya. Pengetahuan itu sendiri merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2003).

Berdasarkan uraian diatas, semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin baik pula dalam mengaplikasikan materi dalam mengaplikasikan materi dalam perkembangan kehamilan yang iperoleh. Responden yang berpendidikan tinggi akan lebih baik dalam keaktifan membawa kehamilannuya dibandingkan dengan responden yang berpendidikan rendah dan tidak pernah mendapatkan informasi.

6. Pengetahuan ibu hamil tentang pelaksanaan senam hamil

Berdasarkan analisa data dan interpretasi data dapat diketahuai bahwa kurang dari 50% yaitu 12 responden (40%) berpengetahuan kurang. Kurang dari 50% ibu hamil yaitu 11 responden (36,67%) berpengetahuan rendah, sebanyak 6 responden (20%) berpengetahuan cukup, dan sebanyak 1 responden (3,34%) berpengetahuan baik.

Sebagian besar responden berpengetahuan kurang yaitu 12 responden (40%). Hal ini dilihat dari jawaban yang benar pada item soal pelaksanaan senam hamil dengan memberikan penyuluhan tentang senam hamil. Hal ini dapat dilihat dari latar belakang pendidikan yang rendah, disamping itu juga ditunjang sebelumnya mereka ada yang pernah mendapatkan informasi tentang pelaksanaan senam hamil.

Kurang dari 50% berpengetahuan rendah yaitu 11 responden (36,67%), pencapaian pengetahuan rendah mungkin disebabkan pendidikan rendah, sama sekali tidak mempunyai pengalaman dan tidak pernah mendapati informasi. Hal ini diperkuat oleh Notoatmodjo (2005) bahwa pengalaman merupakan guru yang baik dan merupakan sumber pengetahuan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.

Sebanyak 6 responden (30%) berpengetahuan cukup. Hal ini dikarenakan informasi mengenai senam hamil pada ibu hamil adalah informasi khusus yang tidak didapat dibangku sekolah atau perguruan tinggi umum kecuali sekolah kesehatan. Adapun informasi mengenai senam hamil biasanya diperoleh melalui penyuluhan kesehatan atau melalui tenaga kesehatan baik di BPS maupun di Posyandu.

Dengan demikian pemberian informasi mengenai senam hamil yang diberikan akan mudah diterima oleh responden ehingga akan semakin termotivasi untuk melakukan stimulasi perkembangan kehamilan pada ibu hamil.


BAB 5

SIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan disajikan hasil kesimpulan dan saran dari penelitian gambaran pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Djuharjiah.

A. Simpulan

Dari hasil penelitian diketahui bahwa pengetahuan ibu hamil tentang senam hamil di BPS Indun Djuharijah desa Tapanrejo Kecamatan Muncar Banyuwangi sebagian besar berpengetahuan kurang yaitu 14 responden (46,67%).

B. Saran

1. Bagi Peneliti

a. Dapat menambah pengetahuan tentang senam hamil.

b. Menerapkan ilmu yang sudah didapat selama di bangku kuliah dan menambah pengalaman dalam penerapan riset, terutama tentang senam hamil.

2. Bagi Tempat Penelitian

Dapat mengetahui tentang senam hamil dan diharapkan lebih aktif dalam memberikan penyuluhan dengan melalui berbagai media seperti leaflet, CD dan lain-lain.

3. Bagi Institusi Kesehatan/Perpustakaan

a. Dapat meningkatkan pelayanan kesehatan pada ibu hamil.

b. Lebih memperbanyak referensi bahan mata kuliah tentang ibu hamil terutama senam hamil.

4. Bagi Masyarakat

Masyarakat mendukung kegiatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan terutama tentang senam hamil.


DAFTAR PUSTAKA




Arikunto, S., (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Mochtar, Rustam, (1998). Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.

Nursalam, (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian. Jakarta: Saleba Medika.

Notoatmodjo, S.,(2003). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.

Sastrawinata, S. (2003). Obstetri Fisiologi. Unpad, Bandung.

Purnomo, W. (2002). Kumpulan Bahan Kuliah.

Prawirohardjo, S. (2006). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Sari, Y. (2008). Pedoman Singkat Perawatan Ibu, Bayi dan Balita.

Sugiyono, (2003). Metode Penelitian Administrasi. Jakarta: Al Fabeta .

Adiyono, W. (2008). Ragam Senam Hamil.

http://www.media-indonesia.com/berita.html.

Andjun, Judi, J. (2003). Mengurangi Rasa Cemas Dengan Senam Hamil. http://www.glorinet.org/wanitahamil.html.

Bascom, (2009). Konsep Perilaku Kesehatan.

http://spaplikom3gtloh.blogspot.com

Fauzi Bowo, H. (2008). Menurunkan Angka Kematian Ibu

http://www.selatan,jakarta.go.id/pkk/index.php

Dinkes,Banyuwangikab.go.if(2007)/resume.html

Mengetasi Keluhan Hamil (2008). http:///www.youtube.com/papuandiary

Tidak ada komentar:

Posting Komentar